Masjid Baitul Maqdis Sanrobone Lebih Tua dari Masjid Katangka

Masjid 'Baitul Maqdis' di Sanrobone, Takalar, lebih tua dari Masjid Katangka, Gowa, dan lebih besar dan megah serta halamannya lebih luas. (foto uka/RBC)
Masjid ‘Baitul Maqdis’ di Sanrobone, Takalar, lebih tua dari Masjid Katangka, Gowa, dan lebih besar dan megah serta halamannya lebih luas. (foto uka/RBC)

BANYAK yang bilang, Masjid Katangka atau yang lebih populer disebut Masjid Syech Jusuf di Kabupaten Gowa adalah Masjid tertua yang ada di kawasan Gowa – Makassar. Ternyata tidak.

Ada Masjid di Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, bernama Masjid ‘Baitul Maqdis’ – sama namanya dengan Masjid Aqsha di Yerusalem – ternyata jauh lebih tua usianya ketimbang Masjid Katangka yang sudah ada sejak Abad ke 18. Masjid ‘Baitul Maqdis’ sudah berdiri di Sanrobone dalam dekade tahun 1500-an.

Masjid ini sepintas berarsitektur sama dengan Masjid Katangka, baik bentuk pintu, jendela, kisi-kisi atau ventilasi, semuanya menggambarkan arsitektur zaman dulu. Tapi dibanding dengan Masjid Katangka, Masjid tua Sanrobone ini jauh lebih besar dan memiliki halaman yang lebih luas. Bagusnya, Masjid tua ini kelihatan terpelihara. Warga yang bermukim di sekitar Masjid atau di desa setempat, rupanya cukup telaten memelihara dan memakmurkan Masjid.

Perhatikan kisi-kisi dinding dan ventilasinya, semuanya masih asli, kecuali lantaiinya sudah diganti dengan marmer masa kini. (foto uka/RBC)
Perhatikan kisi-kisi dinding dan ventilasinya, semuanya masih asli, kecuali lantaiinya sudah diganti dengan marmer masa kini. (foto uka/RBC)

Penulis belum menemukan catatan sejarah, siapa yang pertama mendirikan Masjid ‘Baitul Maqdis’ ini, dan siapa Ulama yang pernah menjadi pelopor penyebar ajaran Islam di Sanrobone.

Namun, jika dihubungkan dengan komplek makam kuno yang penulis datangi di Dusun Bontoa (sudah dimuat di portal ini sebelumnya), kemungkinan besar Masjid tua ini dibangun oleh Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung (almarhum) yang kuburannya berada di dalam komplek makam kuno di Dusun Bontoa.

Sekali lagi, pasti cukup banyak catatan-catatan sejarah dan jejak-jejak peninggalan masa lalu terdapat di Sanrobone, sebab di sana dulu berdiri kerajaan besasr yang disebut Kerajaan Sanrobone, ada Benteng Sanrobone, ada Pelabuhan Sanrobone, dan ada Masjid tua Sanrobone.

Sayangnya, pemimpin-pemimpin Pemda Takalar dari masa ke masa, tidak satu pun yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya masa lalu yang banyak mengandung ajaran-ajaran bernilai luhur, sehingga jejak-jejak peninggalan sejarah dan budaya masa lalu tersebut, tidak tergali. Bahkan, jika dibiarkan, jejak-jejak tersebut akan punah dan terhapus oleh ‘tapak-tapak kaki’ masa kini yang lebih banyak meninggalkan jejak-jejak kemudratan ketimbang kebaikan. (Usamah Kadir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *