LP Kelas I Makassar Kecolongan Napi Kabur belum Tertangkap

kaburMAKASSAR, RBC – Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Makassar, kecolongan. Usman, seorang narapidana (napi) berhasil kabur. Kabarnya, karena sehari-hari Ia mendapat “hak istimewa” dari Kalapas. Kejadiannya, Selasa malam 14 April 2015. Sampai hari ini, petugas belum berhasil menangkapnya kembali.

Sulistiyadi,  Kepala Keamanan LP, menjelaskan, peristiwa kaburnya Usman sudah dilaporkan ke Mapolres Gowa dan Mapolrestabes Makassar. Kaburnya napi ini merupakan blunder bagai para petugas keamanan di LP tersebut. Karena itu, Kalapas sudah mengambil tindakan. Sedikitnya 8 personil keamanan, antara lain; Daeng Lewa, Sugali, dan Sukur, yang bertugas jaga malam pada malam kaburnya Usman, sudah diberikan sanksi administratif. Sanksi lainnya, kedelapan petugas ini diperintahkan mengejar Usman sampai tertangkap.

Jika mereka tidak berhasil menangkap Usman dan membawanya kembali ke LP, sanksi yang lebih berat sudah menunggu. Tidak menutup kemungkinan, kedelapan personil ini, bisa dipecat dengan tidak hormat.

Mengapa Usman berhasil kabur dari LP yang ketat penjagaannya, ini ceritanya: Selama menjalani hukumannya di LP Makassar, Usman ternyata bukan penghuni biasa di LP itu. Entah apa sebabnya, Usman mendapat pelakuan “istimewa” dari pihak LP.

Sehari-hari Usman diberi tugas khusus jadi tukang parkir untuk mengatur kendaraan di halaman gedung LP. Karena tugasnya itu, Usman leluasa keluar masuk area LP, sepertinya Usman bukan berstatus napi. Hebatnya lagi, setiap hari Usman mendapat kiriman makanan dari luar LP yang diantar khusus oleh tukang bentor bernama Dg Nambung.

Tukang bentor inilah yang bercerita bahwa Usman sering berada di rumahnya dalam keadaan bebas tak berkawal. Usman juga sering menyambangi Cahaya di sekolahnya. Mungkin karena sang ayah selalu datang ke sekolah, akhirnya Cahaya berhenti bersekolah. Atau boleh jadi, Usman yang menyuruh anaknya berhenti sekolah agar dengan mudah dia bisa bertemu di rumah. Bukankah Usman leluasa pulang ke rumahnya – meskipun berstatus napi – karena ada “hak istimewa” yang Ia peroleh dari Kalapas?

Usman divonis  15 tahun penjara oleh Majelis Hakim PN Sungguminasa, Gowa, karena terbukti melakukan perbuatan perkosaan terhadap anak kandungnya sendiri. Usman sempat jadi buronan polisi. Tanggal 24 Desember 2013,  ia tertangkap anggota kepolisian dari Mapolres Gowa.

Proses hukum yang dilakukan polisi, Usman akhirnya berhadapan dengan ‘meja hijau’ sidang pengadilan. Dari pemeriksaan majelis hakim, ternyata Usman terbukti melakukan beberapa perbuatan melanggar hukum lainnya. Yaitu; melakukan tindakan kekerasan terhadap isterinya bernama Mariah (Kasus KDRT), dan terbukti sebagai pecandu narkotika.

Orang yang paling gelisah akibat kaburnya Usman dari LP adalah Daeng Aty. Karena kabarnya, Usman akan membalas dendam kepada Aty, karena dahulu Aty yang melaporkan perbuatan perkosaannya kepada polisi.

Bagaimana Aty tidak gelisah, karena meskipun Usman masih berstatus napi, sewaktu-waktu Usman bisa muncul di rumahnya. Untung Aty sudah melaporkan kegelisahannya kepada Polres Gowa untuk memperoleh penjagaan dari polisi. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *