Gurihnya Iklan Politik Tak Berimbas pada Jurnalis

Tugas seorang jurnalis penuh resiko, namun sayang kesejahteraan mereka masih terabaikan. (ist)
Tugas seorang jurnalis penuh resiko, namun sayang kesejahteraan mereka masih terabaikan. (ist)

Gaji wartawan masih menjadi persoalan yang belum bisa terselesaikan oleh perusahaan media itu sendiri. Bahkan rezeki yang diraup perusahaan media saat musim kampanye partai politik, tidak menetes ke wartawan.

Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, belanja iklan nasional diperkirakan tahun ini naik 20 persen menjadi Rp 140 triliun.

Belanja iklan politik di TV pada kampanye terbuka 16 Maret-5 April 2014 mencapai Rp. 340 Miliar.
Apakah rezeki Pemilu itu akan turun kepada para reporter? Dari data 2013, media-media nasional masih pelit mengucurkan dana untuk kesejahteraan pekerja media. Kebanyakan media di Indonesia mengeluarkan kurang dari 30 persen biaya untuk pekerja mereka.

Menurut perhitungan AJI, upah layak untuk wartawan pemula di Jakarta pada 2014 sebesar Rp 5,7 juta per bulan. Namun sayangnya, dari 55 media di Jakarta yang disurvei baru-baru ini, sebagian besar perusahaan media menggaji wartawannya yang baru setahun bekerja hanya sekitar Rp 3 juta per bulan.

“Kami ingin mengimbau khususnya perusahaan media yang memberikan gaji di bawah standar untuk memenuhi Kepmenperindag 121/tahun 2002 sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawabannya kepada pegawai dan publik,” ujar Umar Idris ketua AJI Jakarta, dalam rilisnya, Kamis (1/5/2014).

Kepmenperindag mengatur tentang Ketentuan Penyampaian Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan mengharuskan perusahaan dengan kriteria tertentu untuk menyerahkan laporan keuangan perusahaannya ke Kementerian Perdagangan.

Umar melanjutkan, secara keseluruhan total pengeluaran, perusahaan media di Indonesia masih relatif lebih rendah porsi pengeluran gaji untuk pegawainya.

Berikut adalah perhitungan dan perbandingan gaji wartawan di Indonesia dan luar negeri oleh AJI antara lain:
Dalam Negeri: Tempo Group pada 2013 total belanja pegawainya adalah Rp 73,7 miliar. Sementara total pendapatannya adalah Rp 262,2 miliar. Rasio gaji dibanding pendapatan adalah 28 persen.

Viva Group (Vivanews, TVONE, ANTV) pada 2012, total gaji pegawai Rp 292 miliar sementara total pendapatan Rp 992,6 miliar. Rasionya adalah 29 persen.

Data tersebut sangat berbeda dengan di luar negeri. Fairfax Media pada 2013 mengeluarkan anggaran pegawai 786,9 juta dolar AS dari 2,01 miliar dolar AS total pendapatan. Itu artinya rasio biaya pegawai dengan pendapatan sebesar 39 persen.

Euromoney bahkan jauh lebih besar lagi. Rasio belanja pegawai dengan pendapatannya sebesar 40 persen pada 2012. Sementara SCMP GROUP (South China Morning Post HK) pada tahun yang sama rasionya adalah 37 persen.(sumber tribunnews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *