Jaja Mihardja Gigih Wujudkan Impian

Jaja MiharjaSUKSES penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) 2013 di Semarang, 7 Desember lalu, melecut  semangat aktor senior dan serba-bisa  Jaja Mihardja (69 th) untuk  terus gigih menjaga impian lama sekaligus bisa segera mewujudkannya yakni bermain dalam film drama serius.

“Sukses FFI Semarang membangkitkan atmosfer perfilman nasional seperti masa kejayaan era 70 hingga awal 90-an. Seiring indikasi industri film bakal bangkit lagi, saya pun kian gigih menjaga dan segera mewujudkan impian lama  yakni terlibat dalam film drama serius. Tak melulu main drama komedi saja,” papar Jaja Mihardja kepada RB.Com  saat menjadi tamu VVIP  FFI di Semarang, belum lama berselang.

Menurut komedian Betawi, penyanyi  dan presenter Dangdut, bintang film, sinetron, iklan kelahiran Jakarta, 1 November 1944 ini, belakangan ini impiannya lepas dari peran stereotype- komedi  kuat sekali. “Pemicunya, saya ingin membuktikan bahwa saya tak hanya bisa bermain komedi saja. Tapi, mampu juga berakting serius. Dan kalau  boleh memilih, saya ingin beradu akting dengan Slamet Rahardjo,” tandas Jaja yang berakting meyakinkan memerankan Bapak Mae (Nirina Zubir) dalam film Get Married itu.

 Gusti Randa dalam Diskusi Film Indonesia dalam Pusaran Politik Terkini

Gusti Randa dalam Diskusi Film Indonesia dalam Pusaran Politik Terkini

 Presiden Pro Perfilman

Sementara dalam diskusi “Film Indonesia dalam Pusaran Politik Terkini” gelaran Tabloid deKandikat di Semarang yang menampilkan pembicara Djonny Safruddin dari Gabungan Pengusaha Bioskop Seleruh Idonesia, Sonny Pujisasono (Perfiki), Triyanto Triwikromo (Redpel Suara  Merdeka), Gusti Randa (aktor), Ricky Sutanto (politisi PKPI), mengungkap perkembangan terkini industri perfilman nasional terkini termasuk munculnya beberapa festival film yang mencuatkan optimisme kebangkitannya. “Sehari menjelang puncak FFI, semarang banjir artis dan semarak dengan pesta rakyat plus kegiatan insan film. Jawa Tengah benar-benar jadi  pionir  kebangkitan  dan pengembangan film nasional. Dalam waktu dekat ini, akan hadir bioskop di Kudus, Magelang dan Tegal selanjutnya diikuti kota-kota besar lainnya di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,” ujar Djonny Syafruddin, ketua GPBSI.

Menurutnya, dimasa kejayaan perfilman nasional, bioskop di seluruh tanah air melebihi 3.000 layar. Namun, seiring krisis ekonomi akhir 1990-an, banyak gedung bioskop yang tutup dan menyisakan ratusan layar saja. “Beberapa tahun kedepan, GPBSI mentargetkan setidaknya jumlah layar yang memutar film di seluruh Indonesia mencapai seribu bioskop,”  harap Djonny.

Aktor senior, produser film dan pengacara, Gusti Randa berharap, Pilpres 2014 nanti memunculkan Presiden RI ke-7 yang pro kemajuan industri perfilman nasional. “Kita berdoa agar Presiden RI yang baru nanti benar-benar cinta perfilman nasional. Lewat serangkaian kebijakannya yang pro industri film dalam negeri, kejayaan kembali film Indonesia seperti era 70 – 80 an, tinggal tunggu waktu,” ujar Gusti Randa yang pernah memproduseri Film Marsinah – Cry Justice tahun 2001 namun banyak menuai protes dari pemerintah itu. * (naskah dan foto – ata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *