Empat Wakil Gubernur Kamboja Belajar di Bantaeng

bantaeng1
Empat orang wakil  gubernur  bersama dua orang bupati dan sejumlah LSM di Kamboja belajar tata kelola sumber daya alam (SDA) serta pemberdayaan masyarakat sekaligus tentang bagaimana menghadapi tantangan.

Keempat Wagub tersebut masing-masing Wagub Provinsi Kratie, HE Khan Chamnan, Wagub Provinsi Preah, HE Suy Sarith, Wagub Provinsi Stung Treng, HE You Pasith dan Wagub Provinsi Kampong Thom, HE Huon Vannith.

Sedang dua orang Bupati yang turut dalam rombongan berjumlah 15 orang yang difasilitasi Oxfam Kamboja dan Indonesia tersebut berasal dari Provinsi Kampong Thom.

Selama dua hari di Bantaeng, para petinggi dari negara Kamboja tersebut melihat pengelolaan hutan desa di Desa Labbo serta layanan kesehatan berbasis dokter Brigade Siaga Bencana (BSB).

Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah ketika menyambut tamu negara tetangga tersebut di rumah jabatannya, Rabu (12/11) berharap, tetamunya bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Bupati pada pertemuan yang dihadiri Ketua DPRD Hj Novrita Langgara, Muspida dan Pimpinan SKPD kemudian memperkenalkan daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulsel yang pada zaman Belanda menjadi pusat pemerintahan (Afdeling) membawahi wilayah bagian selatan Sulsel.

Bantaeng yang berjuluk Butta Toa memiliki potensi 3 klaster yakni, pesisir, daratan dan pegunungan. Daerah ini juga tercatat sebagai salah satu daerah tertinggal di Indonesia, namun sejak 2010, masyarakat mulai bangkit hingga Kementerian Daerah Tertinggal mengeluarkan dari daftar.

Tidak heran bila selama ini Bantaeng tidak dilirik, namun kini sudah menjadi daerah yang hangat diperbincangkan, baik di tingkat provinsi maupun nasional.

Menurut Bupati HM Nurdin Abdullah, 5 tahun terakhir, Bantaeng tumbuh dari sektor pertanian dan ke depan diharapkan tumbuh dari sektor industri dan menjadi daerah pertumbuhan baru di selatan Sulsel.

Ia memberi gambaran tingkat kemiskinan pada 2008 yang mencapai 17,6 persen dengan angka pengangguran 13 persen, namun empat tahun kemudian, terjadi penurunan drastis.

Angka kemiskinan pada 2012 tersisa 7,5 persen dan pengangguran tersisa 3,5 persen. ‘’Bila industri yang masuk juga beroperasi, maka pengangguran diharapkan habis dan berbalik menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat,’’ urainya.

Tentang konversi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian, Pemda menghadirkan hutan desa yang dikelola masyarakat. Melalui pola tersebut, tingkat kerusakan hutan menjadi berkurang.

Di bidang kesehatan, kehadiran lembaga krisis center (BSB) yang merupakan kali pertamadi Indonesia pelayanan berbasis dokter, juga berhasil menekan angka kematian ibu dan bayi hingga nol persen.

Wakil Gubernur Provinsi Preah, HE Suy Sarith yang menjadi juru bicara mengaku sangat terkesan dengan program yang dilakukan Bupati Bantaeng.

Karena itu, ia berharap setelah kunjungan ini dilanjutkan kerjasama antara kedua belah pihak agar pembelajaran ini bisa diterapkan di Kamboja.

‘’Kami sangat kagum dan senang melihat bagaimana Bantaeng bisa membalik fakta dari daerah tertinggal menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru. Dan, perubahan besar dilakukan sejak 2008 menjadikan daerah kering menjadi daerah berpemandangan indah,’’ terang Suy Sarith.

Selain itu, tambah Wagub Provinsi Preah, kami ingin belajar banyak bagaimana meminimalisir dampak pembangunan terhadap pengelolaan sumber daya alam terhadap masuknya investasi.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pertukaran cinderamata dari Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah kepada Direktur Oxfam Kamboja Sharon Tangadurai didampingi Area Program Manager Oxfam Indonesia Erwin Simangunsong.(hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *