Jadikan Indonesia Raja Tuna Dunia

Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti (ist)
Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti (ist)

Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti terus melakukan gebrakan di sektor perikanan. Setelah cukup sukses membuat ketar-ketir perampok ikan asing dengan aksinya membakar habis kapal mereka

Kini,Menteri Susi kembali membuat terobosan melalui berbagai program yang telah disusunnya. Tidak tangung-tanggung, Menteri Susi mengajukan anggaran sebesar 31 triliun. Jumlah uang sebanyak itu akan digunakan untuk menjadikan Indonesia sebagai raja tuna dunia.

Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Selasa, 16 Juni 2015, Susi Pudjiastuti mengatakan anggaran yang dibutuhkan tahun depan akan diarahkan pada pagu indikatif untuk tiga program unggulan yakni 30 persen untuk sektor kelautan, 50 persen keberlanjutan dan 20 persen untuk kesejahteraan nelayan.

” Dari masing-masing alokasi sebesar 60 persen difokuskan untuk stakeholder kalautan dan perikanan,” ungkap Susi.Susi mengakui bahwa dalam rapat anggaran 2016 dengan Presiden Jokowi,acuan anggaran kementerian yang dipimpinnya mencapai Rp 25 triliun. Namun Susi sangat berharap bisa lebih atau dikisarab Rp 31 triliun. “Mudah-mudahan komitmen ini disetujui, dan DPR juga bisa menyetujui hal ini,” tuturnya.

Dihadapan anggota dewan yang terhormat, Menteri Susi mengungkap soal Permen 67 tentang pelarangan transhipment atau bongkat dan muat di laut. Bahkan Susi tidak akan mencabut peraturan tersebut meski diprotes para pengusaha ikan.

Untuk menegakkan peraturan yang itu dibuatnya itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan memasang kamera pemantau atau alat lainnya untuk melihat proses pengangkutan ikan dari kapal ke pelabuhan.

“Tidak ada yang salah dengan permen tersebut, aturan itu sesuai dengan peraturan internasional dan sudah diratifikasi. Jika kita tidak patuh maka kita dikucilkan. Dan atas dasar itu badan dunia mengeluarkan kartu kuning untuk Filipina dan Thailand. Itu artinya momen bagi kita (Indonesia) untuk merajai pasar ikan dunia, ” ungkap Menteri Susi.

Susi Pujiastuti meneskan lagi bahwa pihaknya tidak akan mengubah permen 67 tersebut. Namun dia membolehkan kapal ikan mengangkut ke pelabuhan terdekat, kemudian kapa-kapal besarnya menunggu di pelabuhan. Cara ini akan menghidupkan para pengusaha angkutan perikanan Indonesia.

“Minggu ini akan menjajaki final untuk permasalahan alat untuk mengawasi dan memonitor. Karena kalau tidak spesifik akan disalahgunakan untuk memindahkan tangkapan-tangkapan ikan kita kepada kapal-kapal yang menunggu di laut dalam dan membawanya langsung ke luar negeri,” tutur Susi.

Terkait moratorium atau pembekuan izin kapal eks asing, aksi ini menjadikan pencurian ikan berkurang, juga membuat industri kapal dalam negeri meningkat. Sudah banyak pengusaha ikan yang mulai menggunakan kapal dalam negeri.

“Kemudian Permen 59 pelarangan Ikan Hiu dan Hiu Martil di Indonesia, saya kira sudah sesuai dengan on close yang diberlakukan dalam rangka konservasi dunia, dan memang hiu tersebut sudah banyak berkurang di Indonesia,” kata Susi. (yd/bbs)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *