Stop Covid-19 dalam Satu Bulan

Oleh: Prof. M. Nadjib Bustan

PERANG melawan pandemi/wabah suatu penyakit menular haruslah dilakukan secara sistematis, mulai dari upaya pencegahan, lalu pengendalian, sampai penuntasan.

Jika suatu wabah sudah terjadi, berarti upaya pencegahan sudah tembus dan sudah terjadi penularan dan penyebaran penyakit, maka upaya diarahkan untuk mengendalikan atau mengontrolnya sehingga penularannya berhenti dan penyebarannya akan berkurang.

Dalam suasana pandemi Covid19, Indonesia sudah berada dalam status wabah nasional (darurat kesehatan masyarakat), maka upaya penanganan Covid19 selayaknya difokuskan kearah bagaimana mempercepat pengendalian atau penghentian penularan dan penyebaran Covid-19 yang angka penularannya (ODP) sudah mencapai 200 ribuan, dan angka penyebarannya sudah mendekati 10.000 kasus, dengan angka kematian sekitar 8 persen.

Berapa lama waktu untuk untuk menghentikan arus wabah Covid ini? China telah berhasil menghentikan Covid hanya dalam satu bulan, dan mengakhirnya hanya dalam dua bulan. Luar biasa. Caranya hanya sederhana: Karantina total selama 14 hari terhadap wilayah yang terpapar (Wulan) dan yang belum terpapar lainnya dengan segera.

Hasilnya, kasus positif Covid19 hanya sebanyak 81.740 orang atau mengenai hanya 57 per milyar penduduk, dan yang meninggal 3.331 orang atau dua per milyar penduduk atau dengan angka kematian kasus kurang dari 4 persen. (Worldometer, tanggal 7 April 2020).Nilai angka kasus dan kematian ini merupakan nilai yang terendah dibandingkan dengan seluruh negara di dunia lainnya.

Hasil luarbiasa ini membuat China berubah dari episentrum rangking pertama menjadi rangking ke-6. Akhir-akhir ini sudah menjadi rangking ke-10.

Data surveilans Kota Wuhan, Propinsi Hubei, Tiongkok menunjukkan laporan 27 kasus pneumonia berat pada tanggal 31 Desember 2019. Penyelusuran kasus mendapatkan diagnosis empat kasus positif Wuhan Flu (kini dikenal dengan nama COVID-19) pada tanggal 18 Januari 2020. Segera tanggal 22 Januari 2020 Wuhan Flu dinyatakan Outbreak (Kejadian Luar Biasa). Besoknya, 23 Januari, pemerintah kota menyatakan status karantina (large-scale quarantine) untuk seluruh Kota Wuhan.

Setelah dua pekan intervensi karantina total, hasilnya terlihat pada dua pekan berikutnyadimana tampak terhentinya kejadian kasus baru pada tanggal 21 Februari 2020, tepat 1 bulan setelah deklarasi outbreak.

Selanjutnya, tepat sebulan kemudian, tanggal 22 Maret 2020, kurve epidemiologi sudah mendekati titik akhir (Data Grafik dari Worldometer). Seluruh negara berpesta ria secara nasional. Kehidupan sosial ekonomi segera pulih total, namun tetap dalam keadaan siaga.

Nah, adakah negara yang dapat mengikuti cara China menuntaskan Covid-19. Sampai sekarang belum ada bahkan negara-negara besar (Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Inggris, Turki, Iran) lebih parah dan kewalahan menghadapi pandemi Covid-19. Kecuali, Vietnam, Australia dan Saudia Arabia yang dengan segera melakukan “lockdown” negaranya di awal pandemi. Saudi Arabia dengan rela menghentikan sumber keuangan negara terbesarnya dengan menutup kesempatan umrah dan haji ke kedua kota suci Makkah dan Madinah.

Kunci kebehasilannya hanyalah satu: Cepat. Siapa cepat, dia yang dapat, kata pepatah. Adakah negara-negaa lain mau mencontoh gaya China menuntaskan Covid-19. Tidak usah segan dan malu. Silahkan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *