Corby, si Ratu Mariyuana Bebas Bersyarat

Schapelle Leigh Corby (ist)
Schapelle Leigh Corby (ist)

Jakarta (Rakyat Bersatu.com),
Ratu Mariyuana, Schapelle Leigh Corby mendapat pembebasan bersyarat dari pemerintah.  Pembebasan terpidana atas kepemilikan mariyuana seberat 4,1 Kg ini dinilai oleh berbagai kalangan sarat  dengan pertimbangan politis.

“Alhamdulilah sudah 1.291 terselesaikan dengan baik. Corby termasuk di dalam 1291 itu,” ujar Amir Syamsuddin, Menteri Hukum dan HAM saat memberikan keterangan pers di kantornya, Jakarta, Jumat, 7 Februari 2014.

Amir Syamsuddin enggan menjelaskan pembebasan bersyarat terpidana Schapelle Leigh Corby. Menurutnya,
bebasnya Corby bukan karena kemurahan hati pemerintah Indonesia.”Saya tidak mau berbicara khusus mengenai Schapelle. Yang ingin saya tekankan di sini bahwa pembebasan bersyarat ini bukan kebijakan, bukan kemurahan hati menteri atau pemerintah. Itu adalah hak yang diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah dan seluruh rangkaian peraturan yang ada,” ujar tegas Amir.

Sementara itu, Ketua Setara Institute Hendardi menilai pembebasan bersyarat yang diberikan kepada terpidana kasus narkoba Schapelle Leigh Corby penuh dengan pertimbangan politis antara Indonesia dan Australia.

“Saya melihat ada pertimbangan-pertimbangan politis antara kedua negara ini, apa lagi karena sebelumnya
Australia juga mengembalikan buronan Adrian Kiki,” kata Hendardi seperti yang dilansir Kantor Berita Antara.

Hendardi menilai, bisa saja, pembebasan bersyarat Corby kemudian berhubungan dengan pemulangan
buronan asal Indonesia dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) itu dari negeri kangguru
tersebut. “Tidak gampang juga dari Australia dikembalikan ke Indonesia, bahkan belum lama ini ada yang meninggal di sana,” katanya.

Di sisi lain, Australia sejak dulu memang terus memberi tekanan kepada pemerintah RI untuk mengembalikan
Corby.”Sampai Perdana Menteri (Australia) berganti-ganti, mereka itu selalu beri tekanan soal Corby, minta ia segera dilepas,” katanya.

Hendardi berpendapat meski Corby  diberikan kebebasan bersyarat karena secara hukum syaratnya
terpenuhi, tetap saja negara merugi jika melepaskannya.

Kejahatan narkotika yang masuk dalam kategori kejahatan luar biasa, nantinya dikhawatirkan tidak akan lagi
menimbulkan efek jera, terutama terhadap gembong narkoba dari negara asing.

“Dari sisi penegakan hukum, tentu ini merugikan karena tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku lain dalam
kejahatan narkotika. Kesimpulannya bahwa hukum ternyata tidak lepas dari masalah-masalah politis,” katanya.

Seperti diketahui, Corby ditangkap tahun 2004 di bandara Ngurah Rai, Bali, saat menyelundupkan ganja 4,1
kilogram. Lalu pada Januari 2006, Mahkamah Agung menyatakan Corby bersalah dan memvonisnya dengan
hukuman 20 tahun penjara.

Corby di tahan di Lembaga Permasyarakatan Kerobokan Bali dari 2006-2011 dan sudah mendapatkan remisi
25 bulan.Presiden SBY melalui Keppres No.22/G Tahun 2012 memberikan lagi grasi pada Corby berupa pengurangan hukuman menjadi 15 tahun.(rbc/bbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *