Masossor Manurung Pertemukan Kerajaan Mamuju Dan Kerajaan Bali

Acara tersebut dihadiri Maradika (Raja) Mamuju H. Andi Maksum Dai, Raja Badung Ke 9 Ide cokordo Ratu Jambe pemecutan, Bupati Mamuju Drs. H. Suhardi Duka. MM, Pemangku Adat Gala’gar pitu, Sekda Kab. Mamuju Drs. Daud Yahya, Kapolres Mamuju dan seluruh Masyarakat Mamuju.
Acara ini dihadiri Maradika (Raja) Mamuju H. Andi Maksum Dai, Raja Badung Ke 9 Ide Cokordo Ratu Jambe Pemecutan, Bupati Mamuju Drs. H. Suhardi Duka. MM, Pemangku Adat Gala’gar pitu, Sekda Kab. Mamuju Drs. Daud Yahya, Kapolres Mamuju dan warga Mamuju.

Mamuju (rakyatbersatu.com)- Rumah Adat Mamuju, tempat berlangsungya  upacara pencucian keris pusaka bernama Manurung, prosesi itu di sebut Masossor Manurung atau pencucian keris dengan air suci, keris pusaka yang dikeramatkan oleh masyarakat Mamuju karena dapat membawa berkah atau sebaliknya, tak hanya itu sarung pusaka Manurung saat ini diyakini masih berada di Bali,  uniknya masing – masing kerajaan pun punya cara sendiri untuk menghormati prosesi tersebut.

Dalam prosesi yang berlangsung, Kamis, 3 September 2015  tersebut melibatkan tokoh-tokoh adat Mamuju sebagai pewarisnya, serta ikut melibatkan tokoh-tokoh adat bali yang berada di daerah Mamuju,  karena keterkaitan sejarah pencucian keris pusaka itu telah mempertemukan antara keris serta sarung keris, untuk mengenang pertautan kedua kerajaan Mamuju dan Kerajaan Bali.
Acara tersebut dihadiri Maradika (Raja) Mamuju H. Andi Maksum Dai, Raja Badung Ke 9 Ide cokordo Ratu Jambe pemecutan, Bupati Mamuju Drs. H. Suhardi Duka. MM, Pemangku Adat Gala’gar pitu, Sekda Kab. Mamuju Drs. Daud Yahya, Kapolres Mamuju dan seluruh Masyarakat Mamuju.
Disela- sela acara Bupati Mamuju H. Suhardi Duka mengatakan Masossor Manurung adalah salah satu upaya menghormati pusaka leluhur sekaligus mengimplementasikan nilai – nilai budaya masyarakat mamuju serta melestarikannya , harus disadari bahwa masyarakat Mamuju dan kerajaan Bali sejak dahulu memiliki ikatan yang sangat erat,  memiliki kekerabatan juga dibuktikan dengan Manurung atau pusaka adat.
Lanjut, diketahui masyarakat mamuju yang terbuka bisa mengimplementasikan, mengkultrasikan nilai – nilai budaya nusantara, masyarakat mamuju menyambut baik saudara- saudara masyarakat Bali yang berada di Mamuju dengan baik  serta mampu bekerja sama dengan Pemerintah.
“ Di dalam  mengembangkan nilai kultural suatu daerah yang kehilangan nilai – nilai kultural dan identitas maka daerah itu akan kehilangan kepribadian, kalau suatu masyarakat tidak memiliki kepribadian maka ciri khas dan arah pembangunan daerah itu juga akan tidak mendapatkan arah yang baik,  olehnya itu kita selalu mengawinkan antara harapan masyarakat , budaya masyarakat dengan pembangunan yang laksanakan di Kabupaten Mamuju”  Pungkasnya.
Selain itu Raja Badung Bali ke 9 juga menyampaikan, bahwa pusaka ini diyakini akan memberikan berkah, rasa persatuan  dan kesatuan. toleransi dari semua masyarakat yang ada disekitarnya, di Bali rutin dilakukan 7 bulan kalender atau 6 bulan Bali, di Mamuju 2 atau 1 tahun sekali dan itu tidak terlepas dari  situasi darah- darah yang bersangkutan, diketahui  Hubungan Pemerintah dan Kerajaan tentu sangat erat kalau di Bali semua Kabupaten di Bali adalah bekas Kerajaan, ada Kerajaan Badung tentu ada Kabupaten Badung, ada Kerajaan Mamuju tentu ada Kabupaten Mamuju,  ini adalah ikatan benang sutra yang tidak mungkin bisa terputuskan. (hms/ Lisa Sari Dewi Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *