Sulsel Pernah Menjadi Lumbung Ternak

Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir H Abdul Azis, MM memberikan materi di pertemuan forum organisasi perangkat daerah kabupaten kota se Sulsel, Kamis (8/3/2018)-nasrullah-

RAKYATBERSATU.COM- Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir H Abdul Azis, MM, mengatakan, di era tahun 1980-an Sulsel pernah dikenal sebagai provinsi lumbung ternak (sapi, kerbau dan kuda). Namun posisinya sebagai provinsi lumbung ternak mulai terancam.

Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor, diantaranya pemotongan sapi betina produktif masih relatif tinggi di masyarakat terutama di rumah potong hewan, masih tingginya kasus hewan menular, seperti antrax dan penyakit menular lainnya, angka kelahiran ternak juga rendah dan penjualan sapi antar pulau juga masih sangat tinggi.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Abdul Azis mengatakan ini dalam pertemuan forum organisasi perangkat daerah se Sulsel, di Hotel Golden Tulip Makassar, Kamis (8/3/2018).

Karenanya Abdul Azis berharap dalam forum organisasi perangkat daerah yang dilaksanakan, bisa melahirkan sebuah program strategis untuk pengembangan peternakan. Termasuk strategi pencegahan maupun pengendalian pemotongan sapi betina produktif dan penanggulangan penyakit hewan menular ini bisa dicegah.

“Sekarang ini kita sudah punya perda pelarangan pemotongan sapi betina produktif, kerjasama pihak kepolisian, berharap dengan perda ini dapat memanimalisir pemotongan sapi betina yang produktif atau yang sudah bunting,”tandas Abdul Azis seraya berharap Sulsel bisa kembali menjadi lumbung ternak seperti di era tahun 80-an.

Terkait dengan masih tingginya pemotongan sapi bunting di rumah potong hewan yang diprakirakan mencapai 80 persen itu, menurut Prof Tobang (tim ahli bidang peternakan), bahwa dari 7 ekor sapi produktif yang dipotong setiap hari di rumah potong hewan 5 ekor diantaranya adalah sapi bunting.

“Artinya jika sapi betina produktif ini tidak dipotong, maka dalam setahun kita akan mendapatkan tambahan 1 juta ekor anak sapi yang lahir. Masalahnya sekarang siapa yang punya modal untuk membeli sapi bunting tersebut,”Tanya Tobang.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir H Abdul Azis, telah menargetkan pancapaian pupulasi ternak (sapi, kerbau) sampai 2 juta ekor di Sulsel, namun yang dicapai 1,5 juta ekor. Namun produksi sudah mencapai 2,6 juta ekor, sudah termasuk populasi ternak yang ada di Sulsel, yang di jual keluar maupun yang di potong.

Kadis juga berharap kepada Bappeda seluruh kabupaten kota se Sulsel untuk melakukan sosialisasi penggunaan dana desa untuk pengembangan komoditi unggulan di desa.(nasrullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *