Ironi Negara Maritim Indonesia : Sumberdaya Laut Besar, SDM Kurang

RAKYATBERSATU.- Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin menggelar serangkaian acara strategis di akhir tahun 2017. Organisasi alumni dari Kampus Merah yang beranggotakan 1457 orang tersebut menutup tahun 2017 dengan acara Dialog Akhir Tahun bertema Tantangan Pengembangan SDM Kelautan.

Tak hanya itu, sebelumnya, di ruangan yang sama, Ketua ISLA Unhas, Darwis Ismail menandai peluncuran buku pokok-pokok pikiran alumni terkait tema kelautan kontemporer dan tantangannya. Setelah itu dirilis sebuah situs E-commerce ala Kelautan dan Perikanan karya kolaborasi alumni bertempat di Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Kota, 23/12/2017.

Pada rangkaian acara tersebut hadir Kepala Badan Riset Kelautan dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, Zulficar Mochtar, ST, M.Sc, Dr. Muhammad Ilyas, ST, M.Sc Kepala Balai Riset Kelautan di BBPT, Dr. Muhammad Lukman, ST, M.Sc, dosen Fakultas Ilmu Kelautan Unhas sebagai narasumber.

Pada dialog yang dimoderatori oleh Kamaruddin Azis (blogger Kelautan, 89) dibahas beragam dimensi SDM, potensi dan tantangan sumber daya manusia Kelautan Unhas untuk kontributif di masa depan.

Menurut Zulficar Mochtar ada tiga hal yang perlu menjadi fokus pembangunan maritime saat ini yaitu potensi kelautan, ironi pada praktik pengelolaan dan reformasi kebijakan pengelolaan dengan menjadikan Indonesia sebagai poros aritim dunia.

“Saat ini diperlukan perubahan mindset kita semua terhadap tantangan yang ada,” kata Zulficar Mochtar.

Sementara itu menurut Muhammad Ilyas bahwa terdapat sekurangnya lima hal yang perlu mendapat perhatian kita terkait sumber daya manusia.
“Tentang kualitas SDM, ketersediaan dana, adopsi teknologi, manajemen dan metode” kata Ilyas.

Kelimanya perlu kita kaitkan dengan kondisi alumni dan bagaimana Unhas menanganinya. Pada aspek manajemen, Unhas belum mampu mempertemukan keterkaitan atau ‘match’ antara kebutuhan eksternal dan luarannya,” kurang lebih begitu pokok pikirannya.

Dr Lukman mengatakan bahwa meski Unhas, relatif terlambat dalam mengambil posisi di peta pengembangan kelautan nasional namun itu tak menjadi persoalan sebab sejauh ini kontribusi alumni sudah sangat nyata.

Menurut Lukman, bagaimana ke depan, pada tantangan kelautan nasional, peran alumni sangat tergantung pada inisiatif masing-masing, jadi sifatnya ‘people centered’ dan dengan itu, mereka seharusnya bisa mengaplikasikan apa yang dikuasainya untuk mengisi bidang-bidang yang selama ini melekat di isu kelautan dan perikanan.

Pada acara dialogi ini ikut hadir perwakilan dari Pemerintah DKI, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan. Menurut perwakilan dari Pemprov DKI, mereka sangat berharap ada masukan dari sarjana-sarjana Kelautan Unhas terkait kebijakan dan program berkaitan di DKI.

“Salah satunya, isu pengelolaan ruang laut. Kami menunggu masukan dari para alumni, terutama terkait rencana pembangunan Giant Sea Wall yang sedang berproses,” kata Sri, Kepala Bidang di Dinas Kelautan dan Perikanan DKI Jakarta.

Isu ini relative tenggelam ditengah masalah reklamasi teluk Jakarta. Dalam kerangka itu pihak Pemda DKI Jakarta meminta dukungan ISLA-Unhas untuk memberikan masukan obyektif tentang berbagai persoalan pembangunan pesisir Jakarta.(yd/r)