Ita Purnamasari Kian Eksis di Panggung Jazz

 

Ita Purnamasari
Ita Purnamasari

WALAU  era kejayaannya sebagai Lady Rocker telah lama berlalu, Ita Purnamasari (47  th 4 bln), punya cara tersendiri untuk terus eksis dan berkibar di blantika musik nasiona.l Seiring  maraknya  festival Jazz di   penjuru tanah air yang sudah mencapai 54 event, peraih BASF Awards 1991 ini pun gigih mempelajari seluk beluk musik asal Amerika Serikat dengan akar dari musi- Afrika –Eropa yang digeluti  serius musisi Dwiki Dharmawan – sang suami Alhasil, penyanyi kelahiran Surabaya, 15 Juli 1967 ini, belakangan  pun kian eksis di panggung Jazz.

“Alhamdulillah, belakangan job tampil di festival Jazz mengalir cukup deras. Bahkan, ketika tampil bareng Mas Dwiki di Jazz Traffic Festival – Surabaya akhir November lalu, saya juga didapuk Nyinden lagu Ilir-Ilir. Jadi, tak lagi sekedar penyanyi pop rock tap kini saya harus serba-bisa,” papar Ita Purnamasari kepada RB.Com  selepas jumpa pers Festival Jazz @ Kota Tua 2014 di Museum Wayang – Jakarta Barat, Kamis petang (11/12) lalu.

Dalam  Festival Jazz  Kawasankota Tua perdana digelar Kurator Dwiki Dharwanan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta  Sabtu (13/12) pagi hingga malam, selain menampilkan Ita Purnamasari bersama Ify  Blink dan FARABI Rising Stars juga memanggunggkan gitaris Amerika Serikat – Belado, Saxophonist Austraia – Dale Barlow, Steve Thornton (Perkusi New York), band Kraakatau Ethno, Dewa Budjana Quintet, Simak Dialog, Bandanaira, Yuri Jo Collective, Ligro Trio, Rio Moreno, Latin Combo, Ina Ladies, Lantun Orchestra feat Intan Soekojo  dan Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra.

Diakui Ita, statusnya sebagai istri musisi dan penggiat festival Jazz di berbagai tempat tanah air, bukan jaminan baginya untuk mudah merambah panggung Jazz. “Awal-awalnya, pasti susah. Tapi, berkat keinginan kuat plus  kegigihan menjadi penyanyi serba-bisa – termasuk piawai melantunkan lagu-lagu berirama Jazz, semua kendala dapat saya atasi. Apalagi, pentas-pentas Mas Dwiki yang saya ikuti – banyak memberi pelajaran dan wawasan, hingga panggung Jazz kini makin lama makin menyenangkan buas saya,” jelas Lady Rocker  pertama mengorbit lewat album “Fatimah” (1987) dan “Penari Ular” (1988) yang terakhir melansir solo album “Tak Hilang” tahun 2000 itu.

 Ita Purnamasari (dua dari kanan) dan para wakil penampil Jazz @ Kota Tua

Ita Purnamasari (dua dari kanan) dan para wakil penampil Jazz @ Kota Tua

Sebelumnya, Dwiki Dharmawan kepada wartawan mengatakan, pihaknya sudah tujuh tahun silam merencanakan gelaran Jazz @ Kota Tua. Namun, baru sekarang mendapat izin resmi dari Enny Prihantini – Direktur Museum Sejarah – Jakarta. “Musik Jazz yang kian digemari di seluruh dunia, masuk ke Indonesia pada penghujung era kolonial Belanda. Karenanya, sejak tujuh tahun silam saya sangat ingin menggelar perhelatan  Jazz di Kawasankota Tua – Pintu Besar Utara – Jakarta Barat, sebagai bagian dari kampanye kepedulian terhadap pentingnya konvervasi dan revalisasi kawasan bersejarah,” ujar Dwiki yang sangat terobsesi menggelar festival Jazz di pulau-pulau terluar Indonesia seperti Sangie Talaud, Sebatik, Tanibar – Maluku dan perbatasan Papua bekerjasama dengan Kementrian Pertahanan dan Kemendagri.* (naskah dan foto – ata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *