Komplek Makam Kuno Penyebar Islam di Sanrobone, bisa jadi Obyek Wisata

Pintu gerbang menuju komplek makam kuno Datuk Mahkota Pagaruyung. (foto uka/rakyatbersatu)
Pintu gerbang menuju komplek makam kuno Datuk Mahkota Pagaruyung. (foto uka/rakyatbersatu)

Di DUSUN Bontoa, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar – sekitar 10 kilometer dari Patalasang, Ibu Kota, terdapat komplek pemakaman kuno yang diperkirakan sudah ada pada zaman berdirinya Kerajaan Sanrobone pada Abad ke- 15.

Di komplek makam kuno ini terdapat puluhan – bahkan mungkin ratusan makam yang berlumut dan tertimbun karena tak terurus. Menurut orang-orang tau di Desa Sanrobone, kuburan-kuburan tersebut kemungkinan besar adalah kuburan para punggawa dan prajurit Kerajaan Sanrobone yang gugur mempertahankan Benteng Sanrobone dalam pertempuran melawan serbuan tentara Portugis dan Belanda yang datang menyerang untuk merebut dan menguasai wilayah Kerajaan Sanrobone.

Perkiraan tersebut mungkin ada benarnya, karena puluhan atau ratusan kuburan yang memanjang dari Timur ke Barat, kira-kira satu kilometer dari Dusun Bontoa ke Dusun Lau, merupakan jajaran Benteng Kerajaan Sanrobone. Menurut catatan sejarah, Kerajaan Sanrobone satu zaman dengan Kerajaan Tallo. Kedua kerajaan ini lebih dahulu berdiri sebelum Kerajaan Gowa antara Abad ke- 14 – 16.

Inilah dua makam kuno di Sansorobone.(foto uka/rakyatbersatu)
Inilah dua makam kuno di Sansorobone.(foto uka/rakyatbersatu)

Di komplek makam kuno ini, terdapat dua makam yang berdampingan tampak lebih terawat dibandingkan dengan makam-makam lainnya. Kedua makam tersebut jauh lebih besar karena “dibungkus’ dengan bangunan tembok. Di makam sebelah Utara, terkubur jazad salahseorang ulama yang yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, datang ke Sanrobone untuk menyebarkan ajaran Islam. Nama Ulama ini diketahui bernama; Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung, Th. 1010 H/1589 M, karena jelas tertulis di batu nisan kuburan tersebut.

Makam lain yang berada di sebelah makam yang pertama, juga berukuran besar. Jelas makam ini mengandung jazad seorang wanita, karena di batu nisan makam tersebut tertulis: Siti Mohana, Isteri Datuk Mahkota Sultan Mahmoed Iskandar.  Kedua makam kuno ini di atasnya diberi atap seng yang sudah mulai hancur.

Hanya kedua kuburan ini yang kelihatannya pernah mendapat perawatan, sedangkan kuburan-kuburan lainnya yang berada di dalam komplek makam ini, sama sekali belum pernah dirawat. Kuburan-kuburan tersebut dibiarkan berlumut, bahkan banyak yang tertimbun tanah dan pasir. Dari sisa-sisa batu karang yang masih kelihatan, dan diperjelas dengan keterangan penduduk setempat, sangat jelas bahwa komplek makam ini dahulu kala pada zaman Kerajaan Sanrobone adalah pantai atau tepi laut. Sekarang, tepi laut yang dimaksud, sudah menjadi daerah persawahan dan empang, sedangkan laut yang sesungguhnya masih terdapat belasan kilometer ke arah Barat Kecamatan Sanrobone. Sanrobone sendiri adalah daerah pesisir yang terletak di antara pantai Galesong, Takalar dengan pantai Barombong, Gowa.

Untuk sampai ke komplek makam kuno ini, Anda bisa masuk dari poros Gowa – Takalar, persisnya di daerah Limbung atau pasar Patalasang, belok ke Barat, kira-kira berjarak 5 kilometer dari poros jalan raya.

Tiba di Dusun Bontoa, ada pintu gerbang yang diatas palangnya tertulis Komplek Makam Datuk Mahkota Pagaruyung. Dari pintu gerbang ke makam tersebut, kira-kira hanya berjarak 500 meter, melalui pematang sawah penduduk yang bisa ditempuh dengan jalan kaki atau dilalui dengan sepeda motor.

Apabila Pemkab Takalar memberi sedikit perhatian khusus ke komplek makam kuno ini, keberadaan makam kuno ini bisa dijadikan salahsatu obyek wisata sejarah dan budaya yang potensial bisa dijual, baik kepada wisatawan mancanegara atau kepada wisatawan nusantara, terutama kepada orang-orang dari Malaysia dan Melayu. Juga bisa menjadi obyek penelitian sejarah dan budaya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, misalnya; tentang penelusuran jejak-jejak sejarah dan budaya bangsa, khususnya Suku Makassar yang sejak zaman kerajaan dahulu kala, sudah terkenal sudah menjalin hubungan yang sangat luas, baik dengan kerajaan-kerajaan tua di Nusantara maupun dengan dunia internasional.

Sayang sekali, keberadaan makam kuno ini belum pernah mendapat perhatian khusus dari Pemkab Takalar  selama ini. (Usamah Kadir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *