Noordjannah Djohantini: Saya Tak Pernah Mencari Jabatan

Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Aisyiyah 2015-2020 (ist)
Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Aisyiyah 2015-2020 (ist)

Makassar (Rakyatbersatu). Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang digelar di Makassar sejak 2-7 Agustus 2015 berlangsung dalam suasana yang sangat demokratis, dan sangat menjejukkan. Tak heran jika gelaran lima tahunan Muhammadiyah ini mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat Indonesia.

Gelaran Muktamar ke-47 di Makassar ini juga menorehkan sejarah baru bagi perjalanan organisasi Islam yang dirintis oleh KH Achmad Dachlan ini. Untuk pertamakalinya, pasangan suami istri dipilih secara demokrasi untuk menjadi ketua umum. Haedar Nashir ditetapkan sebagai ketua umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, sementara istrinya, Siti Noordjannah Djohantini dipilih kembali menjadi ketua umum Aisyiyah.

Kepada wartawan di Balai Prajurit Makassar (lokasi Muktamar Aisyiyah), Noordjannah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mencari jabatan. Kalaupun dia terpilih lagi, itu karena takdir. ” Ini takdir. Kami dan keluarga tidak memikirkan ini, kemudian terjadi seperti ini, ” kata Noordjannah, Jumat, 7 Agustus 2015.

Istri Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir ini menegaskan bahwa dia dan suaminya tidak pernah menacari jabatan. Kalaupun posisinya saat ini sudah seperti ini, maka itu adalah amanah kepercayaan pengurus Aisyiyah yang harus diterima dan dijalankan.

Memodernisasi gerakan pencerahan
Sebelumnya, pada jumpa pers pers di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin,
Makassar, Sulsel, Kamis malam PP Muhammadiyah Haerdar NAshir mengatakan akan menjalankan tugas yang diamanakan kepadanya dengan baik.

Haedar mengatakan Muhammadiyah ingin mendorong umat beragama mengembangkan nilai-nilai
toleransi, kemajuan dan perdamaian. Fokus Muhammadiyah tetap di bidang pendidikan, namun
juga akan berperan di bidang politik dalam rangka mengawal kebijakan Pemerintah agar tetap
berpihak kepada rakyat.

Dosen Fisipol UMY ini akan memodernisasi gerakan pencerahan Muhammadiyah sehingga bisa diterima secara universal. “Highlight hasil muktamar akan menjadi acuan kami, akan menjadi visi 2020, yang pertama,
terciptanya transformasi gerakan Muhammadiyah sehingga menjadi lebih maju, modern, profesional
sebagai gerakan Islam yang mengusung misi pencerahan,” kata Haedar

Kedua, dalam lima tahun ke depan, Haedar menjanjikan gerakan pencerahan Muhammadiyah yang
lebih dinamis. Dinamisasi ini juga akan merambah lembaga amal usaha Muhammadiyah.

Ketiga, Haedar ingin Muhammadiyah makin produktif berkontribusi untuk umat, bangsa dan dunia.
Dia mengatakan Muhammadiyah memandang ada tiga konteks masalah besar dalam kehidupan,
yaitu masalah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.

“Tiga problem itu ada titik krusial yang harus diperbaiki bukan hanya oleh Muhammadiyah, tapi juga
bangsa dan Negara,” ujarnya.

“Terakhir, kami akan berjalan secara kolektif kolegial. Inilah yang menjadi ciri khas kepemimpinan
Muhammadiyah dari periode ke periode,” pungkas Haedar. (yd/bbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *