Ariel Noah Tak Sekedar Peduli Recehan

Ariel Noah
Ariel Noah

DITENGAH kesibukannya berlatih intensif bersama NOAH  guna menjalani rangkaian tur promo  album terbaru Second Chance  dan konser di 8 negara, termasuk  menggembleng  additional player penggebuk drum baru bandnya,  Rio  Alief  – pengganti Reza yang undur diri sejak awal Januari lalu, vokalis dan komposer Nazril Irham  alias Ariel, menyempatkan diri menghadiri jumpa pers Rumah Karaoke Berlesensi  kelolaan ASIRINDO di Jakarta. Padahal,  akibat masih banyak karaoke di Indonesia  tanpa ijin yang  menggunakan lagu dan karya rekaman  asli, besarnya royalti yang diterima ia dan bandnya  relatif kecil tergolong uang recehan hanya cukup untuk jajan.

“Saya mewakili Noah dan artis musik Indonesia lain hadir serta mendukung Rumah Karaoke Berlesensi  bukan sekedar peduli uang receh untuk jajan. Tapi, lebih dari itu  dihargainya royalti para musisi yang dimotori NAV Family Karaoke merupakan bagaian dari perdaban,” papar Ariel Noah kepada  RB.Com di Kuningan Village Jakarta, baru-baru ini.

Diakui duda keren kelahiran Pangkalan Brandan, 16 September 1991 ini, dibandingkan rolyalti  tahunan yang diperoleh dari Lembaga Manajemen Kolektif lainnya di tanah air, royalti  dari rumah karaoke relatif kecil. “Kami harapkan dengan adanya pemberian ijin Hak Terkait melalui satu pintu kelolaan ASIRINDO yang mendapat kuasa dari 81 Perusahaan Rekaman anggota ASIRI, dimasa datang royalti yang diterima insan musik Indonesia bertambah besar dan layak. Alias tak sekedar uang recehan,” ujar Ariel yang pada jumpa pers didampingi Bunga Citra Lestari, Pasha Ungu, Cita Citata, Siti Badriah, Apoy Wali,  Ryan d’Masiv serta Leo Fahmi SHl

 Ariel Noah (kanan) dan artis pendukung Rumah Karaoke Berlesensi

Ariel Noah (kanan) dan artis pendukung Rumah Karaoke Berlesensi

Rian Ekky Pradipta – vokalis d’Masiv menambahkan, di  luar negeri  dimana industri musiknya maju pesat dan penegakan hukum ekonomi hak ciptanya  berjalan dengan baik, para musisi yang  hanya memiliki singgel hits, bisa hidup sejahtera dan kaya raya. “Kalau di Indonesia, ada sederet musisi senior yang melahirkan banyak lagu hits – tapi  dimasa tua kehidupannya  biasa-biasa saja. Karena tatak mendapatkan  hak royalti secara layak,” ujar Ryan seraya berharap UU No.28/2014 tentang Hak Cipta segera diterapkan secara konsekwen oleh para penegak hukum di tanah air.   “Siapa yang melanggar Hak Cipta sanksinya tak main-main. Pidananya maksimal 10 tahun penjara dan denda pidana sekitar 4 milyar rupiah,” tandas Leo Fahmi SH, penasehat hukum ASIRINDO. * (naskah dan foto – ata)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *