Naikkan Harga LPG, Pertamina Tindas Rakyat

lpgTanggal 1 Januari 2014 lalu PT Pertamina (Persero) membuat masyarakat Indonesia  kaget bukan kepalang. Saat masyarakat mulai terbiasa menggunakan  gas Elpiji dengan harga yang cukup terjangkau, tiba-tiba perusahaan milik pemerintah ini menaikkan harga jual Elpiji kemasan 12 kg dengan rata-rata kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp 3.959 per kg.

Tindakan Pertamina ini dianggap oleh masyarakat sebagai bentuk penindasan kepada rakyat Indonesia, dan itu  sangat keterlaluan.

“Saat kami dipaksa mengunakan gas LPG kami patuh. Setelah rakyat sudah terbiasa dan senang, tiba-tiba harga LPG dinaikkan. Apa ini bukan penindasan kepada rakyat, ” ujar Ibu Johana, warga Bogor.

Sejumlah anggota DPR RI juga terkejut atas tindakan sepihak Pertamina.Bahkan  Pertamina tidak melakukan koordinasi dengan DPR sama sekali dalam memutuskan kenaikan harga LPG tersebut.. Kerena itulah Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso geram, dan menganggap keputusan Pertamina tersebut kurang ajar karena dilakukan saat anggota DPR sedang reses.

“Kenaikan LPG sebuah keputusan yang kurang ajar. Karena naik saat kami sedang reses. Seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang baik,” kata Priyo di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu, 4 Januari 2014.

Menurut Priyo ada yang tidak beres di Pertamina. Karena itu dia mengusulkan perusahaan tersebut segera diaudit untuk mengetahui apa benar Pertamina merugi.
“Ada alasan selama ini pemasukan Pertamina turun sekian triliun. Makanya perlu kita diaudit,” usulnya.

Anggota Komisi VI DPR RI Irmadi Lubis berpendapat bahwa pemerintah telah menjebak rakyatnya sendiri, melalui kebijakan menaikkan harga Elpigi 12 Kg.
“Ini sama artinya menjebak rakyatnya sendiri,” ujar Irmadi Lubis.

Sementara itu, Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat akan memanggil Pertamina usai reses untuk menindaklanjuti keberatan masyarakat atas kebijakan Pertamina yang menaikan harga LPG 12 kilogram secara drastis.

Ketua Komisi VII Sutan Bhatoegana di Jakarta mengatakan, Pertamina sebenarnya memang berhak menaikan harga LPG 12 kilogram karena memang tengah merugi. Namun, dia meminta agar Pertamina juga memperhatikan nasib masyarakat.
“Kami hanya bisa meminta Pertamina nantinya di Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII untuk juga harus memikirkan masyarakat agar tidak terlalu terbebani,” ujar Sutan.

Pihak Istanapun menyikapi keluhan masyarakat atas naiknya LPG. Presiden SBY sudah meminta Wakil Presiden Boediono dan Menteri Perekonomian Hatta Rajasa untuk memanggil  Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan dan menjelaskan kepada masyarakat berkaitan dengan adanya kenaikan harga gas elpiji 12 kg.

Sebelumnya Hatta meminta  Dirut Pertamina Karen Agustiawan untuk tetap menjaga stok elpiji 3 kg tetap aman atau tidak langka setelah adanya kenaikan harga gas elpiji 12 kg.

“Urusan kenaikan harga elpiji 12 kg memang sudah menjadi wewenang Pertamina, sedangkan gas elpiji 3 kg yang masih disubsidi negara, tetap harus melalui persetujuan pemerintah,” kata Hatta.

Hatta Rajasa mengaku sudah menelepon Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Direktur Pertamina Karen Agustiawan untuk meminta penundaan kenaikan harga elpiji 12 kg, yang dinilai kenaikan tersebut terkesan buru-buru.

Namun Jawaban yang diterima dari Dirut pertamina bahwa kenaikan gas elpiji tidak dapat ditunda lagi. Karena sudah menjadi keputusan rapat umum pemegang saham (RUPS) mengenai awal Januari 2014 Gas elpiji ukuran 12 kg harus sudah naik lantaran sudah disetujui kantor BUMN dan menjadi temuan BPK.

Wakil Menteri keuangan Bambang Brodjonegoro menyayangkan, harga kenaikan gas LPG bergerak liar. Ia menilai Pertamina sebagai pihak yang menaikan harga jual LPG bertanggung jawab memberikan kepastian harga kepada masyarakat.

Menurut bambang, Pertamina harus mengawasi perubahan harga dari tingkat agen ke tingkat pengecer. Kalau memang ada beban pengiriman yang harus diperhitungkan oleh pengecer, hal itu harus diperhitungkan dalam kenaikan harga yang ditetapkan Pertamina.

Berdampak Luas
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai bahwa pemerintah khususnya Pertamina sangat gegabah dalam menentukan kenaikan harga LPG tersebut.Karena HIPMI dengan tegas menolak kenaikan LPG ini.

“ Pertamina kurang cermat dalam memperhitungkan dampak kenaikan harga jual LPG. Dari tinjauan kami di lapangan, kenaikan harga LPG bukan lagi di kisaran 67 persen tapi sudah lebih dari 100 persen,” papar Ketua Umum BPP HIPMI Raja Sapta Oktohari.

Di level pengecer, Lanjut Okto, harga LPG saat ini sudah tembus di atas harga Rp150.000 untuk 12 kg, dari yang awalnya berada di kisaran Rp 75.000,-. “ Jadi kenaikan harga LPG saat ini menjadi variatif. Bahkan anggota kami di Papua melaporkan kalau harga LPG 12 kg disana sudah menyentuh harga Rp 300 ribu-an. Artinya Pertamina tidak bisa memastikan pembentukan harga baru di level eceran,”lanjutnya.

Menurut Okto, dampak dari kenaikan harga LPG sangat luas dan mempengaruhi harga-harga komoditas yang lain. Dia memperkirakan akan ada kenaikan sebesar 10-20 persen untuk komoditas yang lain. “ LPG termasuk bahan baku bagi bisnis makanan. Porsinya sekitar 10 persen dari total produksi. Jika pembentukan harga LPG di pasaran sampai 100 persen, ya tentu akan melipatgandakan dari yang 10 persen tersebut,” papar Okto.

Sementara itu, Labor Institute Indonesia atau Institut Pengembangan Kebijakan Alternatif Perburuhan berpendapat kenaikan harga gas Elpiji 12 kg sebesar 68 persen harus segera dibatalkan karena sangat membebani rakyat terutama kalangan pekerja di seluruh Indonesia.

Andy William Sinaga, Koordinator Kampanye Labor Institute Indonesia, mengatakan rakyat Indonesia telah dipaksa menggunakan gas melalui Peraturan Pemerintah No 104 Tahun 2007 tentang konversi penggunaan minyak tanah ke gas.

“Akibat konversi tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia sudah menggunakan gas dan meninggalkan penggunaan minyak tanah,” katanya.

Selain itu, kenaikan gas elpiji dikarenakan kerugian PT Pertamina sebesar Rp 7,73 triliun harus dicermati, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus segera mencermati dan melakukan investigasi kepada pejabat Pertamina.(yd/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *