Lontara Dalam Gelar Boneka Bugis Makassar, Dihari Kemerdekaan RI ke 72

Daeng Manda (Sang Maestro ) Saat sedang menjelaskan filosofi dibalik karyanya dari daun Lontara

RAKYATBERSATU.- Makassar, 19 Agustus 2017. Suasana sore itu tampak hening , ini merupakan pemandangan yang biasa ditemui di rumah Daeng Manda, yang beralamat dijalan Sultan Alauddin tepat di sisi kanan masjid Al Abrar, seperti aktivitas kesehariannya membuat anyaman boneka dari daun lontar, saat itu Daeng Manda juga masih tengah sibuk menyelesaikan beberapa boneka yang dipesan oleh salah satu Foundation di Jogyakarta, itulah sekelumit aktivitas sosok Daeng Manda sang Maestro Seni asal Sulawesi Selatan.

Ditemani dengan cucunya  Daeng Manda bercerita tentang banyak hal mengenai aktivitasnya didunia tari dan membuat boneka dari daun lontar di rumahnya, diusianya yang sudah memasuki usia 85 tahun, dirinya cukup cekatan merangkai anyaman anyaman daun lontar mejadi satuan bentuk boneka tarian khas Bugis Makassar. Pria yang lebih akrab disapa nenek manda oleh masyarakat setempat ini, sore itu bercerita tentang  pembuatan boneke tarian bugis Makassar dengan daun lontara bukan tanpa sebab hal ini di karenakan selain sebagai pohon yang merupakan identitas kejayaan  kerajaan Gowa dimasa lalu, daun pohon lontara juga sangat kuat dan bisa bertahan lama untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan boneka, dimana boneka boneka dari daun lontara ini kemudian dihiasi dengan menggunakan pakaian khas bugis Makassar berdasarkan strata sosial dalam tatanan kerajaan Gowa.

Tim KN Instutute berfoto bersama Daeng Manda ( Tengah membawa tongkat ) sesaat setelah pengambilan Gambar di Desa Sapanang Jeneponto

Seperti misalnya ada boneka tarian dengan menggunakan baju berwarna hijau, artinya si penari ini adalah anak tutu, anak tutu disini adalah seorang dari keturunan Raja Bapaknya dan Raja pula ibunya, sedangkan untuk boneka dengan pakaian berwarna merah sebagai tanda bahwa sang penari ini dari keturunan yang tinggi derajatnya, apakah ayah yang tinggi derajatnya atau dari pihak ibu yang tinggi derajatnya.  Dirinya juga mengungkapkan bahwa pembuatan Boneka tarian Bugis Makassar ini bukan untuk dijual tetapi untuk bahan edukasi tentang nilai nilai kesenian yang ia ciptakan, Daeng Manda merasa khawatir jika kelak dirinya meninggal sudah tidak ada lagi warisan yang bisa ia berikan kepada generasi berikutnya, dari hal tersebutlah karya Boneka daun lontar ini tercipta, yang nantinya akan dijadikan sebagai peninggalan kepada  masyarakat  untuk dapat memahami  karya karya yang telah Ia ciptakan.

Salah satu pengalaman menarik yang ia ceritakan adalah saat mengunjungi Istana Negara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno untuk mementaskan tari Pakkarena, pengalaman yang tidak terlupakan lainnya adalah saat harus mencicipi kue cucur Bayao terlebih dahulu sebelum diberikan kepada Ibu Tien Soeharto ( Istri Presiden kedua Republik Indonesia ) di Pavilium Sulsel di Taman Mini Indonesia Indah ( TMII), Jakarta. Para Ajudan khawatir pada kue ini siapa tahu menurut mereka  ada racunnya, makanya saya diminta untuk merasakan duluan, tentu saja tidak ada racunnya, justru kue cucur Bayao ini enak ungkapnya sembari tertawa.

Berbagai karya dan prestasi  sudah  banyak di raih oleh Daeng Manda, dimana salah satunya Ia pernah membuat boneka dari daun lontar yang mewakili lima suku di Sulsel untuk dihadiahkan kepada Ratu Inggris, Ratu Elizabeth. Bukan hanya sampai disitu berbagai pementasanpun sudah dihadirinya, baik ditingkat Nasional maupun dikancah Internasional, dan ditahun 2010 Pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan gelar Maestro Seni  Tradisi Indonesia kepada Daeng Manda berdasarkan keputusan Mentri kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, yang saat itu dipegang oleh Bapak Jero Wacik .

Daeng Manda juga menjelaskan bahwa tarian harus sejalan dengan sastra. Setiap tarian, tutur Daeng Manda mengandung nilai-nilai spiritual dan religius sebagai pedoman hidup manusia. Seperti  sastra Makassar yang didengungkan sebelum memulai tari Se’re Jagad ni Gandang yang ia tuturkan “Bentengko ri kana tojeng (berdirilah pada kata-kata yang benar), Jappako ri kalambuseng( berjalanlah di jalan yang lurus), tea’ko angalle passaso (jangan kau mengambil sogokan), ammakkala’ki to’mabutayya(buatlah dunia tersenyum padamu).

“Karya beliau sangat unik hal ini dapat dilihat dari cara beliau berkarya, dimana semua inspirasinya diambil dari dalam dirinya sendiri sebagai seniman, misalnya untuk menciptakan sebuah gerakan tarian, kadang kadang dia mengambil konsep gerakan itu dari dalam mimpinya, drinya juga berharap kepada daeng Manda diusianya yang sudah senja saat ini untuk tetap senantiasa sehat selalu dan tetap semangat mewariskan karya budaya untuk generasi muda di Indonesia,” kata Hj. Nurlia Nurdin S.Pd anak dari Daeng Manda yang juga pengajar seni disalah satu sekolah diwilayah Kabupaten Gowa

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Muhammad Kemal Machmud Chairman KN Institute, sebuah foundation asal Jogjakarta yang fokus pada pengembangan dunia kreatif, kebudayaan dan Agribisnis, dalam keterangan media dirinya. “Kami sengaja datang ke Makassar tepat dihari kemerdekaan Indonesia ini, untuk bisa mengenal sosok  luar biasa Bapak Manda,menurut saya dia juga adalah sosok Pahlawan pejuang kesenian, sebagaimana kita tahu beliau sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengharumkan nama Indonesia khususnya daerah Sulawesi Selatan lewat karya karya tarinya baik di Tingkat Nasional maupun dikancah Internasional,”kata Muhammad Kemal Machmud

Kemal juga menambahkan bahwa sosok Daeng Manda adalah pribadi yang sangat luar biasa dan generasi muda wajib mengenal siapa saeng Maestro ini. Olehnya itu dalam beberapa waktu kedepan kami bersama sama daeng Manda sedang menggarap pembuatan film documenter tentang karya boneka lontaranya serta pembuatan buku yang akan mengulas karya karya beliau.(yd/r)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of