dr Anis Anwar Makkatutu Menjaga Tradisi

dr Anis Irawan Anwar
dr Anis Irawan Anwar Makkatutu (ist)

BHAKSI SOSIAL dalam bentuk sunatan massal tahun ini memasuki tahun ke-16. Kegiatan sosial tahunan ini semula hanya dilakukan di Masjid Tompong, salah satu masjid tertua di Sulsel.

Kala itu, ahli kulit dan kelamin pertama di kawasan timur Indonesia Prof Dr dr Anwar Makkatutu mengawali untuk membantu anak-anak kurang mampu di sekitar masjid bersejarah tersebut.

Selain membantu masyarakat, perintis bagian kulit dan kelamin serta pendidikan dokter spesialis kulit dan kelamin  Fakultas Kedokteran Unhas yang namanya diabadikan di RSUD Bantaeng itu sekaligus pulang kampung bersama keluarga.

Saat dipanggil sang khalik, tradisi tahunan setiap Idul Adha itu diteruskan putra sulungnya dr Anis Irawan Anwar yang juga berprofesi sebagai dokter kulit dan kelamin.

Di tangan dr Anis yang kini sudah bergelar Doktor Spesialis Kulit dan kelamin (Sp.KK (K))dan menjadi Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar, tradisi sunatan massal yang selalu diikuti minimal 100 anak tersebut dilakukan secara rutin bekerjasama almamaternya di Unhas serta pihak RSUD Anwar Makkatutu Bantaeng.

‘’Saya pernah khawatir program ini tidak berjalan ketika saya melanjutkan pendidikan di Australia dan di Los Angeles AS. Namun, ternyata, teman-teman saya yang terhimpun dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) tetap melanjutkan.’’

‘’Saya betul-betul terkesan karena Perdoski ternyata sudah menjadikan jadwal rutin tahunan,’’ ujarnya saat ditemui di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng, Sabtu (4/10).

Selain kegiatan di bidang kesehatan, dokter Anis yang juga ditunjuk menjadi Ketua Pengurus Masjid Tompong juga rutin melakukan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di masjidnya setiap bulan ramadhan.

‘’Semua itu kami lakukan secara ikhlas membantu masyarakat karena ayah dulu suka melakukan bakti sosial,’’ tambah mantan Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Bantaeng (HPMB) periode 1977/1983 itu.

Ia mengakui, kedua kegiatan sosial itu semula hanya dilakukan di Masjid Tompong, namun sejak nama Prof Dr Anwar Makkatutu diabadikan menjadi nama RSUD Bantaeng, maka kegiatan inipun dikembangkan menjadi dua tempat ( di Masjid dan di RSUD).

Melalui kegiatan ini, kami juga sekaligus memperkenalkan kepada peserta didik dan para dokter muda dengan berziarah ke makam guru besar sekaligus perintis bagian Kulit dan Kelamin Unhas itu.

Dengan kegiatan ini, para dokter, terutama yang masih muda tak hanya membantu masyarakat tetapi lebih membiasakan menghadapi pasien. Ini penting sebab, bila tidak disunat, resikonya banyak.

Selain beresikoginjal kronis juga bisa menjadi penyebab kanker kelamin. Ini terjadi pada saat usia mencapai 40-an. Penyebabnya karena pembersihan kelamin kurang maksimal sehingga terjadi infeksi pada kemaluan.

Ini banyak terjadi, termasuk anak-anak yang disunat kampung karena menyebabkan smegma atau luka kronis menahun pada kemaluan laki-laki.

Karena itu, ia berharap setiap anak laki-laki harus disunat agar bersih sehingga terhindar dari berbagai kemungkinan penyakit kelamin. (syafar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *