Ketua LPM UNM Berkisah Tentang Rumah adat Sao Mario di Soppeng

Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat  Universitas Negeri Makassar, Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, MT 

RAKYATBERSATU.COM.- Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, MT sekaligus sebagai sang arsitek tunggal rumah adat Sao Mario yang berdiri megah di Kabupaten Soppeng bertutur secara singkat dan mengisahkan terkait dengan Rumah adat Sao Mario di sela-sela kunjungan Supervisi KKN UNM di Kabupaten Soppeng, Senin (14/5/2018).

Menurutnya,  rumah adat yang dibangun 30 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1988 oleh Bapak Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH, MH yakni Rektor Universitas Ekasakti Padang, Sumatera Barat, serta didampingi dengan sentuhan tangan dingin Sang Arsitek Tunggal yakni saya sendiri yang tak lain adalah adik sepupu dari Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH.

Sang Arsitek Tunggal rumah adat Sao Mario, Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, MT ini adalah salah satu dosen terbaik yang dimiliki oleh Universitas Negeri Makassar. Beliau adalah Dosen Teknik Sipil dan Perencanaan bidang Arsitektur Fakultas Teknik UNM dan saat ini diberi amanah oleh bapak Rektor sebagai Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat UNM.

Rumah Adat Sao Mario (Ist)

“Kawasan rumah adat Sao Mario ini berdiri kokoh di atas tanah dengan luas sekitar 12 Hektar yang terdiri dari 4 etnis masing-masing : (1) Rumah adat Bugis diberi nama “SAO MARIO” (2) Rumah adat Mandar dengan nama “BOYANG MARIO” (3) Rumah adat Makassar “BALLA MARIO” (4) Rumah adat Toraja “TONGKONAN MARIO” dan Rumah Lontar dengan nama “LONTARA MARIO”. Ungkap Bakhrani A. Rauf.

Sesungguhnya Arti dari SAO MARIO itu sendiri adalah :

SAO artinya RUMAH sedangkan, MARIO artinya Gembira
Namun pun demikian, bukan berarti dipakai untuk bergembira saja dalam konteks yang lebih sempit, tetapi dalam konteks yang lebih luas, juga dipakai untuk Bersenang-senang.

“Kemegahan rumah adat Sao Mario ini disangga dan disokong oleh tiang yang jumlahnya 138 tiang dengan panjang rumah 100 meter, yang tentu saja kurang lebih sama panjangnya sebuah lapangan sepakbola,”urai mantan Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik UNM tersebut.

Ketua LPM UNM ini juga mengemukakan bahwa jenis kayu yang digunakan untuk tiang dan rangkanya, juga tak kalah menariknya dan tentu memiliki kualitas terbaik oleh karena semuanya dari kayu ulin atau lebih familiar dikenal dengan kayu besi, dinding dan lantai dari kayu bayam serta plafon menggunakan kayu bayam.

“Jadi tidak hanya itu, rumah adat kebanggaan masyarakat Sulsel ini terdiri atas 4 pilar didepan dengan diameter 50 cm dan semuanya menggunakan kayu hitam atau aju bolong
Kita semua juga perlu memahami bahwa rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga, juga difungsikan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka dari berbagai Propinsi se Indonesia,”tegas Bakhrani A. Rauf.

Bahkan saat ini, Kawasan rumah adat Sao Mario menjadi salah satu Destinasi wisata Sulawesi – Selatan dengan menyuguhkan warna tersendiri dalam dunia pariwisata Sulawesi Selatan, terkhusus di Kabupaten Soppeng. (Wahyudin)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of