Masyarakat Diingatkan Jangan Bergabung ke GAFATAR

Kabag TU Kanwil Kemenag Sultra, H. Hasan Nuri, SH.M.HI,
Kabag TU Kanwil Kemenag Sultra, H. Hasan Nuri, SH.M.HI,

Sultra, RBC – Ormas Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara yang didirikan tanggal 21 Januari 201, diduga memiliki faham yang sama dengan aliran Al Qiyadah Al-Islamiyah bentukan Ahmed Musadeq di Bogor, Jawa Barat.

Gafatar yang diketuai Mahful M. Tumarung tidak mengakui Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul Allah Swt. Sama dengan paham Al Qiyadah. Bahkan, Ahmed Musadeq mengangkat dirinya sendiri menjadi nabi. Alhamdulillah, Al Qiyadah sudah dibubarkan pemerintah, dan Ahmed sudah bertaubat mengakui kekeliruannya serta kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

Tentang bahaya yang akan ditimbulkan oleh Gafatar, maka pihak Kanwil Kemenag Sultra sudah mengeluarkan seruan kepada seluruh Umat Islam di Sulawesi Tenggara agar tidak terpengaruh dan terprovokasi oleh faham Gafatar, karena dikhawatirkan  yang dapat menimbulkan pendangkalan iman, bahkan peniadaan aqidah Islam.

Sebelum dikenal sebagai kelompok penganut paham Islam yang sesat, dahulu Gafatar hanya merupakan komunitas pengganti “Komar” (Komunitas Millah Abraham) sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang sudah lama dibubarkan pemerintah.

Ajaran Gafatar menyesatkan, menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena Gafatar menghilangkan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Kewajiban membayar Zakat, dan kewajiban menunaikan Ibadah Haji bagi yang mampu, juga dianggap bukan sebagai ibadah yang wajib dilaksanakan.

“Puasa Ramadhan, Zakat dan berhaji, dianggapnya hanya pemborosan biaya. Nauuzu billah min zaalik,” kata Kabag TU Kanwil Kemenag Sultra, H. Hasan Nuri, SH.M.HI, Rabu (25/3) di selah acara pengukuhan Lembaga KUA Napano Kusambi sebagai KUA defenitif di Kab. Muna Barat. “Parahnya, karena mereka juga tidak mengakui Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir, tidak mewajibkan umat Islam melaksanakan sholat Jum’at serta anak-anak yang belum balig (17 tahun) dilarang menyentuh Al-Qur’an,” jelas Hasan Nuri.

Saat ditanya mengenai aktivitas Gafatar di Sultra, khususnya di Kab. Konawe Utara. dan Kota Kendari, Hasan Nuri menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait, termasuk Badan Intelijen Daerah (Binda), Kejaksaan dan Polda untuk terus melakukan pengawasan dan pemantauan yang lebih mendalam terhadap segenap aktifitas ormas Gafatar di daerah ini, karena diyakini faham yang dianut oleh Gafatar, adalah sesat. Gafatar pertama kali ditemukan di daerah Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Todolaiyo, Kec. Oheo, Kab. Konawe Utara,.

Dalam menyebarkan keyakinannya, para pengurus Gafatar memberikan bantuan, khususnya alat-alat pertanian, pupuk dan bibit secara gratis kepada para petani di Konawe Utarat untuk menarik simpati warganya, sehingga Gafatar saat ini sudah merambah di beberapa daerah di antaranya Kota Kendari, Konawe Selatan dan Bau-Bau.

Pihak Kemenag Sultra sendiri sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan unsur terkait membahas keberadaan Gafatar. Dari hasil pertemuan tersebut, direkomendasikan agar para pengurus dan anggota Gafatar di daerah ini segera menghentikan penyebaran keyakinannya, dan menghimbau kepada segenap elemen masyarakat dan pemerintah, serta tokoh Agama dan masyarakat agar mengawasi dan membatasi ruang gerak Gafatar, ungkap Hasan Nuri.

Dia menambahkan, di beberapa daerah, MUI setempat seperti Aceh, Halmahera, Gorontalo, Mojokerto, dan Lembata, NTT sudah menyatakan bahwa faham keagamaan Gafatar telah dinyatakan membawa kesesatan yang bisa mendangkalkan dan merusak tatanan ketauhidan Umat Islam. (Ode’s)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *