Pacaran Penyumbang Terbesar Kekerasan Terhadap Perempuan

RAKYATBERSATU.COM. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap fakta yang cukup miris terhadap perempuan. Salah satunya kekerasan terhadap perempuan saat berpacaran.Bahkan pacaran adalah penyumbang terbesar kekerasan terhadap perempuan.

Ketua Aliansi Remaja Independen, Fajar Waksi menyebut data yang di rilis Komnas HAM, angka kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sebanyak 348.466 kasus.

Untuk kekerasan fisik 41 persen, kekerasan seksual 31 persen, kekerasan psikis 15 persen, kekerasan ekonomi 13 persen.

Data Komnas HAM ini juga mencatat bahwa peringkat pertama pelaku kekerasan oleh pacar dalam hubungan laki-laki dan perempuan 1.508 kasus, kedua ayah kandung 425 kasus, dan yang ketiga paman 325 kasus.

Fakta ini diungkap dalam¬† diskusi dan pemutaran film “Posesif” yang digelar Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) di Fort Rotterdam. Sabtu malam (24/3/2018).

Diskuski sambil nonton film Posesif (ist)

Suasana diskusi berlangsung menarik. Anak-anak hingga orang tua ikut dalam kegiatan ini. Kegiatan ini terlaksana melalui program MAMPU (kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan) dalam rangka memperingati Internasional Woman Day 2018.

BaKTI memilih film “Posesif” dan mendiskusikannya bukan tanpa alasan. Film yang dibintangi Adipati Dolken dan Putri Marino ini memang bercerita tentang remaja yang pacaran, namun penuh kekerasan.

Psikolog Iyan Afriyadi saat tampil sebagai pemateri dalam diskusi ini mengatakan, banyak sekali faktor mempengaruhi seseorang melakukan kekerasan.

“Yang selama ini kita tahu cinta itu adalah kelembutan, kasih sayang. Namun kita tidak tahu bahwa ada orang yang memaknai cinta itu ketika saya keras sama kamu, kalau saya larang kamu, kalau saya pukul kamu itu cinta loh, karena dibiasakan dari kecil,” ujarnya.

“Pelaku ada karena korban ada. Kejadian tidak akan terulang jika korbanya bertindak. Jadi kuncinya di sini ngomong dong, jangan diam aja,” tandasnya bersemangat.

Disebutkan Iyan, cukup banyak kasus yang terjadi, tetapi terkadang masyarakat terlalu cepat menilai negatif. Bukannya mendengar malah langsung mem-bully. Sehingga remaja kadang tidak bisa terbuka menceritakan masalahnya.

Sementara Tika, dari Rumah KitaB dalam diskusi ini memberis saran untuk memutus matarantai kekerasan terhadap perempuan.

“Saya punya lima tips. Yang pertama berani berkata tidak, mendapatkan pendidikan komfrehensif seksual, pikirkan kembali makna pacaran ada komunikasi yang sehat, tetap menjadi diri sendiri, yang terakhir adalah mencari dukungan yang ramah korban,” pungkasnya. (rbc/int)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *