Harusnya Satu Komandan, Satu Komando, Plus Satu Tindakan (Syarat Tindakan Wabah: Cepat, Tepat dan Serempak)

Oleh: Prof. Dr. M. Nadjib Bustan, MPH, DR.PH
Guru Besar Epidemiologi

Akhir-akhir ini kita disuguhi oleh sejumlah informasi yang terkadang keluar dari konteks yang sebenarnya bahkan tidaksedikit yang sudah mengarah ke Hoax padahal sesungguhnya dalam situasi pandemi (wabah global) seperti yang terjadi saat ini, semua pengetahuan, sikap dan tindakan yang dilakukan seharusnya berdasarkan satu komandan, satu komando, ditambah dengan satu tindakan sehingga semua bisa berjalan normal sesuai harapan bersama.

Satu komandan yang dimaksud adalah Direktur WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), selanjutnya Satu komando yakni berupa perintah/instruksi, tetapi seharusnya bukan himbauan atau surat edaran apalagi hanya pengumuman biasa. Sementara untuk Satu tindakan yang baku (standard) mesti wajib berdasar pada bukti ilmiah dan hokum kesehatan internasional dan nasional masing-masing negara. Yang pasti bahwa komando yang jelas dalam menghadapi pandemic ini dapat dilihat pada surat Direktur WHO kepada Presiden (lihat Boks, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. – El Pais, 10 Maret 2020)

Kemudian syarat dari tindakan wabah adalah cepat, tepat dan harus serempak. Cepat berupa tanggap cepat (quick response) oleh karena masalahnya menyangkut keselamatan hidup atau kematian manusia sehingga kecepatanlahyang menjadi factor penentu. Tepat berarti harus efektif dan berdayaguna sehingga bisa menghindari kesakitan dan kematian.

Bahkan setiap tindakan harus tepat tujuan, artinya tindakannya sesuai tujuan penanggulangan wabah, yakni untuk pencegahan dan pengendalian terjadinya penularan (transmission) dan penyebaran (spread). Artinyaapa ?Bahwa indicator pelaksanaan dan evaluasi hasil dilihat dari tercapainya penurunan penularan dan penyebaran Covid-19 ini. Selanjutnya tindakan pencegahan artinya mencegah orang sehat supaya tidak terpapar (terkontaminasi), mencegah orang terkontaminasi tidak terinfeksi, dan mencegah orang terinfeksi tidak jatuh menjadi orang yang berstatus kasus positif. Sedangkan prioritas tindakan difokuskan pada upaya pertama mencegah orang sehat tidak jatuh sakit melalui kontaminasi dengan orang sakit lainnya.

Oleh sebab itu, tindakan solusi pandemic haruslah serentak, karena dalam wabah berarti semua orang atau pun daerah sudah dianggap terkontaminasi bahkan mungkin sudah terinfeksi dan mungkin juga sudah positi fsakit. Jika sudah ada kasus positif, sekalipun hanya satu orang, maka per definisi sudah mutlak sebagai wabah. Itulah sebabnya ji ka sudah terjadi wabah maka harus dideklarasikan dan segera dilakukan tindakan cepat untuk pencegahan penularan dan penyebarannya tidak meluas.

Kalau kita mencermati di tingkat nasional, pemerintah pusat dan daerah selayaknya juga punya satu komandan, satu komando, dan satu tindakan cepat, tepat dan serempak. Meskipun pemerintah Indonesia tentu saja sudah melaksanakan arahan WHO ditambah dengan berbagai upaya tambahan lainnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa justru kasus tetap meningkat tajam hingga 1500-an per 31  Maret 2020, dan makin menular dan menyebar sampai keseluruh propinsi se Indonesia? Ataukah kemungkinannya boleh jadi karena pemerintah tidak satu komandan, satu komando, dan satu tindakan yang cepat, tepat, dan serentak?

Lebih lanjut, silahkan tanyakan ke Klinik Melawan Covid-19, ke Redaksi rakyatbersatu.com melalui No WA :081355315301 atau langsung ditujukan ke narasumber yang juga pakar Epidemiologi No WA : 0811446998. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *