Kasus Empang Labba di Sanrobone: Ahli Waris Mando Bertekad Pertahankan Miliknya Hingga Titik Darah Penghabisan

Empang Labba yang diklaim milik Mando Dg Nuru (almarhum) di Dusun Lau, Desa Sanrobone, Kec. Sanrobone, Takalar.(ist)
Empang Labba yang diklaim milik Mando Dg Nuru (almarhum) di Dusun Lau, Desa Sanrobone, Kec. Sanrobone, Takalar.(ist)

Takalar (Rakyat Bersatu).
Sebidang empang yang terletak di Dusun Lau, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Takalar, kini menjadi sebab terjadinya sengketa perdata antara ahli waris Mandosa Dg Nuru (almarhum) dengan ahli waris Hj. Jumariah Dg Sangnging dan dengan ahli waris Amin Ya’kub Dg Nyau.

Ceritanya begini ini: Seorang warga Dusun Bontoa, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone bernama Mandosa atau Mando Dg Nuru memiliki empang seluas 19.568 M2, dengan alas hak Sertifikat Hak Milik (SHM) No. Induk 50 atas nama Mando Daeng Nuru yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Takalar, tahun 1975. Empang yang disebut ‘Empang Labba’ inilah yang digarap oleh Mando untuk menghidupi isteri dan delapan anaknya.

Suatu hari di tahun 2000, Mando butuh dana. Dia lalu mengambil kredit di BRI setempat dengan jaminan empangnya. Belakangan, empang tersebut diserahkan kepada seorang bernama H. Zaenal Dg Beta untuk dikelola. Antara Mando dengan Zaenal – menurut ahli waris Mando – terjadi perjanjian yang isinya – antara lain – Zaenal diberi hak mengelola empang tersebut dengan kewajiban dia harus membayar bunga kredit pinjaman Mando di BRI setiap bulan. Kondisi ini berlangsung hingga Mando dan Zaenal meninggal dunia.

Sangat disayangkan, tidak ada seorang pun yang bisa menjadi saksi ketika terjadi perjanjian antara Mando dengan Zaenal – termasuk – tidak ada yang tahu isi perjanjian kedua orang ini.

Karena Mando sudah meninggal dunia, pihak BRI mengembalikan SHM empang milik Mando. SHM itu diterima dan disimpan sekarang oleh isteri Mando bernama Cina Dg Rallang. Hutang Mando di BRI dianggap lunas karena sang peminjam sudah meninggal dunia.

Belakangan, para ahli waris Mando, yaitu putra putri Mando yang jumlahnya (8) delapan orang, jadi kaget karena tiba-tiba ada pihak lain yang mengaku pemilik empang Labba itu. Pihak yang mengaku jadi pemilik empang ialah seorang bernama Nur Asri, anak dari Amin Ya’kub.

Kabarnya, Nur Asri membeli empang milik Mando itu dari Jumariah Dg Sangnging, isteri Zaenal (almarhum) sebesar Rp200 juta. Karena merasa telah membeli empang itu, maka Amin Ya’kub sekeluarga mengelola dan mengambil hasil empang tersebut. Para ahli waris Mando yang hidup miskin dan tak seorang pun yang mempunyai pekerjaan tetap, tidak mampu berbuat apa-apa melihat empang milik orang tua mereka, dikuasai dan dinikmati hasilnya oleh pihak lain.

Jadi Tersangka
Meski sangat jengkel dan emosi karena empang warisannya diserobot orang, para ahli waris Mando tidak mampu menuntut dan berbuat sesuatu untuk mengambil kembali empang milik mereka. Hingga pada suatu hari, salah seorang menantu Mando bernama Amir Dg Beta, sudah tidak mampu menahan emosinya, lalu pergi ke empang Labba di Dusun Lau yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya di Dusun Bontoa.

Di empang itu, Daeng Beta merusak pematang empang dan mencabut sebuah ‘papan baca’ yang dipasang oleh ahli waris Amin Ya’kub, di pinggir empang. Akibatnya, ahli waris Amin Ya’kub melalui pengacaranya yang bernama Yasser S Wahab dari organisasi pengacara PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia), mengadukan Daeng Beta ke Polsek Mapsu dengan tuduhan pengrusakan dan pencurian.

Polsek Mapsu dengan cepat memroses pengaduan ini, dan segera memanggil Daeng Beta untuk diperiksa. Dua kali Daeng Beta memenuhi panggilan polisi, termasuk panggilan melalui surat No. Spgl/12/1/2014/Reksrim, tanggal 24 Januari 2014 yang ditandatangani Kapolsek Mapsu AKP H. Mangkalana. Surat panggilan ini diserahkan Aiptu Muhiddin Aziz.

Setelah digelar, Polsek Mapsu langsung menetapkan Dg Beta sebagai tersangka perbuatan pidana yang melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP yakni melakukan kekerasan terhadap orang atau barang secara bersama-sama di muka umum.

Meski tidak ditahan, hari-hari ini Daeng Beta tidak sebebas dulu lagi mencari nafkah untuk keluarganya, karena statusnya sudah menjadi tersangka. Ketika ditemui di rumahnya di Dusun Bontoa, Sanrobone, Takalar, Daeng Beta bersama ahli waris Mando mengatakan, mereka tidak menerima tuduhan polisi yaitu merusak pematang empang, karena menurut mereka, empang tersebut adalah empang milik mereka sendiri, bukan milik orang lain. “Bukti bahwa empang ini adalah milik kami, karena sertifikat aslinya atas nama Mando, ada pada kami sebagai ahli waris,” kata Daeng Beta yang dibenarkan oleh istri almarhum Mando; Cina Dg Rallang. “Sedangkan kalau keluarga Amin Ya’kub mengaku telah membeli empang itu dari Jumariah, coba munculkan surat Akta Jual Beli (AJB)nya. Kita harus periksa AJB itu, apakah sah atau tidak,” kata Daeng Beta, kesal.

“Saya ini hanya menantunya Pak Mando. Tapi semua ahli warisnya memberikan surat kuasa di atas materai kepada Saya untuk memperjuangkan hak-haknya. Nah, karena empang itu milik Kami, terserah. Kami mau bikin di empang itu. Pematang empang Saya jebol, kenapa diributkan. Itu kan milik Kami sendiri. Kenapa pengacaranya Amin Ya’kub melapor ke polisi?” kata Dg Beta.

“Pokoknya sampai kapan pun, kami semua akan mempertahankan empang milik kami hingga titik darah penghabisan”, kata Daeng Beta yang dibenarkan oleh anak-anak almarhum Mando, yang ada di situ antara lain; Asmawati Dg Baji (isteri Daeng Beta), M. Rusli Dg Sila, Saifin Dg Ramma, termasuk Cina Dg Rallang (isteri Mando) almarhum.

Tidak Mau Perlihatkan AJB
Daeng Beta, menantu Mando almarhum yang dipercaya oleh seluruh ahli waris Mando untuk memperjuangkan empang Labba di Sanrobone, menantang Nur Asri, ahli waris Amin Ya’kub, untuk memperlihatkan Akta Jual Beli (AJB) empang antara Jumariah Dg Sangnging (isteri H. Zaenal) dengan Nur Asri (ahli waris Amin Ya’kub) jika memang empang itu sudah dijual oleh Jumariah kepada Nur Asri. “Kalau memang Nur Asri, anaknya Amin Ya’kub, mengaku telah membeli empang itu dari Zaenal, kasi muncul AJB-nya supaya kita lihat semua,” kata Dg Beta, setelah diperiksa di Polsek Mapsu.

Sebaliknya Yasser S Wahab, pengacara dari PERADI yang ditunjuk Nur Asri, ahli waris Amin Ya’kub dalam perkara empang Labba di Sanrobone itu, bersikeras tidak mau memperlihatkan AJB yang dituntut Daeng Beta.

Ketika ditemui di sebuah warkop di bilangan Tamalate, Yasser keberatan memperlihatkan AJB tersebut. “Maaf, Saya tidak bisa memperlihatkan AJB yang bapak minta. Itu rahasia klien Saya, dan juga senjata Saya. AJB itu baru bisa Saya munculkan hanya di pengadilan. Bapak tidak boleh memaksa Saya. Ini hak Saya,” kata Yasser. “Jadi kalau ahli waris Mando mau melihat AJB itu, silakan menggugat di pengadilan,” tantangnya.

Bahwa Dg Beta terpaksa berurusan dengan polisi terkait dengan persoalan empang itu, Yasser mengatakan, Dg Beta diperiksa oleh Polsek Mapsu karena melakukan pengrusakan dan pencurian di empang. Yasser mengaku, dia yang melaporkan Dg Beta ke Polsek Mapsu.

“Dg Beta melakukan itu, kan di dalam empangnya sendiri. Mengapa Anda laporkan?”, tanya wartawan.
“Empang itu milik klien Saya, karena sudah dibeli,” jawab Yasser.
“Mana buktinya bahwa klien Anda yang membeli empang itu?”
“Ada buktinya. Kami punya AJB,” jawab Yasser.
“Makanya perlihatkan AJB-nya aslinya sebagai bukti bahwa klien Anda sudah membeli empang itu.”
“Ada AJBnya. Pokoknya ada,” kata Yasser.
“AJB itulah yang ingin Kami lihat bahwa klien Anda memang pembeli empang milik Mando almarhum.”
“Wah cara bapak bertanya seperti penyidik. Tidak boleh begitu. Anda kan wartawan, bukan penyidik,” kata Yasser kelihatan gelisah.
“Itu penilaian Anda sendiri. Memang begitu cara wartawan mengajukan pertanyaan untuk mencari kebenaran.”
“Ya tapi Saya tetap tidak akan memperlihatkan AJB itu, kecuali di pengadilan,” jawab Yasser. “Daeng Beta dan ahli waris Mando tidak mau ke pengadilan. Mereka hanya minta bukti.”
“Ya kalau mereka minta bukti, akan Saya keluarkan bukti itu di pengadilan,” kata Yasser.
“Dalam rangka mencari kebenaran dan penegakan hukum, tidak semua perkara harus berakhir di pengadilan. Kalau Anda mau memperlihatkan AJB, persoalan ini selesai sampai di sini. Tidak semua perkara harus berakhir di ruang sidang pengadilan. Penegakan hukum justeru lebih bagus apabila dilakukan di luar sidang pengadilan,” kata wartawan.
“Tapi Saya ingin agar kasus ini secepatnya masuk ke pengadilan. Jadi silakan menggugat. Nanti di pengadilan baru Saya munculkan AJB. Itu kemauan klien Saya, jadi Saya harus hargai,” kata Yasser.

Ironisnya, para ahli waris Mando, akan kesulitan bila harus menggugat ke pengadilan. “Dari mana kami punya uang untuk bayar pengacara pak,” kata Amir Dg Beta, dengan mimik pasrah. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *