Peggy Melati Sukma: Sendiri Lebih Kreatif dan Berani

Peggy Melati Sukma
Peggy Melati Sukma

Di balik musibah perceraian  dengan Wisnu Tjandra – Presdir salah satu bank swasta nasional pada 14 November 2011 silam, terenyata ada berkah melimpah bagi artis serba-bisa Peggy Melati Sukma. Salah satunya, janda kembang kelahiran 13 Juni 1976 ini, tambah kreatif dalam menulis syair bernuansa sasta dan berani mempubikasikannya lewat buku  berjudul “3,5 Luapan Cinta di Air Tenang”. (3,5 LCdAT)

“Mau dibilang tengah menikmati kesendirian, ya boleh-boleh saja. Yang jelas, pasca bercerai resmi medio November dua tahun lebih silam, saya tambah kreatif menulis syair. Dan kini memiliki keberanian menggebu-gebu untuk mempublikasikannya kumpulan syair karyanya  lewat buku-buku,” papar Peggy Melati Sukma kepada RB.Com  pada peluncuran buku syair perdananya di Jakarta, baru-baru ini.

 Peggy dan Sastrawan Remy Sylado

Peggy dan Sastrawan Remy Sylado

Menurut bintang sinetron, film, pembawa acara, penyanyi dan aktivis sosial ini, dalam kesendirian  dan pasca  memutuskan menutup rapat auratnya serta meluncurkan buku “My Life My Hijab” – menulis syair dan buku lalu  mempublikasikannya merupakan amanah. Karena mampu memindahkan pikiran dan merekonstruksi pikran orang lain. “Apalagi buku 3,5 LCdAT ini, jika dibaca secara keseluruhan berkisah tentang cinta dan kerinduan kepada Tuhan Sang Mahacinta bahkan bershalawat kepada Rasulullah SAW. Sementara kalau dibaca terputus – syair per syair, dapat juga bermakna sebagai cinta dan kerinduan pada kekasih. Tentunya, setiap syair bisa bermakna berbeda oleh pembacanya karena mereka tak mesti memiliki rasa yang sama dengan penyairnya,” ujar Peggy yang telah bersiap melansir buku kumpulan syair kedua dan ketiganya bulan Maret dan Mei mendatang, namun enggan menjelaskan makna angka 3,5 di bagian depan judul buku syairnya perdananya. “Biarlah menjadi rahasia saya dan Tuhan,” kilahnya.

Tentang kemungkinan syair-syairnya dilantunkan dan direkam dalam album religi, Peggy – pemilik dua album “Aku Kangen Padamu” lansiran 1998 dan “My Wish” (2000), menyatakan ada rencana ke arah itu. “Kebetulan belakangan ini saya kembali rajin mengasah kepiawaian berolah-vokal. Dan saya sudah punya rencana berkolaborasi dengan budayawan Candra Malik untuk mementaskan karya saya dalam acara musikalisasi syair. Kalau, pementasan itu terealisir tinggal selangkah lagi saya memulai debut ulang di blantika musik nasional dengan melansir album religi jelang Ramadhan mendatang,” harapnya.

Diminta komentar dirilisnya buku  kumpulan syair Peggy, sastrawan kawakan Remy Sylado berkomentar, Peggy merupakan  contoh yang bagus penulis syair atau puisi mewakili generasi sekarang. Sebagai seseorang merdeka  dan menjadi dirinya sendiri, lanjutnya – sikap bathinnya berbeda dengan orang lain menyangkut  rasa keindahan dalam wujud kesenian. “Dia kreatif menulis syair lantaran memiliki kemauan dan kemampuan dalam merangkai kata-kata menjadi rentet-rentet lirik puisi. Sungguh kepintaran atau bakat sebagai anugerah dari Sang Khalik.Lewat karyanya,  Peggy sekaligus menegaskan sumber kreativitas adalah dari Tuhan belaka,” ujar Sastrawan  yang mengawali karir sebagai wartawan  kelahiran Makassar 68 tahun silam yang gemar berpakaian serba putih itu. * (naskah dan foto – ata)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *