Karya Ilmiah Alat Ukur Kemampuan Mahasiswa

Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si
Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si

Makassar (rakyatbersatu.com) – Salah satu cara mengukur   kemampuan mahasiswa menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya,  ialah mewajibkan menyusun suatu karya tulis ilmiah dilihat dari jenjang pendidikan tinggi.  Karya ilmiah  dibuat mahasiswa mempunyai istilah  berbeda.

“Pada tingkat program diploma (D1 s/d D3, laporan kerja praktek.  Jenjang  S1  dikenal  skripsi,  jenjang S2  dikenal tesis, tingkat  S3  dikenal disertasi, sebagian perguruan tinggi di luar negeri disebut  doctor thesis, ” ungkap Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si di Makassar, Kamis, 5 Nopember 2015.

Dijelaskan Agustang, perbedaan sebutan karya tulis ilmiah tidak hanya menunjukkan tingkat atau jenjang program pendidikan, tetapi juga menuntut adanya perbedaan kualifikasi atau bobot tulisannya.

“Ada kesan pembedaan tingkat karya ilmiah itu seolah-olah didasarkan pada jumlah halaman tulisannya; maksudnya, skripsi harus lebih tebal dari laporan kerja lapangan, tesis harus lebih tebal dari skripsi, dan disertasi harus lebih tebal dari tesis,” tandas salah seorang  staf Media Center Kantor Gubernur Provinsi  Sulsel ini.

Tidak heranlah kalau ada upaya agar karya tulis kelihatan tebal, maka diperbanyak penyajian tulisan pada bab tinjauan pustaka. Penyajian materi dalam tinjauan pustaka dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan-bacaan.

“Akibatnya, terjadilah penyajian materi dalam tinjauan pustaka yang tidak proporsional lagi, yaitu jumlah halamannya jauh lebih besar dari isi bab pembahasan,” ungkap doktor sosiologi antropologi PPs Universitas Padjajaran Bandung ini.

Malahan ada bab tinjauan pustaka isinya mirip  diktat pengantar mata kuliah karena  merupakan kumpulan definisi, pendapat dan pernyataan penulis tertentu.   Pengalaman tersebut memberikan kesan adanya kekurang pengertian tentang apa yang dimaksud tinjauan pustaka dalam suatu karya ilmiah yang disebut skripsi, tesis dan disertasi.

Kesan lain menunjukkan seolah-olah semua teori atau pendapat yang dikutip harus diakomodasikan dalam satu bab yang disebut bab tinjauan pustaka. Dengan kata lain, dalam bab pembahasan tidak dikemukakan lagi teori-teori atau kutipan-kutipan pendapat orang lain.

“Dengan memperhatikan perkembangan dan  pengalaman, sikap semacam itu kelihatannya menari disoroti dan perlu diperhatikan bagi pengelolah perguruan tinggi terutama yang mencetak magister dan doktor,” kata pria kelahiran Bone ini.

“Terjadinya perbedaan itu mungkin karena rujukan yang digunakan tidak sama atau karena telatnya antisipasi terhadap perkembangan sehingga ketinggalan dalam melakukan perubahan, tutup Andi Agustang. (yaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *