Sulsel Target Program Ekstensifikasi Pergaraman Nasional

Rapat Koordinasi Bidang Kemaritiman RI di Clarion Hotel, Selasa 8 November 2017.-foto nasrullah-

RAKYATBERSATU.-Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman RI dalam rapat koordinasi identifikasi potensi lahan program ekstensifikasi pembangunan dan pengembangan komoditas pergaraman nasional, Selasa 8 November 2017 di Hotel Clarion, Sulsel telah menjadi salah satu target dari program tersebut.

Di Sulsel terdapat empat kebupaten yang paling berpotensi pembangunan dan pengembangan program ekstensifikasi komoditas pergaraman, yaitu Kabupaten Jeneponto dengan luas 591,56 ha, Kabupaten Takalar 136,95 ha, Kabupaten Pangkep  kurang lebih 100 ha dan Selayar sekitar 22 ha lebih.

Melalui program ekstensifikasi usaha pergaraman oleh Kemenko Bidang Kemaritiman, mengidentifikasi lahan potensial yang belum dikelola. Dan  lahan yang sudah ada tetap dikelola untuk lebih ditingkatkan produksinya.

Dalam rapat koordinasi, terungkap bahwa  untuk meningkatkan produktivitas usaha pergaraman perlu ada upaya mengatur lahan agar dapat memproduksi garam yang lebih meningkat. Dan untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam perlu menjaga kualitas air lokasi pergaraman.

Salah satunya ketika air laut surut tambak pergaraman pasti kesulitan mendapatkan air laut. Dan kalau ini terjadi maka produksi maupun kualitas garam yang dihasilkan rendah.

Karenanya, Dr Ir Ophir Sumule dari Kemenristekdikti, menyarankan, perlunya ada semacam tempat penampungan air laut dikala pasang sebagai solusi dalam mengantisipasi penyediaan air laut ketika air laut menjadi surut di tambak pergaraman.

Imam Paryanto dari BPPT  dalam rapat koordinasi menyampaikan  kondisi garam nasional dan permasalahannya. Umumnya produksi garam kita secara nasional rentang terganggu oleh cuaca (hujan) mengakibatkan kualitas garam yang dihasilkan rendah.

Permasalahan berikutnya adalah, lahan pegaraman (petani)  yang tidak luas (tidak terintegrasi),  system pemanenan garam yang sederhana, pengolahan garam krosok yang tidak  terintegrasi, penyimpanan garam yang sederhana, serta spesifikasi dan standar garam nasional  masih rancu.

Dalam rangka penerapan lahan yang terintegrasi dan pembangunan pabrik pengolahan garam, Kemenko Bidang Kemaritiman, Pertama, melakukan ekspansi lahan baru di NTB,NTT dan Sulawesi Selatan dengan target produksi garam industry dan stock garam nasional. Yakni produksi garam industry  dibutuhkan kurang lebih 5.000 ha di Teluk Kupang menghasilkan garam sebesar 500 ribu ton per tahun. Dan untuk menutupi impor garam industry dibutuhkan lahan garam baru 15.000 ha untuk produksi 1,5 juta ton garam per tahun.

Kedua melakukan revitalisasi lahan eksisting seperti di Aceh, Jabar, Jateng, Jatim, dan Madura.  Target produksi garam konsumsi dan stok garam nasional meningkat menjadi 100 sampai dengan 125 ton per ha, produksi garam rakyat meningkat  menjadi 2,7 sampai 3 juta ton (kenaikan minimum 500 ribu ton/tahun), perkiraan investasi perlu dihitung sesuai dengan kondisi lahan eksisting serta iodisasi garam.

Hadir dalam rapat koordinasi identifikasi potensi lahan program ekstensifikasi pergaraman nasional adalah Asdep Sumber Daya Mineral Energi dan Non  Konvensional, Amalyos Chan,  Imam Paryanto Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Staf Ahli Menko Maritim Bidang Ekonomi Maritim, Dr Ir Sugeng Santoso, MT, Dr Ir Ophir Sumule, DEA dari Kemenristekdikti serta yang lainnya.(nasrullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *