Tim Asesor BAN-PT Visitasi Akreditasi Prodi S1 Hukum Ekonomi Syariah Unismuh

Tim Asesor BAN-PT, Asep Saepudin Jahar, Ph.D saat berada di ruang perpustkaan digital Unismuh Makassar, Selasa, 13 Mei 2019.-foto nasrullah-

RAKYATBERSATU.COM. – Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yakni Asep Saepudin Jahar, Ph.D ( Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) dan Dr Erina Pane, SH, M.Hum ( Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung) melakukan visitasi akreditasi Prodi S1 Hukum Ekonomi Syariah Unismuh Makassar, Selasa, 14 Mei 2019.

Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) adalah salah satu dari lima prodi yang dibina Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar. Dekan Fakultas Agama Islam Unismuh Drs H Mawardi Pewangi berharap Prodi Muamalah ini setelah divisitasi bisa meningkat akreditasinya dari B menjadi A. “Kita berharap nilai akreditasinya bisa meningkat,”doa Mawardi.

Sebelum tim asesor melakukan asesmen lapangan terhadap dukumen yang ada dalam borang diterima oleh Rektor, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim, SE,MM, Wakil Rektor I, Dr Ir H Rakhim Nanda, Dekan FAI, Drs H Mawardi Pewangi, para wakil dekan dan ketua-ketua prodi dan dosen. Setelah itu mengunjungi Mahad Al-Birr Unismuh dan kemudian ke Perpustkaan Digital.

Asep Saefuddin Johar dalam pengantarnya, menyampaikan pengalamannya sebagai asesmen bahwa hal yang perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi dalam era industry 4.0 ini adalah perlunya memikirkan kompetensi luarannya serta kerangka atau model pengembangan kurikulum.

Dua hal inilah yang menurut Dosen Universitas Negeri Syarif Hidayatullah yang paling mendasar yang harus dikembangkan. Juga diperhatikan adalah kerjasamanya selama ini berbasis apa, juga hasil penelitiannya apakah ada manfaatnya, ini harus nyata manfaatnya.

Oleh karena itu Asep menyarankan prodi ini harus ditingkatkan akreditasinya. “ Kalau NKRI itu adalah harga mati maka prodi ini juga adalah harga mati, karena hidup matinya perguruan tinggi di prodi, sehingga perlu ada pengalokasian dana khusus untuk penyiapan borang dengan baik,”ujarnya.

Disebutkan Asep bahwa yang rumit di perguruan tinggi itu adalah mendorong dosen untuk menulis atau berkarya. Ini lebih rumit dari membangun gedung. Dalam Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi baru bisa A, ketika perguruan tinggi tersebut 80 persen prodinya telah terakreditasi A.

“Disinilah juga rumitnya persaingan antar perguruan tinggi di Indonesia yang semakin ketat mengingat jumlah perguruan tinggi di Indonesia ini telah mencapai ratusan ribu,”kuncinya. (nasrullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *