Kemiskinan Mengantar Irfan Jadi Pak Ogah

 

Aksi Pak Ogah di Makassar (foto dasriani)
Aksi Pak Ogah di Makassar (foto dasriani)

Makassar – Anak  seusia Irfan  (14 tahun), seharusnya sudah ceriah dan bercanda bersama teman-temannya di jenjang pendidikan formal. Tetapi dahsyatnya kemiskinan yang mendera keluargnya, sehingga dia terpaksa memilih jadi pak ogah di pinggir jalan, terutama di ruas Jl. Urif Sumihardjo sekitar kantor Gubernur Sulsel,  mengatur arus lalu lintas di tengah kemacetan yang parah dan prilaku  pengendara yang ugal-ugalan.

        Fenomena menjamurnya pak ogah di setiap jalan di Kota Makassar itu merupakan hal  biasa dipandang oleh mata telanjang. Keberadaan mereka itu  hampir dijumpai  di setiap jalur jalan protokol, seperti Jalan AP Pettarani, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Sultan Alauddin, Jalan Veteran Selatan, Veteran Utara serta beberapa titik-titik lainnya.

        Di Jalan Urip Sumoharjo, terdapat seorang bocah cilik berumur 14 tahun  bernama Irfan. Dia bekerja di pembatas arah jalan yang biasanya tempat memutar balik kendaraan dari arah yang satu kearah yang berlawanan, tepatnya di depan Masjid Baiturrahman. Anak ke-2 dari tiga bersaudara ini rela menjadi pak ogah cilik demi membantu kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

       Saat ditemui Sabtu (24/10) Irfan berkata bahwa dia belum pernah sekolah mulai dari SD sampai saat ini, begitupun dengan kakak dan adiknya. Mereka tidak pernah bersekolah dikarenakan keadaan ekonomi yang lemah,  sehingga kedua orang tuanya tidak mampu membiayai  kebutuhan sekolah mereka. Oleh karena itu, dia lebih memilih bekerja sebagai pak ogah karena saat ini ayahnya hanyalah seorang kuli bangunan yang mendapat penghasilan tak seberapa. Sedangkan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tukang cuci pakaian.

Irfan menggeluti pekerjaan ini baru beberapa bulan. Dia bekerja setiap hari namun waktu untuk bekerja hanya sebentar saja dibandingkan dengan pak ogah lainnya. Pak ogah cilik ini mulai bekerja sesudah waktu dzuhur setelah ia selesai membantu ibunya di rumah hingga selesai azhar.

 Tapi kadang-kadang ia juga bekerja sampai menjelang magrib jika kendaraan masih banyak yang berlalu lalang. Dalam satu hari ia hanya mendapat Rp 20.000 atau bahkan kurang dari itu. Penghasilannya tergantung dari banyaknya kendaraan yang lewat serta dari pemberian pengendara secara  sukarela yang memberikan uang mulai dari Rp 500 hingga Rp 2.000. Bahkan ada saja yang tidak mau membayar tapi hal itu sudahlah biasa terjadi bagi Irfan.

Penilaian masyaraka tentang keberadaan pak ogah seperti di kota Makassar ini memilki pandangan yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang beranggapan bahwa keberadaan pak ogah sangatlah membantu para pengendara yang hendak menyeberang atau yang hendak berputar arah. Bukan hanya itu, mereka juga mengurangi kecelakaan dan kemacetan karena kurangnya polisi lalu lintas yang bertugas ucap Erwin salah seorang pengendara sepeda motor yang melintasi daerah tersebut. Namun ada juga masyarakat yang beranggapan trbalik mengenai hal itu. (dasriani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *