Mantao Pare, Roti Asal Sulsel Jadi Oleh-oleh Hingga ke Hong Kong

Yasin Thamrin bangga dengan Mantao Parenya (ist)
Yasin Thamrin bangga dengan Mantao Parenya (ist)

Mantao Pare. Begitulah merek kue tradisional ini yang  awalnya dikonsumsi  keluarga besar Heryadi Thamrin di Kota Parepare (sekitar 150 kilometer) utara Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kini, jenis roti tanpa bahan pengawet ini sudah dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari daerah berjuluk Kota Bandar Niaga itu.

Putera dari Heryadi Thamrin, Yasin Thamrin mengemukakan, makanan yang disajikan untuk konsumsi keluarganya sejak tahun 1978 itu bisa dinikmati masyarakat di berbagai kota, termasuk  di pulau Jawa, Kalimantan, Maluku, serta hingga. Bahkan saat ini telah banyak dijadikan oleh para pengunjung untuk dibawa ke Malaysia, Singapura, hingga Hong Kong.

Meskipun Mantao Pare diproduksi di Parepare, demikian lelaki kelahiran Parepare 14 Mei 1980 ini, namun permintaan pelanggan berasal dari semua kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa dan orang tua. Karena rasanya yang enak, empuk, garing dan gurih, padat dan bergizi, maka setiap saat permintaan terus meningkat.

“Mantao ini sangat beda dengan roti umumnya, terutama rasa dan kelezatannya. Roti Mantao ini dapat dimakan langsung, sambil minum teh atau kopi, namun lebih lezat kalau digoreng atau dikukus sebelum dimakan. Bila digoreng mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera untuk memakannya,” kata Yasin.

Mengapa makanan yang rasanya mirip bakpao ini menjadi konsumsi publik? Yasin mengaku, dirinya dan keluarga besarnya di Parepare tentunya tidak menduga jika roti khas yang warnanya putih menyerupai tahu yang dibungkus dalam plastik ini menjadi salah satu daya tarik masyarakat berkunjung ke Parepare. Roti ini fikonsumsi masyarakat umum tahun 2007.

“Bayangkan saja, sekalipun Mantao ini kami buat di Parepare, namun beberapa pelanggang datang khusus untuk membelinya. Dari situ mereka minta agar kami membuka cabang di Makassar,” ujar Yasin, belum lam ini. Dia menambahkan, karena banyaknya permintaan itulah, Yasin dan keluarganya membuka dua cabang sekaligus, yakni di Jalan Pengayoman dan Jalan Sungai Saddang Baru.

Keunikan mantao Pare yang diproduksi Yasin bersama keluarganya di bawah bendera Sinar Terang dapat disajikan bersama nasi atau sebagai pengganti nasi.

“Memang dulu, roti ini disajikan tanpa isi. Namun sekarang sudah bisa divariasi dengan tetap memperhatikan mutu dan kualitas. Selain bisa langsung di makan, juga dikukus, atau digoreng.

Bisa juga dipadukan dnegan beragam isi misalnya daging, ikan, cokelat, keju dan lainnya. Variasi itu memberi dan menambah kenikmatan tersendiri,” tuturnya.

Soal harga jual, sarjana ekonomi Atmajaya Makassar ini menawarkan satu bungkus biasa yang berisi 3 buah Rp4.500. Sedangkan jika digoreng harga 4 biji Rp10.000, 8 biji Rp20.000, serta 15 bungkus Rp70.000.

Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Heryadi Thamrin dan Ny.Nurhayati enggan menyebut omsetnya. Yang pasti, setiap hari rata-rata ratusan pelanggan datang untuk membeli bukan saja untuk dikonsumsi di rumah, melainkan dijadikan oleh-oleh untuk keluarganya di luar Sulawesi Selatan.

Teksturnya lembut dan bagian dalamnya empuk membuat Mantao Pare dapat bertahan lama, apalagi bila disimpan di freezer bisa bertahan hingga satu bulan.

Dalam tradisi china, mantao diracik dengan komposisi tepung terigu, air, gula, susu, dan ragi ini dapat dimakan sendiri, disajikan bersama nasi atau sebagai pengganti nasi.(din pattisahusiwa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *