Hakamuddin Djamal dalam Kenangan

Hakamuddin Jamal bersama sahabat lamanya, antara lain Hasan Basri  Jhon Theodore,dan Wilianto Tanta saat menghadiri peresmian Karebosi Condotel Hotel, Senin 2 Februari 2015 (uka)
Hakamuddin  Djamal bersama sahabat lamanya, antara lain Hasan Basri Jhon Theodore,dan Wilianto Tanta saat menghadiri peresmian Karebosi Condotel Hotel, Senin 2 Februari 2015 (uka)

Makassar, RBC – Hakamuddin Djamal; salahseorang yang banyak diberi kemudahan oleh Allah Swt semasa hidupnya. Daeng Rewa – sapaan akrabnya – pernah membuat banyak orang terkagum-kagum dan terperangah.

Betapa tidak, ketika baru beberapa waktu dilantik sebagai Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel – dengan pangkat eselon II (baru), dalam tahun 1997, Hakamuddin dilantik lagi menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel dengan pangkat eselon I. Artinya, dalam satu tahun itu, Hakamuddin dua kali naik pangkat.

Seingat Saya, hanya Hakamuddin seorang PNS di Provinsi Sulsel yang membuat “kejutan” seperti itu. Tak pelak lagi, banyak pejabat lain (tentu saja yang tidak senang kepadanya, jadi iri dan cemburu, lalu melempar isu bahwa Hakamuddin ber”main api” dengan orang pusat untuk menduduki jabatan tertinggi dalam karier PNS itu). Ketika penulis menyampaikan kondisi ini kepadanya, sambil tertawa lepas dia mengatakan; “Biar saja Uka (kependekan nama Saya). Kita bekerja saja, terserah orang mau bilang apa.”

Hari-hari selama Hakamuddin menjabat Sewilda Sulsel adalah hari-hari yang menyenangkan bagi sejumlah wartawan yang posting di kantor Gubernur Sulsel. Ada kebiasaan Hakamuddin yang tidak biasa dilakukan pejabat lain. Setiap sore ketika kantor gubernur mulai sepi karena karyawan sudah sebagian besar pulang, Hakamuddin keluar dari ruang kerjanya. Dia celingukan mencari wartawan. “Eh, siniko kita cerita di kamarku. Masih pekerjaanku. Temanika ngobrol sambil kerja,” katanya kepada siapa saja wartawan yang dia temukan.

Hakamuddin sepertinya tak betah sendirian di ruang kerjanya. “Kenapa kita tidak mau panggil karyawan untuk temaniki di sini,” tanyaku suatu hari. “Janganmi. Kasihan, mereka kan sudah waktunya pulang. Kalau wartawan kan tidak punya jam kerja. Jadi bebaska panggilki. Santai to. Eh itu, ambil sendiriko minuman di situ,” katanya sambil menunjuk kulkas mini di sudut ruangan. Dia kemudian kembali ke meja kerjanya, memeriksa dan menandatangani setumpukan surat yang membukit di atas mejanya.

Ketika dia digantikan sebagai Sekwilda Tk. I Sulsel oleh H. Abd. Malik Hambali, Hakamuddin mendapat promosi jabatan di Departemen Dalam Negeri. Orang-orang sudah mengira, Hakamuddin sudah “habis”. Tahu-tahu, dia bikin “kejutan’ lagi. Pada tanggal 17 November 2000 Hakamuddin dilantik menjadi gubernur pertama Provinsi Banten sebagai pelaksana tugas.

Hakamuddin seorang pekerja keras. Pejabat Banten mengakui, Hakamuddin sukses menjadi perancang dan peletak dasar pembangunan di Banten. Pada tahun 2004, sebagai anggota media center JK, dua kali penulis ke Banten ikut rombongan Pak JK. Waktu itu, Pak JK berposisi sebagai cawapres dari capres SBY pada masa kampanye menjelang Pilpres 2004.

Tak lama setelah digantikan jabatannya oleh Djoko Munandar sebagai Gubernur Banten terpilih pada 11 Januari 2002, beberapa tahun kemudian nama Hakamuddin kembali mencuat sebagai Komisaris PT Angkasa Pura.

Kenangan Saya bersama almarhum terakhir ketika bersama-sama menghadiri peresmian  Karebosi Condotel milik pengusaha Hasan Basri di Makassar, pada 2 Februari 2015. Sebelum beliau kembali ke Jakarta sore hari itu, Kami sempat berbincang santai berdua di lobi hotel. Kami banyak membahas tentang situasi pemerintahan dan politik negeri yang terus memanas ini. Beliau sempat mengenalkan Saya dengan Dirut Angkasa Pura II yang menemaninya.

Sebelum berpisah almarhum berpesan; “Uka, nanti dari Batam, mampirko di Jakarta. Telponka na, kita ketemu di mana,” pesannya. Sekembali dari Batam tanggal 11 Februari 2015 menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2015, ketika pesawat kami transit di Cengkareng, Saya menelepon Hakamuddin, tapi ternyata dia sedang berada di Makassar untuk melayat jenazah Andi Oddang.

Itulah kaitan hubungan Saya dengan Hakamuddin hingga beliau dikabarkan meninggal dunia, Minggu (15/3/2015) pukul 15.00 di RS Pondok Indah, Jakarta. “Kami semua turut berduka, dan mendoakan agar beliau diterima iman Islamnya,” kata Kepala Biro Humas Pemprov Banten Deden Apriyandi saat diknfirmasi melalui telepon genggamnya, Minggu (15/3/2015). Deden mengatakan, Plt Gubernur Banten Rano Karno telah mengutus Asisten II Iing Suwargi dan Kepala DPPKD Wahyu Waradana untuk melayat ke rumah duka di Jakarta Selatan.

Jenazahnya di terbangkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, tanah kelahirannya, pada pukul 02.00  dini hari itu, dan langsung dibawa ke rumah pribadinya di Jalan Tulip C2 No.19 Panakukang Mas, Kota Makassar.

 Pamong Bersih

Walikota Makassar Danny Pomanto, juga punya kenangan manis bersama almarhum. Setidaknya, Hakamuddin sengaja datang ke Makassar untuk mengucapkan selamat kepadanya ketika dilantik bersama Syamsu Rizal menjadi Walikota dan Wakil Walikota Makassar, Minggu (22/9/2013)

Hari itu, Danny – sapaan Danny Ramdhan Pomanto – bertemu Hakamuddin di lantai 8 Hotel Imperial Aryadutha, Jl Penghibur, malam sebelum pelantikan. “Selamat yah Dan,” kata Hakamuddin di depan lift sebelum naik ke lantai 8. “Terimakasih Pak,” ucap Danny singkat. “Dan, pemerintahan itu seni. Sehingga butuh ritme untuk menjalankan roda pemerintahan,” kata Hakamuddin dikutip Danny. “Saya berterimakasih mendapat wejangan dari pamong senior seperti beliau,” kata Danny kepada penulis. “Kita kembali kehilangan tokoh panutan. Almarhum meninggal sore ini di rumah sakit pondok Indah dalam keadaan sangat tenang,” ujar Danny.

Danny yang mengaku kaget saat pertama kali mendengar kabar duka tersebut. Dia  segera mengecek langsung di rumah sakit tempat Hakamuddin dirawat. “Kebetulan saya sedang mengikuti diklat di Jakarta. Makanya saat mendapat kabar duka itu saya segera mengecek ke rumah sakit. Ternyata informasinya A1,” katanya.

Danny mengaku, Hakamuddin merupakan tokoh yang sering diajaknya berdiskusi sekaligus meminta wejangan terkait urusan pemerintahan. “Almarhum cukup dekat dengan Kami. Apalagi beliau adalah pamong senior yang sarat pengalaman. Banyak sekali wejangan dan nasehat yang diberikan, terutama sejak Kami dilantik sebagai Walikota Makassar. Saya anggap almarhum sosok pamong yang bersih. Sama sekali Saya belum pernah mendengar beliau tersandung kasus atau masalah sepanjang karier beliau di pemerintahan,” kata Danny.

Boleh jadi itu sebabnya Danny tidak ragu memberikan kesempatan kepada Achmad Hendra putra kandung almarhum untuk mengikuti lelang jabatan eselon II di pemerintahannya, dan lulus menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Pemuda Olah Raga (Kadispora) Kota Makassar.

 Arsitek Politik Atut

Media online Inilah.com, Jumat, 14 Februari 2014, menurunkan opininya dengan menyebut Hakamuddin sebagai arsitek (mentor) politik Ratu Atut Chosiyah SE sehingga sukses menyabet kursi Gubernur Banten. Pada saat Banten dikukuhkan sebagai provinsi, nama Atut belum muncul.

Nama Atut muncul agak mengejutkan banyak kalangan tokoh politik Banten pada waktu itu seperti Eky Syahruddin (almarhum), Triana Samun, dan Mochtar Mandala yang aktif memperjuangkan pemisahan Banten dari Provinsi Jawa Barat. Pasalnya, nama Atut muncul dan langsung bersanding dengan Djoko Munandar sebagai wakil gubernur.

Siapa arsitek di balik melesatnya nama Atut di pentas politik Provinsi Banten? “Dialah Hakamuddin Djamal. Lelaki asal Makassar yang kini menduduki Komisaris PT Angkasa Pura I. Selama periode 2000-2002,” kutip Inilah.com. Hakam – demikian media online ini menyingkat nama Hakamuddin – intens bergaul dengan Chasan Sohib, ayah Atut. Hampir tiap sore pada hari kerja, Chasan Sobih rajin menyambangi ruang kerja Hakamuddin sebagai Gubernur Banten.

Pasca Gubernur Banten dan jadi Staf Ahli Mendagri, keluarga Atut masih berhubungan intens dengan Hakamuddin yang memang dikenal piawai dalam mengatur strategi politik pemerintahan. Hakam pandai mengader Atut sebagai calon gubernur.

Mengapa Hakamuddin merancang dan memasangkan Atut dengan DjokoMunandar, politisi PPP? Kok tidak dengan Triana Syamun atau tokoh Banten yang lain? Hakamuddin tahu persis Djoko Munandar memiliki kelemahan finansial. Tetapi memiliki jumlah kursi yang memadai di DPRD Provinsi. Lalu, Atut yang membawa bendera Partai Golkar memiliki uang. Golkar sendiri pada waktu itu sedang terpuruk kena imbas Reformasi 1998.

Djoko Munandar yang dilantik pada 11 Januari 2002 jadi Gubernur Banten, hanya bertahan tiga tahun. Djoko dinonaktifkan pada 10 Oktober 2005 karena tersangkut kasus korupsi. Dan, Atut pun naik menjadi Plt. Gubernur Banten 2005-2007.Pada Pemilukada 2008, Atut terpilih sebagai Gubernur Banten periode 2008-2012. Pada Pemilukada 2012, Atut yang berpasangan dengan Rano Karno (PDI Perjuangan) terpilih kembali. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *