Nurdin Abdullah: Kita Harus Malu Mengimpor Bahan Pangan

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah bersama Muspida saat menghadiri Hari Korpri.
Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah bersama Muspida saat menghadiri Hari Korpri.

Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah berharap semakin banyak daerah yang memberi perhatian terhadap tanaman pangan agar negeri ini bisa mencapai kedaulatan pangan.

‘’Sebagai negara agraris, malu kita menjadi negara pengimpor bahan pangan,’’ kata Nurdin Abdullah saat berbicara dengan Walikota Gunung Sitoli, Nias, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Rabu (4/12).

Menurut Bupati HM Nurdin Abdullah, tidak pantas Indonesia mengimpor bahan pangan sebab lahan kita cukup luas dan tersebar di seluruh nusantara.Karena itu, ia menyambut baik keinginan Walikota Gunung Sitoli bekerjasama mengembangkan talas safira. Selain dapat dikonsumsi menjadi bahan pangan juga bernilai ekonomi tinggi.

‘’Bila semua daerah menanam talas, tentu kita mejadi Negara pengekspor talas terbesar dunia,’’ ujarnya seraya menyebut kebutuhan talas Negara Jepang yang mencapai 360 ribu ton/tahun.

Kebutuhan talas sebanyak itu, selama ini dipasok dari China. Namun berdasarkan hasil penelitian, talas safira Indonesia lebih baik dari talas China yang sudah terkontaminasi pupuk kimia.

Karena itu, Jepang melirik Indonesia sebagai Negara yang bisa memenuhi kebutuhan talas masyarakatnya. Ini merupakan pasar yang baik dan harus dimanfaatkan, ujarnya.

Untuk pengembangan tanaman ini, Bupati berjanji akan membantu Gunung Sitoli, baik dalam pengadaan bibit maupun pemasarannya.

Walikota Gunung Sitoli Martinus Lase menyambut baik keinginan Bantaeng untuk membantu. ‘’Kami sangat senang dan berharap sinergi tersebut bisa secepatnya berjalan,’’ urainya.

Martinus Lase mengatakan, tahap awal pihaknya menyiapkan lahan seluas 400 Ha. Lahan tersebut selama ini menjadi ahan tidur dan untuk menjamin pembibitannya, Pemda Gunung Sitoli menyiapkan areal seluas 3 Ha.

Untuk pembibitan tersebut, Pemda telah menyiapkan dananya. Ia berharap, lahan di Gunung Sitoli cocok untuk jenis tanaman ini sebab kondisinya mirip dengan lahan di Kabupaten Bantaeng.

‘’Wilayah kami juga ada laut, gunung dan dataran,’’ terang Martinus yang berharap tenaga ahli dari Bantaeng bisa melihat langsung kondisi lahan wilayahnya.

‘’Kami sangat antusias dan mudah-mudahan cocok agar masyarakat kami yang berjumlah 128 ribu jiwa bisa meningkat kesejahteraannya,’’ tuturnya berharap.(hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *