Kado Pahit KPK di Ultah Hadi Purnomo

Hadi Purnomo (ist)
Hadi Purnomo (ist)

Kado pahit di ulang tahun Hadi Purnomo, mantan Ketua BPK yang lahir pada 21 April 1947 harus diterima dengan lapang dada. Pasalnya, pria yang tepat di usia 67 tahun hari ini, Senin 21 April 2014, KPK memberikan kado pahit, mantan Dirjen Pajak itu ditetapkan sebagai tersangka.
Penetapan tersangka tersebut diumumkan langsung oleh Ketu KPK Abraham Samad. Hadi Purnomo dijerat penyidik dalam kapasitas sebagai Direktur Jenderal Pajak periode 2002-2004.

“Adapun kasus yang akan kami sampaikan duduk perkaranya adalah kasus yang melibatkan mantan Dirjen pajak, Ketua BPK, HP (Hadi Poernomo) sebagai tersangka,” kata Abraham Samad.

Ditegaskan Abraham, Hadi diduga melakukan perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang terkait permohonan keberatan BCA selaku wajib pajak pada 1999. Hadi juga diduga menyalahi prosedur dengan menerima surat permohonan keberatan pajak BCA.

Dia disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara itu Hadi Purnomo dalam acara perpisahan di Kantor BPK Jakarta mengatakan, bahwa tepat di hari lahirnya ia mengakhiri tugasnya di BPK.

“Hari ini adalah hari terakhir bagi saya (bertugas di BPK), saya ingin mengucapkan terimakasih . Selama 4 tahun 6 bulan atau selama 1.200 hari saya telah mengabdi di BPK,” tutur Hadi Poernomo.

Hadi Purnomo saat di temui wartawan menngatakan tidak mengetahui dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. “Saya tahu lewat pemberitaan di TV,” katanya.

Ketika diberondong bermacam pertanyaan oleh wartawan, Hadi hanya mengulang-ulang jawaban bahwa dirinya tidak menduga apapun. Dirinya akan mengikuti proses hukum KPK.  “Saya akan mengikuti proses hukum yang akan dilakukan KPK,” ujar Hadi.

Harta Hibah

Sebagai seorang pejabat, Hadi Poernomo sempat membangkitkan kontroversi ketika laporan harta kekayaannya penuh dengan harta bersumber dari hibah. Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) pada 9 Februari 2010 lalu, Hadi Poernomo memiliki harta kekayaan sekitar Rp 38,8 Miliar.

Dalam laporan keuangan para petinggi pejabat BPK itu, harta kekayaan Hadi Poernomo tercatat paling besar jika dibandingkan dengan pemimpin lembaga pengaudit keuangan negara tersebut. Kendati begitu, dalam laporan pengakuannya, dia menyebut jika harta yang dimilikinya sebagian merupakan bagian dari hibah.

“Dari Rp 38,8 miliar, yang hibah adalah harta tidak bergerak berjumlah Rp 36 miliar. Tetapi, itu hibah pada 1983, 1985, 1987, dan 1990. Itu semua sembilan harta berupa tanah dan bangunan,” kata Hadi saat pengumuman harta kekayaannya 2010 lalu.

Mantan dirjen pajak, kementerian keuangan itu menuturkan, meski sebagian hartanya merupakan pemberian orang, saat itu Hadi mengklaim jika hartanya merupakan hasil yang sah atau halal. Dia mengaku sebagian hartanya itu merupakan warisan dari orang tua, kerabat, dan mertuanya. “Semua harta hibah saya ada aktanya. Semua ada notarisnya. Jadi, harta saya ini lebih dari halal,” kata Hadi.

Berdasarkan catatan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), jumlah kekayaan Hadi dalam kurun waktu empat tahun meningkat tajam sebesar Rp 12 miliar. Rinciannya, pada 14 Juni 2006 Hadi melaporkan kekayaannya saat itu sebesar Rp 26,6 miliar dan USD 50 ribu. Sementara dalam data LHKPN pada 6 Juli 2001, jumlah kekayaannya tercatat Rp 13,8 miliar dan USD 50 ribu.

Dalam data yang dilaporkan kepada LHKPN pada 9 Februari 2010, total kekayaannya meningkat menjadi Rp 38,8 miliar.(yd/tribunews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *