Dilema Pengemis dan Gelandangan di Makassar

Salah seorang pengemis di Kota Makassar (ist)
Salah seorang pengemis di Kota Makassar (ist)

Makassar ( rakyatbersatu.com) – Barisan  pengemis dan gelandangan di Kota Metropolitan Makassar semakin bertambah panjang dan menjadi pemandangan yang tak elok. Mereka ini terpaksa menjalani  dunia mengemis dan mengharap belas kasihan orang lain,  disebabkan  keterbatasan  lapangan kerja disediakan.

Kehadiran mereka itu menjadi dilema pengambil kebijakan kota. Pada sisi lain   mungkin saja, karena adanya semacam mafia mengeksploitasi gelandangan dan pengemis yang mangkal setiap saat di sudut-sudut strategis di kota ini.

Permasalahan kesejahteraan sosial di Kota Metropolitan Makassar cenderung meningkat. Kenyataan itu  ditandai  munculnya fenomena sosial  bersumber dari  masyarakat maupun akibat  globalisasi, industrialisasi dan derasnya arus informasi dan urbanisasi.

Masalah sosial menjadi konvensional masih tetap berlanjut termasuk keberadaan anak jalanan, gelandangan, pengemis, pengamen, serta adanya pelaku eksploitasi, merupakan beban bagi Pemerintah Kota Makassar.

Gelandangan, pengemis dan pengamen merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari keberadaannya  di Kota Makassar, hal ini dipengaruhi oleh faktor kemiskinan, terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, terbatasnya pengetahuan dan keterampilan, masalah urbanisasi serta masalah kecacatan menyebabkan banyak diantara mereka demi mempertahankan hidupnya dengan terpaksa menjadi anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen di jalanan.

Ada beberapa tempat di Makassar  kerap dijadikan lokasi para pelaku pengemis dan gelandangan yaitu Jalan Pengayoman, Hertasning, Andi Pangeran Pettarani, Sungai Saddang, dan Somba Opu, Jalan Masjid Raya, Gunung Bawakaraeng, Sungai Saddang dan beberapa tempat lainnya.

Salah seorang pengemis di temui di Jl. Perintis 6 Makassar, Mustapa (60 thn)   secara terus terang mengatakan,  ‘’Kalau sudahmi sembahyang Subuh orang,  baruka turun ke jalan,  mencari rezeki maumi di apa kodong ka hidup sendiri jaki, tidak adami keluarga itupun untuk makan saja nak,  bergantung dari orang lain jaki saja, terkadang pendapatanku Rp. 20 sampai Rp 30 ribuji setiap hari belumpi itu sewa rumah yang harus di bayar,” ujar Mustafa.

Mengurangi jumlah gelandangan dan pengemis, salah satu upaya  ditawarkan pemerintah Kota Makassar adalah melakukan pembinaan terhadap   gelandangan dan pengemis tersebut. Pembinaan  itu, tidak terbatas pada usia anak dan dewasa saja akan tetapi temasuk orang tua jompo, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban akibat dari kesejahteraan yang tidak terpenuhi. (syaifullah ibrahim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *