Mengapa Masjid Harus Ditutup Sementara ?

Sesi Tanya Jawab Bersama Guru Besar Epidemiologi,
Prof. Dr. M. Najib  Bustan, MPH

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Masjid ditutup?

 Jawaban: Masjid ditutup artinya ditutup secara fisik dan fungsional.

Penutupan fisik artinya ditutup akses masuk/keluar masjid dengan cara menutup/mengunci pintu, serta tidak mengizinkan siapapun untuk masuk/keluar masjid untuk tujuan beribadah.

Penutupan fungsi artinya tidak diperkenankan semua jenis kegiatan ibadah/shalat maupun lainnya dilakukan dalam masjid dan area sekitarnya. Dengan demikian diharapkan tidak terjadi kontak fisik atau interaksi sosial. Sekalian berarti silahkan beribadah di rumah sendiri, termasuk bukan di rumah tetangga.

Pertanyaan:Apa alas an sehingga masjid harus ditutup dalam menghindari penularan dan penyebaran Korona /Covid-19 ?

 Jawaban :Karena kita selayaknya menghindarkan masjid sebagai media penularan (transmission) dan penyebaran (spread) Penyakit Virus Korona. Kalau masjid tidak ditutup, masjid sangat potensial untuk menularkan Korona kepada jamaahnya, dan menyebarkan Korona ke masyarakat luas (jamaah dan bukan jamaah, Muslim dan Non Muslim) di sekitarnya.

Pertanyaan:Apakah semua masjid harus ditutup?

 Jawaban:Ya, semua dan serentak seluruh kota, propinsi dan negara. Semua jenis masjid, mulai dari mushallah, masjid kecil, masjid raya, masjid nasional sama saja berpotensi menularkan dan menyebarkan Korona. Satu saja buka, upaya penutupan masjid menjadi tidak akan efektif, karena dari satu masjid  yang tertular, selanjutnya dapat menyebar ke masyarakat, termasuk jamaah/ Muslim yang ada. Harus serentak sehingga dapat terlindungi dan melindungi diri masjid dan jamaahnya secara menyeluruh dari kemungkinan terjangkit dari suatu masjid yang masih terbuka.

Pertanyaan:Apa alasan sehingga masjid harus ditutup?

Jawaban:

 Alasan fiqih/hukumi badah /Islam. Telah tersedia petunjuk Al Quran dan Hadist disertai pendapat ulama serta MUI yang menunjukan kebenaran menutup masjid sementara dalam keadaan wabah, khususnya menunda shalat Jumat dan shalat di rumah, tunda dulu shalat jamaah di masjid.

  1. Berpegang pada prinsip pandemi bahwa dalam keadaan wabah global maka semua orang dan daerah/Negara dianggap terpapar/terjangkit virus, tidak bebas virus, sehingga semua orang dianggap tertular dan mampu menularkan virus Korona.

Pertanyaan: Bisakah dibuka setelah semprot sterilisasi?

 Jawaban:Tidak bisa, karena tidak efektif dan efesien. Dapatkan dilakukan penyemprotan setiap waktu shalat? Adakah yang bisa garansi bahwa setelah disemprot, masjid menjadi steril/bebas virus? WHO sendiri tidak merekomendasikannya.

Pertanyaan: Bisakah masjid dibuka dengan jamaah harus pakai masker?

 Jawaban: Tetap tidak bisa, karena masker melindungi dari penularan droplet/percikan, tetapi penularan secara kontak masih tetap berlangsung. Selain itu tidak ada garansi perlindungan 100% tertular jika hanyame makai masker, dan tetap tidak jaga jarak.

Pertanyaan: Bagaimana kalau masjid tetap dibuka untuk ummat berjamaah?

 Jawaban:Artinya melawan perintah WHO (Organsasi Kesehatan Dunia), tidak patuh terhadap himbauan President/Umara, MUI/Ulama, dan Cendekiawan. Karena itu kalau terjadi penularan dan kasus berasal dari kegiatan masjid, semua pihak tidak bisa bertanggungjawab, kecuali (pengurus) masjid itu sendiri .Dalam keadaan wabah/pandemi, setiap orang harus dianggap tidak sehat dan membawa virus, sehingga dia berpotensi menularkan kepada siapa saja yang berada dalam masjid. Selain itu berarti bahwa setiap jamaah yang berada dalam masjid mempunyai risiko ditulari dari siapa saja di antara orang yang ada dalam masjid. Masjidil Haram sudah ditutup, Masjid Istiqlal, dan beberapa masjid raya di berbagai kota besar sudah ditutup, mengapa masjid’ta belum ditutup sementara sambil berdoa di rumah masing semoga wabah ini segera berlalu.?

Pertanyaan: Mengapa masih ada kaum muslimin dan masjid yang tidak mau turut bersama-sama menutup masjid?

 Jawaban:Karena ada beberapa kemungkinan kesalahpahaman, seperti:

  1. Merasa yakin sendiri bahwa diri sehat dan bebas virus.
  2. Kalau masjid sudah disemprot disinfektan (sekali), berarti masjid sudah steril selama-lamanya.
  3. Kalau shalat jamaah bersama dengan jamaah tetap yang memang sehat, tidak mungkin terja dipenularan
  4. Kalau pakai masker, pasti sudah tidak dapat menularkan dan ditulari.
  5. Tidak ada jamaah lain dari masjid/daerah lain yang masuk shalat di masjid’ta
  6. Masjid yang ditutup hanya yang berada di daerah wabah berat.
  7. Biarlah masjid lain tutup, masjid’ta tidak apa-apa kalau tetap dibuka
  8. Masjid lain tetap juga terbuka, kenapa masjid’ta harus ditutup
  9. Tidak perlu peduli, karena belum ada pasien korona di sini, di masjid’ta, di kampung/desa’ta.

Pertanyaan: Adakah bukti pembelajaran yang bisa dilihat bahwa berisiko kalau masjid tetap aktif dibuka? 

Jawaban;Ya, beberapa. Tabliq Akbar di Masjid Petaling  Kuala Lumpur yang diikuti oleh 10 ribu jamaah telah menjadi media penularan antar peserta tabliq. Kongres Ijtima se Asia di Gowa, Sulawesi Selatan juga menyebakan terjadi penyebaran antar peserta, bahkan ada yang menjadi positif dan meninggal dunia. Semoga kita senantiasa mendapat perlindungan dari Allah swt. Terhadap semua musibah, khususny amusibah virus korona ini, dan segera bisa mendirikan shalatjamaah di masjid’ta. Aamiin.(*).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *