Dahulu PKG, sekarang FTG

ss pkgGOWA, RBC – Pabrik Kertas Gowa (PKG) pernah menjadi salahsatu industri yang membanggakan di negeri ini, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Dahulu PKG merupakan salahsatu aset atau kekayaan milik mantan Presiden RI; Soeharto. Secara operasional, presiden kedua Indonesia ini mempercayakan pengelolaan PKG kepada Tommy Soeharto; putranya.  Maka, tidak mengherankan jika di dalam areal PKG terdapat lapangan golf, dan bahkan ada kamar khusus bagi Pak Harto untuk beristirahat jika berkunjung ke PKG.

Di atas tadi adalah sekelumit cerita dahulu pada zaman era Orde baru. Kini, semuanya sudah berubah. Sejumlah gedung yang berada di dalam area PKG, sudah diruntuhkan semua, termasuk satu bangunan yang pernah digunakan Pak Harto dan keluarganya beristirahat dan menginap jika berkunjung ke PKG.

Yang tersisa hanya satu gedung yang memang kelihatan masih kokoh dan cukup artistik, sehingga hanya memerlukan sedikit sentuhan rehab jika akan dimanfaatkan kembali. Ketika PKG masih beroperasi, gedung digunakan sebagai pusat administrasi pabrik kertas tersebut. Gedung inilah yang kini difungsikan sebagai gedung pimpinan Fakultas Teknik Gowa (FTG). Ya, semua aset PKG terutama areanya kini menjadi milik FTG – merupakan salahsatu fakultas di bawah naungan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Gowa yang berlokasi di Desa Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Gowa – poros Malino, kira-kira 10 kilometer jaraknya ke arah timur dari Kantor Bupati Gowa.

Menurut Tajuddin Pawallang Dg. Mattata, seorang mantan pejabat PKG mengisahkan, PKG melakukan Trail Operation pada tahun 1967, perusahaan ini pernah berjaya dan menjadi pabrik kertas terbesar di kawasan Timur Indonesia dan mempekerjakan ribuan karyawan.

Belakangan, karena terlilit utang pada tanggal 30 September 1994, PKG mulai memperlihatkan tanda-tanda bakal berhenti berproduksi. Tanda-tanda awal runtuhnya PKG dimulai dengan dilakukannya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal. Ini terjadi menyusul terhentinya produksi pada tahun 1002. Dan, akhirnya pemerintah menyatakan tertutupnya PKG secara resmi berdasarkan PP No.11 tahun 1995 tentang berhentinya operasional PKG.

Bagaimana ceritanya sehingga harta milik Soeharto yang mungkin bernilai miliaran rupiah ini bisa beralih menjadi “milik” Unhas? Penulis hanya memperoleh informasi singkat bahwa PKG diambilalih oleh negara karena terkait masalah “hutang”. Negara kemudian – melalui H. M. Jusuf Kalla, di kala menjabat Wakil Presiden RI mendampingi SBY – menyerahkan aset negara ini untuk dikelola oleh Unhas untuk difungsikan sebagai FTG.

Kampus FTG dibangun dengan dana bersumber dari bantuan ODA Pemerintah Jepang senilai 7,801 juta yen melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Dana bantuan Jepang mulai dikucurkan April 2007 lalu. Pembangunan Kampus II Fakultas Teknik Unhas ini dirancang dengan nuansa alam. Luasnya sekitar 40 hektar. Kontraktor pembangunnya ditangani PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero, sebagai Main Kontraktornya.

Mempunyai visi menjadi salahsatu universitas terbaik di Indonesia; maka sudah sepantasnya Universitas Hasanuddin memiliki sebuah bangunan megah dan mewah yang tak kalah dari bangunan-bangunan universitas megah lainnya yang terdapat di Jawa misalnya. Mimpi itu, kini sudah jadi kenyataan dengan berdirinya KTG Unhas yang memiliki bangunan megah dan besar serta indah, sekaligus merupakan kampus termodern di Indonesia bahkan di regional Asia Tenggara.

Pembangunan kampus FTG dengan luas 3.500 ha seperti terlihat sekarang ditaksir menghabiskan dana Rp1,1 triliun. Dalam sambutannya pada peresmian kampus FTG, April 2015, JK mengungkapkan bahwa pembangunan kampus ini bisa terealisasi atas kerjasama yang dia tawarkan kepada pihak Jepang. “Saya undang Dubes Jepang. Saya bilang sama dia, kita kan teman, dulu ada pabrik kertas lambang persahabatan. Sekarang sudah tutup. Kalau mau terus menjaga persahabatan itu, ayo sekarang kita bangun kampus,” ungkapnya.

“Saya pikir, waktu itu, kita butuh pusat teknologi untuk perkembangan Indonesia lebih baik. Saya heran kenapa fakultas besar di Jawa saja yang disebut institut teknologi. Saya ingin ada dua tambahan yang besar, di barat dan timur sehingga harus ada juga di Indonesia timur supaya sama kemampuan dan kualitas teknologinya,” ujar JK mengawali pidatonya.

Namun, tambah JK, untuk di Indonesia timur itu harus ada syaratnya, yaitu ditopang fakultas teknik dari universitas yang baik dan kuat. “Sebab itu, Unhas Saya pilih bukan karena saya dari Makassar, tetapi karena Unhas lebih baik dan kuat dari universitas lainnya di Indonesia Timur,” katanya.

“Saya mendirikan JK Center of Technology ini tidak main-main. Saya ingin kampus ini yang menjadi calon kampus riset terbaik di Indonesia. Kita harus berfikir maju, go go go bukan back back back. Jadi kamu yang pakai jaket merah (mahasiswa Unhas) kamulah penerus generasi bangsa, kita harus bisa memburu ketinggalan kita. Kalau kampus ini mewah, otak mahasiswanya juga harus mewah. Kalian harus berfikir maju dan futuristik apalagi menghadapi MEA. Go go go,” kata Wapres Wakil Presiden Jusuf Kalla membakar semangat mahasiswa. Peresmian JK Center of Technology ini diakhiri dengan penandatanganan secara simbolis pada prasasti JK Center. “Kita semua berharap, FTG menjadi kampus yang banyak digandrungi oleh calon-calon mahasiswa dari seluruh daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri. Insya Allah,” optimisnya JK.

Tentang pemberian nama JK Center, ada saja suara dan praduga miring bahwa JK Center nantinya lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis JK. Anggapan miring ini langsung ditepis oleh Dekan Fakultas Teknik Unhas, Dr Ing Ir Wahyu Haryadi Piarah MSME. Ia menjelaskan, JK Center itu hanya namanya saja untuk menghargai jasa-jasa Pak JK sehingga Fakultas Teknik Gowa ini terbangun.

Hakikinya ialah, Center of Technology yang dimaksud menjadi tempat untuk mengenalkan produk-produk Unhas dari berbagai fakultas yang ada di Unhas ke pihak industri. “Begitu ada produk terbaru Unhas akan dipamerkan ke pihak industri di tempat ini. Begitupun jika industri memiliki masalah, dapat meminta bantuan kepada Unhas untuk  bersama-sama mencari solusi,” tambahnya.

Pastinya, kata Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina, Center of Technology Unhas yang berada di Fakultas Teknik Gowa merupakan fasilitator antara Unhas dengan dunia industri. (Usamah Kadir)

ketfoto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *