Dahsyatnya Kemiskinan Menjadikan Mereka Anak Jalanan

Penulis bersama dua bocah anak jalanan
Penulis bersama dua bocah anak jalanan

Kehadiran anak-anak yang berada dijalanan untuk mencari nafkah dan menghabiskan waktu untuk bermain, tidak bersekolah, merupakan salah satu fenomenan sosial di kota metropolitan termasuk di Kota Makassar.

Anak-anak  jalanan itu kerap mengganggu ketertiban umum dan terkadang melakukan tindakan kriminal. Pilihan hidup di  jalanan  karena beberapa alasan, mulai  dari dahsyatnya deraan kemiskinan, lingkungan  bermain,  sampai pada kekerasan dalam keluarga.

Malam itu, pertengahan Desember 2015, saya singgah makan di salah satu warung makan disamping pintu nol Unhas. Detik demi detik hingga waktu menunjukkan pukul 21.30, sebelum saya pulang tiba-tiba datang seorang anak yang meminta-minta uang kepada saya dan teman-teman,

Namanya Safir berumur 13 tahun, saat itu saya memberikan sedikit sedekah berupa makanan dan uang dan saat itu juga dia makan begitu lahap bersama dengan teman-teman nya yang lain.

Rupanya mereka belum makan dari sejak siang tadi.Setelah mereka makan saya menghampiri seorang anak perempuan berumur 15 tahun yang bernama Wati, saya kemudian berbagi cerita dengan mereka, bertanya mengenai kehidupan mereka di sepanjang jalan dan alasan mereka mengapa ingin meminta-minta kepada oranglain.

Tiba-tiba salah seorang dari teman mereka yang bernama Agus berumur 11 tahun, menjawab pertanyaan dari saya,  dia mengatakan kalau alasan meminta-minta itu karena dia ingin membeli beras, membantu perekonomian orang tua, menambah uang jajan sekolah, dan perlengkapan sekolah.

Di samping itu, pekerjaan dari orangtua Agus itu hanya seorang buruh harian lepas. Agus juga menyampaikan kalau ternyata mereka mempunyai sebuah komunitas, nama komunitasnya “ KPIJ (Komunitas Pecinta Anak Jalanan ) atau Sekolah Ahad lokasinya itu bertempat di Jalan Perintis Kemerdekaan KM.10 (depan Gedung Ikatan Alumni Unhas Makassar). Komunitas ini mulai berdiri 15 Februari 2010.  melalui media sosial (facebook), adalah komunitas yang terbentuk dari kesadaran  melihat anak-anak jalanan yang dalam usia sekolah mereka turun kejalan untuk mencari sesuap nasi.

 Padahal tidak jarang dari mereka mempunyai potensi besar dan mereka juga mempunyai hak memperoleh pendidikan dan pengajaran seperti halnya anak-anak yang lain. Hingga saat ini sebanyak 20 orang adik binaan yang belajar dalam Sekolah Ahad itu.

Tentunya juga ada 5 kegiatan yang dilakukan oleh anak- anak jalan ini yakni Sekolah ahad mulai pukul 09.00-11.00 WITA di Universitas Hasanuddin (dekat GPA – Gedung IPTEKS), Kelas mengaji, Senin – Jum’at pukul 16.00 – 17.30, Kelas komputer Ahad pukul 13.30 – 14.30 WITA, Kelas seni (kelas tari dan kelad drama-musik), dan yang terakhir kelas keterampilan  (kelas kerjainan kain flanel dan lainnya).

Sosok anak jalanan yang jadi peminta-minta itu, memberi gambaran akibat deraan yang dahsyatnya kemiskinan yang mereka jalani, menjadikannya harus turun ke jalan jadi pengemis. Tapi walau demikian mereka juga mulai sadar untuk menempuh pendidikan non-formal dengan mendaftar di Sekolah Ahad agar mampu mengubah jalan kehidupan untuk tidak selamanya menghabiskan waktu dan hidupnya di jalanan.

Malam itu sebelum saya pulang saya memberikan semangat hidup  kepada mereka untuk selalu berkreasi , membuat keterampilan yang ada nilai jualnya  pada masyarakat daripada pergi meminta – minta di jalanan yang memberi kesan buruk bagi masyarakat.

Namun dengan penuh semangat mereka semua menjawab iyya kak Nurul. Saya pribadi sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan dari mereka mulai dari senyum sederhana mereka serta semangat yang kuat untuk terus menjalani hidup yang terkadang tak adil ini.

Sebelum saya mengakhiri, rupanya semua anak jalanan ini saat saya meminta foto hanya 3 orang saja yang ingin berfoto dengan saya itupun setelah saya jelaskan baru dia mau, karena pas mau minta foto ternyata dia takut sekali kalau fotonya mereka dipublikasikan di media sosial seperti halnya korann. Alasan ketakutan  katanya jadi daftar pencarian orang, mereka takut kalau akan ditangkap karena  meminta – minta di jalan,.(nurul hikmah)

Laporan: Nurul Hikmah

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Prodi Komunikasi Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *