PP Muhammadiyah Hadiri Subuh Berjamaah di Unismuh Makassar

Rektor Unismuh Makassar, Dr H Abdl Rahman Rahim, SE,MM, Ketua BPH Dr Ir H Muh. Syaiful Saleh, M.Si foto bersama dengan PP Muhammadiyah, Dr Anwar Saleh yang juga Sekjen MUI —nasrullah—

RAKYATBERSATU.- Salat subuh berjamaah yang rutin dilakukan sekali dalam sebulan  di masjid Subulussalam Unismuh Makassar, Subuh Sabtu dini hari (13/5/2017)  masih tetap berlangsung, masjid masih  tetap dipenuhi oleh jamaah. Kali ini, dihadiri Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Anwal Saleh  yang juga Sekjen Majelis Ulama Indonesia.

Hadir  PW Muhammadiyah Sulsel, Prof Dr H Ambo Asse. M.Ag, Rektor Unismuh Makassar, Dr H Abdul Rahman Rahim, SE,MM, Ketua BPH Dr Ir H  Muhammad Syaiful Saleh dan anggota, para wakil rektor, dekan dan wakil dekan,  direktur, Ka.Prodi, Sek.Prodi, ketua serta sekretaris lembaga, UPT PMB dan perpustkaan, dosen, karyawan dan ketua serta pengurus lembaga kemahasiswaan se Unismuh Makassar.

Usai salat subuh berjamaah, Anwar Saleh memberikan, ceramah tentang kondisi umat Islam saat ini baik secara nasional maupun global. Dikatakan, kondisi umat Islam sebelum Indonesia merdeka jumlahnya masih sekitar 99 persen umat Islam. Tahun 2017 umat Islam tinggal mencapai 87,3 persen.

Dan kalau ini terus berlangsung, maka tidak tertutup kemungkinan 300 tahun yang akan datang umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia turun menjadi 4 kali lipat. Artinya kalau ini terjadi maka 300 tahun yang akan datang penduduk Islam di Indonesia sisa 51,2 persen dan sisanya adalah agama lain. “Ini sudah lampu merah bagi kita,”ujar Anwar

Anwa Saleh menggambil gambaran kondisi umat Islam di Anggola. Dikatakan, jumlah Islam dengan non Islam berbanding (50:50). Dan sangat memprihatinkan, karena di Anggola Islam dianggap  sebuah agama terlarang. Kalau ini tidak ada upaya dari kita sekarang ini, maka ini akan menjadi sebuah keprihatinan yang harus  mendapatkan perhatian bersama.

Makanya kalau kita umat Islam sekarang ini khususnya di PTM se Indonesia, khususnya Unismuh Makassar tidak berupaya keras maka , suatu ketika kita masuk dalam kelompok minoritas. “Bayangkan kalau Islam masuk dalam kelompok minoritas dari kelompok yang ada, maka Islam bisa menjadi bulan-bulanan,  mudah diombang ambingkan oleh kelompok yang bukan Islam,”tegas Anwar.

Sudah banyak contoh kasus di dunia, sebut AnwaR, di negara-negara yang mayoritas umat Islam,  seperti Fakistan, Arab Saudi, Indonesia dan lainnya warga minoritas aman-aman saja. Tetapi di negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam, seperti Amerika, Jerman dan lainnya, marak demo anti Islam. Tapi di Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam tetapi tidak pernah ada demo anti agama tertentu.(nasrullah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *