Mega Proyek Kereta Api Sulawesi Butuh Lahan 726,24 Ha

ilustrasi (ist)
ilustrasi (ist)

Pembangunan jalur kereta api trans Sulawesi tahap awal yang melewati lima kabupaten dan kota butuhkan lahan sekitar 726,24 ha.Untuk Makassar (28,24 ha), Maros (123 ha), Pangkep (245,65 ha), Barru (330,2 ha) dan Parepare (68,24 ha). Dan biaya pembangunannya diperkirakan  mencapai Rp 8 miliar. Dana ini  dialokasikan untu pemasangan rel, pembangunan jembatan, stasiun, depo, gerbong serta peralatan komunkasi dan pembebasan lahan. Khusus pembebasan lahan, setelah dihitung-hitung mencapai Rp 1 triliun lebih.

Apakah pembangunan jalur kereta api trans Sulawesi akan menggandeng investor ? Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Sulsel, Masykur A. Sulthan  enggan berkomentar banyak tentang ini. Menurutnya soal siapa investor yang akan digandeng menjadi urusan pusat.  Namun seperti yang diberitakan di Sindonews. Com, kalau Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pernah menawarkan kepada salah satu  perusahaan besar Ciputra Group guna mempercepat proses realisasi pembangunan infrastruktur diwilayah ini.

Pembangunan jalur kereta api trans Sulawesi ini dananya bersumber dari pemerintah pusat. Tapi khusus untuk untuk pembebasan lahan yang luasnya mencapai 726,45 ha itu ditanggung bersama pemerintah Provinsi Sulsel dan pemerintah, namun di buka peluang bagi swasta untuk membiayai proyek ini.

Perencanaan pembangunan kereta api trans Sulawesi dari Makassar-Parepare-Gorontalo panjangnya kurang lebih 2.000 km, direncanakan sudah akan rampung pembangunannya  pada 2030. Jika pembangunannya sudah rampung maka seluruh pulau Sulawesi sudah dilalui kereta api. Tapi bisa saja  pembangunan ini bisa rampung lebih awal dari jadwal perencanaan.

Masykur Sulthan mengatakan, semua ini bertujuan untuk percepatan ekonomi kawasan  Timur Indonesia. Jadi selain transportasi massal juga menjadi  angkutan barang. Kecepatan kereta api mencapai 160 km per jam. Jadi perjalanan Makassar – Parepare bisa saja ditempuh hanya dalam jangka waktu sejam saja. Maka ini menjadi angkutan massal  yang sangat menarik, dimana selama ini perjalanan Makassar-Parepare kadang-kadang ditempuh antara dua jam sampai tiga jam. Tapi lewat jalur kereta api hanya sampai satu jam saja.

Sementara itu, Ketua DPR Provinsi Sulsel, H Moh. Roem, yang ditemuai di ruang kerjanya belum lama ini mengatakan, sampai saat ini belum mengetahui perkembangan rencana pembangunan angkutan massal trans Sulawesi Makassar-Parepa “Belum ada pengajuan terkait alokasi anggaran pembangunan jalur kereta api. Kita belum pernah bahas di dewan “ujarnya.

Tapi mantan bupati Sinjai ini mengatakan,  untuk pembangunan kereta api  yang tahap awal direncanakan Makassar – Parepare dibutuhkan studi kelayakan.” Kita harus melihat dulu studi kelayakannya utamanya dari sisi ekonominya. Apakah sudah dihitung dari sisi ekonominya jika itu menjadi angkutan massal, maupun angkutan barang. “Andaikan dia disuruh memilih  maka saya lebih prioritaskan  pembangunan  Mamminasata, jika itu alasan untuk mengurai kemacetan,” tuturnya.

Pembangunan Mamminasata, menurut Moh. Roem, dapat mengurai kemacetan yang terjadi di Makassar yang hampir setiap hari warga Makassar merasakan kemacetan tersebut. Juga dapat memperbaiki tata ruang dalam kota, dan dapat lebih mempercepat pembangunan kawasan. Walaupun demikian, Roem mendukung pembangunan trans Sulawesi Makassar –  Parepare.  “Tidak mungkin bisa berharap dana APBD Provinsi, sebab biaya untuk pembangunan kereta api ini dananya cukup besar, mencapai Rp8 triliun,” sebutnya. (nas)   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *