Film Kau dan ACI : Tontonan Sekaligus Tuntunan

Film KdAKENDATI  industri perfilman nasional sudah bangkit dari keterpurukan, namun film yang mengangkat tema pelajar masih jarang divisualisasikan ke layar lebar. Berangkat dari keprihatinan tersebut,  Muhammad Atning dan Rusdy Sulaiman dari rumah produksi Qasthalany Citra Film, mencoba mengisi kekosongan itu lewat film  Kau dan ACI (Aku Cinta Indonesia). Film untuk anak dan remaja yang kisahnya terinspirasi sukses serial ACI  tayangan TVRI era 1980-an ini namun disuguhkan sesuai kondisi kekinian namun tetap mengangkat tema utama penanaman nilai-nilai kepribadian anak remaja.

Dibintangi gabungan wajah baru – Elang El Gibran (tokoh Andi), Zulva Maharani Putri), Imam Shihab (Ian), Monica Setiawan (Tiwi),  Amel Carla (Nanda) Jay Wijayanto (Jay), Diah Budi Utomo (Cici), Denada (Salma) dan Pong Hardjatmo (Kepala Sekolah SMP di Desa Kledung Wonosobo), nilai kepribadian dan sifat mulia  seperti tanggung jawab, disipilin, kerja keras, kerja sama, persahabatan, sikap sportif, kerjasama, hingga toleransi dan saling menghargai kembali diaktualisasikan dengan gamblang. Bahkan, film Kau dan ACI (KdC)  besutan sutradara Dirmawan Hatta memberikan tuntunan kepada para penonton  maupun para orang-tua yang terlalu meng-agungkan ilmu Eksakta dan mulai mengabaikan peran positif pelajaran non-Eksakta  lewat konflik antara guru kesenian Pak Jay dengan sang Kepala Sekolah SMP yang ingin menggusur ruang kesenian menjadi laboratuarium Fisika.

Artis Pendukung film KdA
Artis Pendukung film KdA

“Selama ini terbukti, Ujian Akhir Smester (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN) tak mampu melahirkan manusia Indonesia berkualitas seutuhnya. Bahkan, nilai terbaik atau ranking di sekolah tak ada gunanya bila sang pelajar tak memilki banyak teman,” hardik Pak Jay – guru kesenian kepada Kepala Sekolah yang  ngotot melarang aktivitas kelompok paduan suara di sekolahnya.      Ditopang cerita ringan untuk para anak dan remaja plus lokasi syuting di pedesaan di pe­desaan antara Gunung Merapi dan Merbabu, yakni Kopeng Kabupaten Semarang dan Selo Boyolali plus bangunan bersejarah Plengkung  memiliki arsitek unik yang menggambarkan kekayaan alam Indonesia, film KdA  yang diputar di bioskop mulai 16 Januari lalu  praktis berbeda dengan film nasional lainnya. Dan  boleh dibilang sangat dibutuhkan anak-anak dan remaja  seiring maraknya film horor hantu-hantuan dan percintaan dewasa. “Lewat film KdA  kami berinisiatif membuat film yang berbeda agar anak dan remaja kita punya tontonan yang menghibur dan mendidik sekaligus menjadi tuntunan bagi mereka,” ujar Mochamad Adning, produser film KdA kepada RB.Com.

Kisah film KdA dibuka dengan gambaran Cahaya (Zulva Maharani Putri) sebagai murid pindahan asal Jakarta. Di sekolah barunya SMP desa Kledung Wonosobo, ia bersahabat karib dengan Andi dan Ian namun harus menghadapi beberapa konflik mulai dari percintaan, keluarga hingga persahabatan.  Konflik cinta sebagai bumbu penyedap sebagai tontonan  – bermula ketika Ian yang suka dengan Cahaya, justru menghadapi kenyataan bahwa Cahaya menyukai sahabatnya, Andi. Sementara, Cahaya pun harus patah hati lantaran ia tahu Andi menyukai wanita lain asal Yogya.  Namun sebagai tuntunan para penonton,  ketiganya pun dikisahkan harus bisa mengatasi konflik-konflik  dan dipersatukan dalam sebuah kelompok paduan suara yang  dilengkapi koreografi tarian tradional dan unsur budaya, serta harmoni indah alat musik tradisi yang sempat ditentang oleh pihak sekolah. * (naskah dan foto – ata)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *