Globalisasi Pendidikan Tinggi Ancaman Sekaligus Peluang Bagi PerguruanTinggi

RAKYATBERSATU.COM.-Globalisasi Pendidikan Tinggi saat ini telah menjadi ancaman sekaligus peluang bagi perguruan tinggi di era sekarang ini. Untuk bisa bersaing, diperlukan kesiapan yang matang dari perguruan tinggi untuk menghadapinya.

Pembahasan tersebut diatas dibahas dalam diskusi panel tentang Globalisasi Pendidikan Tinggi. Diskusi ini mengambil tema Kupas Tuntas Kesiapan PerguruanTinggi di Sulsel Menghadapi Perguruan Tinggi Asing di di Gedung DPRD Sulsel, Rabu (14/2/2018)

Diskusi ini diselenggarakan mahasiswa Program Pasca sarjana S3 Manajemen UMI kerjasama dengan anggota DPR RI dari Komisi Pendidikan Tinggi), Dr H Andi Jamarro Dulung, M.Si

Ketua Panitia diskusi panel yang sekaligus mahasiswa Program Pasacasarjana SE Manajemen UMI, Andi Nurhidayati Zainuddin, S.Sos, SE,M.Si, mengatakan, ada beberapa nasumber dalam diskusi ini, yakni Koordinator Kopertis IX Sulawesi, Prof Dr Jasruddin, M.Si, Anggota Majelis Akreditasi BAN-PT, Prof Dr H Mansyur Ramly, SE,M.Si, Anggpta DPR RI, Dr H Andi Jamarro Dulung, M.Sidan Prof Dr H Basri Modding, SE,M.Si (Direktur Pascasarjana UMI Makassar).

Andi Nurhidayati Zainuddin, mengatakan, diskusi ini untuk menyamakan persepsi menghadapi masuknya perguruan tinggi asing ini ke Indonesia, khususnya di Sulsel.

“Kebijakan masing – masing peguruan tinggi di Sulsel inikan beda-beda masalahnya, makanya pimpinan peguruan tinggi diundang dalam diskusi ini untuk menyamakan persepsi dan paling banyak dikeluhkan para pimpinan perguruan tinggi perlunya perubahan regulasi soal pendidikan tinggi. Regulasi menurutnya harus mengandung unsur-unsur keadilan,”tandas anggota DPRD Provinsi Sulsel dari PPP.

Menurut Prof Masyur Ramly, globalisasi pendidikan tinggi bias menjadi ancaman bagi perguruan tinggi yang sudah matang, dan menjadi peluang bagi perguan tinggi yang levelnya menengah kebawah.

Dikatakan, jika nanti perguruan tinggi ternama masuk ke Indonesia dengan menawarkan sejumlah program studi yang lebih berkualitas dan mudah dijangkau, maka sudah pasti anak-anak Indonesia pasti memburu perguruan tinggi asing. Dan bagi mahasiswa yang kurang mampu boleh jadi hanya mencari perguruan tinggi level menengah kebawah yang pembayarannya bias lebihmurah.

Meskipun demikian kerjasama penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi Asing ini terbuka namun syaratnya tidak mudah. Minimal perguruan tinggi tersebut terakreditasi A. Dan di Indonesia ini sebut Prof Ramly, baru 66 PTN/PTS yang terakreditasi A. Khusus di Sulsel baru Unhas dan UNM yang terakreditasi A.

Sementara prodi yang terakreditasi A baru sekitar 2.825 prodi dari 22 ribu prodi yang ada. Dan khusus di Sulsel baru Unhas dan UNM dan baru 111 prodi yang terakreditasi A. “Perguruan Tinggi yang terakreditasi A ini yang paling berpeluang untuk melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri,”tandas Mansyur Ramly.

Sementara itu Koordinator Kopertis IX, Sulawesi, Prof Dr Jasruddin, M.Si, mengatakan, perguruan tinggi tidak perlu khawatir dengan era globalisasi pendidikan tinggi saat ini. Yang harus dikerjakan oleh masing-masing perguruan tinggi adalah terus melakukan inovasi-inovasi baru.Karenanya kalau ada perguruan tinggi yang membuka prodi baru sebaiknya prodi yang bias langsung ke sasaran. Seperti mau membuka prodi kesehatan.Langsung saja kesehatan apa, prodi pertanian tentang apa dan sebagainya.

“Jangan lagi membuka program studi yang jangkauannya terlalu luas, tetapi prodi yang betul-betul sangat spesifik,”ujar Prof Jas.
Lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan spesifik tidak perlu khawatir alumninya ditolak kerja di Indonesia. Kalau tidak dapat kerja di di Indonesia peluang di luar negeri sangat terbuka, dan gajinya pun berlipat-lipat dibandingkan gaji yang didapatkan di Indonesia.

Dan yang terpenting kata mantan Direktur PPs UNM ini, alumni tidak hanya bermodalkan ijazah, tetapi dia juga bias memiliki keahlian atau sofl skill.

Dikatakan sekarang ini ini banyak alumni perguruan tinggi yang buta hurup karena melek teknologi dan tidak mengetahui satu bahasa asing.

“Jadi sekarang ini kemampuan yang dimiliki harus ditopang dengan sofl skill dan kurikulum yang banyak teorinya minta dikurangi,”kunci Prof Jasruddin.(nas/rb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *