Melihat Patung Pipis Hingga Pembuatan Mobil BMW

Dr dr Anis Irawan Anwar Sp.KK (K
Dr dr Anis Irawan Anwar Sp.KK (K)

SEBANYAK 49 orang dokter spesialis kulit dan kelamin Indonesia berkesempatan mengikuti pertemuan internasional kesehatan kulit dan kelamin yang dipusatkan di Gedung Konferensi Amsterdam Rai, Holland, Belanda.

Selain mengikuti konferensi bertajuk Europa Akademic of Dermato-Venereology, para dokter dari Medan, Palembang, seluruh Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua itu juga berkesempatan melihat Negara-negara Eropa Barat, mulai dari Belanda hingga ke Jerman.

——————————————————————————————   

Berikut catatan perjalanan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar Dr dr Anis Irawan Anwar Sp.KK (K) yang merupakan satu-satunya dokter perwakilan dari Makassar.

——————————————————————————————

PERJALANAN ke negeri kincir angin Belanda ditempuh 24 jam. Dari Makassar ke Jakarta 2 jam dilanjutkan ke Dubai selama 8 jam menempuh jarak 6.700 km.  Setelah transit 2 jam di negara itu, perjalanan dilanjutkan ke Nederland menempuh jarak 5.400 km selama 6 jam.

Sore hari waktu setempat, pesawat Airbus A380 yang mengangkut 540 orang penumpang dari Indonesia mendarat di Bandara Schiphol Belanda.

Setelah mengurus bagasi, rombongan langsung ke tempat kongres untuk melakukan registrasi di Hotel Golden Tulip di Amsterdam.

Kongres Europa Academic Dermato-Venereology yang diikuti ribuan dokter kulit dan kelamin di seluruh dunia itu dilakukan pada hari kedua.

Usai mengikuti pertemuan internasional tersebut,  delegasi Indonesia melanjutkan kunjungan ke sejumlah tempat wisata seperti ke Kota Nelayan Volendam dan  pusat kota Dam Square.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Belgia (Brussel). Di Negara ini, rombongan menyaksikan patung Manneken Pis atau patung anak kecil yang sedang Pipis serta melihat Atomium yakni bangunan monumen yang menyerupai susunan atom yang diperbesar sampai 650.000 kali.

Atomium dibangun tahun 1958 pada saat Brussel menjadi tempat berlangsungnya pameran perdagangan dunia.  Brussel berjarak sekitar 200 km dari Amsterdam, urainya.

Hari berikutnya, rombongan melakukan perjalanan darat menggunakan bus pariwisata menuju kota Harderberg melalui kota Koln yakni kota yang terkenal dengan minyak wangi eu de cologne.

Di pusat kota Koln yakni Dome terdapat gereja yang sangat besar dengan 2 menara klasik yang menjulang tinggi. Keesokan harinya, dilakukan kunjungan ke Kastil Heiderberg yang terletak di atas bukit.

Di Kastil ini terdapat 2 buah guci besar tempat anggur yang bisa menampung 130.000 liter dan 220.000 liter. Guci tersebut merupakan guci tempat anggur terbesar didunia.

Selain itu,  di kastil ini juga terdapat museum apotik, semua bahan bahan pembuatan obat maupun mesin pembuat obat pada zaman dahulu ada di museum ini.

Sore harinya, rombongan ke kota kecil Titisee, sebuah kota yang terletak di pinggir danau Titisee. Kota ini dikelilingi bukit cemara yg sebagian berwarna hitam sehingga disebut Black Forres.

Kota ini juga terkenal dengan jam cucko clock yakni jam yang terbuat dari kayu yang tiap setengah jam tampak burung keluar dan berbunyi.

Meski masih musim gugur, Titisee memiliki suhu udara yang sangat dingin sekitar 5 -10° Celsius. Konon, pada musim dingin tiba, sebagian besar danau Titisee beku.

Esok harinya, rombongan ke puncak Zugspitze menggunakan bus. Perjalanan ke Zugspitze via darat melewati negara Austria, diseluruh perjalanan group setiap toilet stop harus membayar sebesar 50 sen Euro atau sekitar Rp.8000.

Yang istimewa, struk pembayaran toilet dapat dijadikan voucher belanja. Dengan menggunakan kereta gantung, group naik ke puncak gunung Zugspite yang merupakan gunung tertinggi di Jerman.

Gunung ini memiliki ketinggian 2.962 m dengan suhu udara di puncak gunung 0°C. Disini juga terdapat salju abadi atau glietzer. Rombongan kemudian bermalam di Kota Garmisch, sebuah kota kecil di kaki gunung Zugspitze.

Yang menarik, terang Ketua IDI Makassar, selama perjalanan mulai dari Belanda hingga ke Jerman, tidak pernah merasakan jalan rusak atau berlubang.

Menurut pengamatan dokter ahi kulit dan kelamin itu, bentuk jalan di negara-negara Eropa memiliki kemiringan ke sisi tepi sehingga air tidak merendam jalanan dan tidak ada gundukan tanah ditepi jalan.

Setiap saat, ada mobil yang mengikis tanah atau rumput ditepi jalanan sehingga bila ada air tidak terjadi kubangan.

Selama di negeri pusat pengembangan teknologi dunia itu, rombongan juga berkunjung ke stadion sepakbola milik kesebelasan Bayer Munchen, stadion Allians Arena di Kota Munchen.

Kota Munchen ditempuh selama 1,5 jam perjalanan dari Kota Garmisch. Tentu saja, rombongan tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan membeli cinderamata yang dijual di toko resmi yang berada di stadion tersebut.

Dari stadion Allians Arena, perjalanan dilanjutkan ke pusat penjualan mobil BMW dan Mini Coper sambil melihat model terbaru kendaraan tersebut.

Siang harinya, kami mengunjungi camp konsentrasi terbesar Nazi di Dachau dimana masih terlihat sel-sel penjara, bangsal-bangsal tempat penampungan pekerja paksa.

Rombongan juga  mengunjungi tempat kremasi mayat serta ruangan gas untuk membunuh pekerja-pekerja yang sudah tua, cacat atau yang berpenyakit.

Dari Jerman, rombongan para dokter meninggalkan Eropa dan kembali ke tanah air.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *