Abd. Rahman Sulaiman: Dahulu Jualan Es Manis, kini Ketua Fraksi Golkar DPRD Jayapura

Abd. Rahman Sulaiman
Abd. Rahman Sulaiman

DUA puluhan tahun silam seorang lelaki berperawakan kecil dan kurus menjajakan es manis. Es manis itu dibikin sendiri di rumahnya. Setelah selesai, es manis ditaruh di dalam gerobak. Sesaat kemudian lelaki Bugis ini sudah terlihat mendorong gerobaknya menyusuri jalan-jalan di Kota Jayapura, Papua. Di mana ada orang kumpul-kumpul ke situlah dia membawa gerobaknya, menawarkan es manis. Siapa tahu, ada yang minum es.

Kondisi jalan di dalam Kota Jayapura, tidak rata. Kadang mendaki, kadang menurun. Berjalan kaki sambil membawa gerobak penuh berisi es, naik turun mencari pembeli, sungguh bukan pekerjaan mudah. Untung kalau ada yang beli. Karena selalu mencari di mana orang berkumpul, penjual es manis ini, sekali-kali memberanikan diri masuk ke halaman hotel. Ini kalau kebetulan di hotel itu ada acara yang dihadiri banyak orang.

Suatu hari, sebuah hotel mengadakan acara. Melihat banyak orang yang masuk keluar keluar hotel itu, si penjual es manis langsung membelokkan gerobaknya masuk ke halaman hotel. Harapannya, banyak orang yang mau minum es. Maklum, waktu itu belum banyak minuman dingin yang siap di lemari pendingin, siap untuk diminum. Belum seperti sekarang, di mana-mana banyak orang menjajakan minuman dingin dalam botol dengan berbagai merk, warna dan rasa.

Rahman bersama peserta lain seusai penutupan PSBM 2015
Rahman bersama peserta lain seusai penutupan PSBM 2015

Baru saja penjual es itu mencari lokasi yang baik dan menghentikan gerobaknya, tiba-tiba saja dari dalam hotel keluar seorang lelaki separuh baya. Pakaiannya perlente. Perawakannya gemuk. Kulitnya putih. Matanya sipit. Sang penjual es tahu bahwa yang keluar ini adalah pemilik hotel. Baru saja dia ingin menyapa pemilik hotel itu, tiba-tiba saja lelaki gemuk bermata sipit itu membentaknya dan menyuruhnya pergi dari situ. Ringkasnya, dia dilarang menjual es di halaman hotel.

Penjual es manis itu tidak bilang apa-apa. Meskipun perasaannya berkecamuk tak karuan menerima perlakuan seperti itu, dia tetap berusaha untuk tersenyum dan langsung mendorong gerobaknya ke luar dari halaman hotel.

Cerita di atas tadi merupakan cuplikan dari sekian kejadian yang tidak mengenakkan yang pernah dialami oleh Abd. Rahman Sulaiman, 40 tahun, lelaki Bugis berdarah Maros Pangkep, Sulawesi Selatan, ketika mencoba menjalani hidup sebagai perantau di Provinsi Papua, sekitar tiga puluh tahun silam.

Hari ini, Rahman sudah tidak dikenal sebagai penjual es gerobak keliling kota. Tiga ratus ribuan penduduk Kota Jayapura, kini mengenal Rahman sebagai seorang yang disegani dan dihormati. Rahman bukan termasuk warga pendatang yang biasa; berjualan, berdagang, atau pekerja serabutan untuk mencari nafkah di negeri orang, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak pendatang dari Sulawesi Selatan di Jayapura atau di distrik lain di Papua.

Rahman hari ini adalah Rahman yang memiliki strata sosial yang sudah tinggi di mata masyarakat. Karena Rahman Sulaiman, sekarang dikenal sebagai Anggota DPRD Kabupaten Jayapura dari Partai Golkar hasil Pemilihan Legislatif 2014. Bukan itu, saja. Di lembaga legislatif ini, Rahman diberi kepercayaan oleh rekan-rekannya sesama anggota dewan dalam satu komisi sebagai Ketua Komisi C yang membidangi kepariwisataan, dan pembangunan ekonomi. Bahkan, hebatnya lagi, DPD II Partai Golkar Kabupaten Jayapura memberinya amanah sebagai Ketua fraksi Partai Golkar di DPRD Kabupaten Jayapura.

Kisah miris jualan es dan diusir oleh pemilik hotel, dikisahkan sendiri oleh Rahman Sulaiman kepada empat wartawan dari berbagai media seusai mengikuti acara seremonial penutupan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar 2015, Selasa malam, 28 Juli 2015 di rumah pribadi Walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto.

PSBM digelar dari 25 s/d 28 Juli 2015, dengan mengambil setting acara puncak di Pantai Laikang Kabupaten Takalar. “Bagaimana pun juga Saya memang harus hadir di pertemuan tahunan PSBM dalam kapasitas Saya sebagai Ketua KKSS di Kabupaten Jayapura,” kata Rahman.

KKSS adalah singkatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan; sebuah organisasi paguyuban yang anggotanya khusus para perantau asal Sulsel yang bertebaran menetap dan hidup mencari rezeki di seantero wilayah Nusantara. Sebagian besar mereka mencari rezeki dengan cara berusaha. Maka, tak heran jika anggota KKSS yang sudah sekitar 30 atau 40 tahun bahkan lebih, yang mengawali usahanya di perantauan dengan modal seadanya, kini berhasil menjadi pengusaha sukses beraset miliaran rupiah.

Namun, tidak sedikit pula yang menapaki kehidupan bukan berkifrah sebagai pengusaha, tapi di bidang lain. Ada yang berkarier di pemerintahan, di dunia pendidikan maupun politik dan profesi lainnya. Bahkan ada yang bergelut di bidang agama (Islam) menjadi pendakwah. Salah satunya ialah Abd. Rahman Sulaiman. Setelah berhenti berjualan es manis gerobak, Rahman meniti jalan hidup sebagai da’i. Bekal pengetahuan agama yang diperolehnya ketika menjadi santri di Pesantren DDI Mangkoso, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Berusaha dengan caranya sendiri sesuai pedoman ajaran agama yang diyakininya, itulah yang memudahkan jalan hidup Rahman selanjutnya. “Saya benar-benar menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan keseharian. Islam menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada semua manusia, siapa saja, tanpa kecuali. Itulah yang Saya terapkan. Misalnya, setiap pagi Saya selalu mencari siapa yang bisa Saya traktir makan siang hari ini, walaupun pada saat itu Saya sedang tidak punya uang sepeser pun. Tapi giliran perut mulai lapar dan sudah waktunya makan siang, ada-ada saja orang yang mengajak Saya makan. Nah, orang yang tadi Saya mau traktir makan, ya Saya ajak juga, tapi tentu saja sudah seizin orang yang mentraktir Saya,” kata Rahman bertutur sambil tertawa.

Menurut Rahman, inti dari cerita di atas adalah ajaran sedekah. Islam sangat menganjurkan umatnya agar rajin bersedekah. Kalau kita rajin bersedekah, insya Allah hidup kita akan berkah. Dia sudah membuktikan. “Terus terang, kehidupan Saya dahulu amat sangat prihatin. Jualan es manis pake gerobak itu hanya salahsatu contoh warna kehidupan Saya,” lanjutnya.

Menurut Rahman, ketika baru berniat mau jualan es manis, kendalanya karena Dia tidak punya gerobak. Kalau tidak diangkut gerobak, es jualannya hanya sedikit yang bisa dijajakan. Kondisi jalan yang naik turun di Jayapura, memang mengharuskan para pedagang menggunakan gerobak untuk mengangkut dagangan. Rahman akhirnya membeli gerobak dari upah yang diperolehnya. Pengurus sebuah Masjid minta kepadanya menulis ayat-ayat Alqur’an di dinding Masjid dengan tulisan indah, dalam bahasa Arab disebut Khat. “Nah dari upah kerja membuat tulisan indah di Masjid itu yang Saya gunakan beli gerobak,” kata Rahman.

Kebaikan demi kebaikan selalu dilakukan oleh Rahman, kepada siapa saja sambil melakukan tugas dakwah dengan cara memberikan tausiyah dari Masjid ke Masjid atau dari tempat ke tempat sesuai dengan undangan yang diterimanya. Akhirnya, Rahman dikenal oleh warga Jayapura dan sekitarnya sebagai Ustaz. Bahkan seantero Papua, nama Ustaz Rahman sudah menjadi branding. Dan kepopulerannya makin menyebar ketika dia terpilih sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Jayapura. Undangan untuk memberikan ceramah agama makin meluas. Contohnya, pada Hari Idul Adha nanti, Rahman sudah memperoleh undangan untuk menjadi Khatib sekaligus Imam Shalat Idul Adha di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Sumatera Utara.

Jadi, Rahman yang dahulu dikenal penjual es manis gerobak, kini dikenal sebagai anggota Dewan yang menjabat Ketua Komisi, Ketua Fraksi, Ketua MUI, Ketua KKSS. “Selain berusaha berbuat kebaikan pada semua, bersedekah dan jadi da’i, masih adakah menurut Anda suatu amalan yang lebih tinggi yang Anda jalankan sehingga jalan hidup Anda benar-benar dimudahkan?” tanya RBC.

“Betul. Amalan yang menurut Saya paling bernilai adalah seringnya Saya membaca Alqur’an. Saya penghafal Alqur’an. Dan Saya kira berkat Alqur’an semua menjadi begitu mudah dan lancar,” kata Rahman mengakhiri perbincangan ini. Subhanallah! (Usamah Kadir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *