Pembalakan Liar di Sulsel Meningkat di Masa Pandemi

Kawasan hutan kini menjadi lahan perkebunan merica di Luwu Timur (ist)

RAKYATBERSATU.COM.- Pembalakan liar (illegal logging) di Sulawesi Selatan meningkat pada masa pandemi. Kejahatan kehutanan
ini dilakukan dengan pola memanfaatkan masyarakat lokal sekitar hutan. Sementara penegakkan hukum atas kasus ini tidak pernah menyentuh aktornya.

Hal tersebut dikemukakan Direktur JURnaL Celebes, Mustam Arief pada jumpa media di Kafe Baca, Makassar, Sabtu (30/3).

Menurut Mustam, di masa pandemi ini pembalakan liar semakin menggila. Para pembalak memanfaatkan situasi ini.

” Ketika aktivitas masyarakat dibatasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (SBB), atau dalam skala terbatas, momentum ini dimanfaatkan untuk melakukan pembalakan di hutan, karena situasi relatif aman,” ungkap Mustam Arief.

Direktur JURnaL Celebes ini menegaskan bahwa pembalakan liar di masa pandemi tidak hanya dilakukan para pedagang kayu, tetapi juga masyarakat lokal sekitar hutan yang pendapatannya berkurang akibat dampak pandemi.

Dari hasil pemantauan kegiatan yang didukung FAO-FLEGT Programme ini, ada indikasi masyarakat lokal yang terlibat dalam jual beli kayu, punya risiko hukum, dibanding pengusaha atau pembeli kayu yang memanfaatkan jasa masyarakat lokal.

Ketika pelaku lapangan diketahui petugas, yang ditangkap dan diproses hukum adalah pelaku warga masyarakat. Masyarakat yang menebang kayu, kalau tidak sempat melarikan diri, akan ditangkap petugas dan diproses hukum sampai ke pengadilan.

Sementara pihak pengusaha atau pendagang kayu yang memanfaatkan jasa masyarakat untuk menebang kayu, jarang tersentuh hukum. Padahal mereka sebenarnya adalah pemilik kayu ilegal itu.

Pemantau mensinyalir di antara pihak pembeli maupun penebang diduga ada kesepakatan untuk tutup mulut dengan, kompensasi tertentu. Dugaan lain, penebang kayu dari masyarakat setelah ditangkap petugas, tidak bisa mengungkap siapa yang mengajak kerja sama melakukan pembalakan liar karena sudahhilang jejak. Pemantau menduga pelaku kejahatan dari pihak pembeli/pengusaha kayu dengan cara ilegal,menggunakan pola ‘’rantai putus’’ untuk menghilangkan jejak.

Dari sembilan kasus penangkapan kayu ilegl yang dicatat JURnaL Celebes selama pandemi, hampir semua pelaku yang diproses hukum, adalah warga masyarakat yang ditangkap karena menebang atau mengangkut kayu. Umumnya mereka diminta atau bekerja sama dengan pembeli atau pengusaha kayu. Sedangkan pihak yang menggunakan jasa warga, hampir semuanya lolos dari jerat proses hukum. Kecuali, kasus perusakan hutan di kawasan konservasi Komara, Takalar.

Proses Hukum Masih Senyap
Kasus-kasus illegal logging di masa pandemi semuanya diproses hukum. Pada tahap awal, Petugas Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi menangkap pelaku, memproses kemudian diserahkan ke kepolisian. Di sini ada yang diproses sampai pengadilan, tetapi ada juga dihentikan karena misanya dianggap tidak cukup2 bukti.

“Publik jarang mengetahui seperti apa penyelesaian hingga kasus ini. Penyelesaian akhir kasus-kasus hukum ini juga menjadi senyap karena selalu luput dari pantauan atau tindak lanjut media. Media hanya rampai memberitakan kasus dalam tahap awal ketika ada penangkapan dan proses hukum di Gakkum KLHK atau kepolisian,” tandas mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat ini. (yd/r)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *