Perbaiki Mutu Pendidikan, Penataan dan Pemerataan Guru Diperlukan

guruUntuk memperbaiki mutu pendidikan, diperlukan penataan dan pemerataan guru yang baik. Apabila guru tersebar dengan baik, rasio jumlah guru dan murid akan lebih seimbang.

Dengan kata lain,  satu guru akan menghadapi jumlah murid yang ideal untuk diajarnya sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Apabila murid terlalu sedikit atau terlalu banyak, kelas menjadi tidak efektif dan mutu pembelajaran juga akan menurun.

Pandangan ini mengemuka pada diskusi Konsultasi Publik Penataan dan Pemerataan  Guru yang digelar oleh Pemda Bantaeng bekerjasama Usaid Prioritas sebagai refleksi pendidikan di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Bupati Bantaeng, akhir pekan.

Konsultasi yang dibuka Wakil Bupati H Muhammad Yasin tersebut dihadiri Ketua Dewan Pendidikan H Ahmad Karim, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Syamsul Alam dan sejumlah pimpinan SKPD terkait.

Menurut data, dari 132 SD yang ada di Bantaeng, sebanyak 55 SD kekurangan guru PNS. Kekurangan tersebut mencapai 137 orang, namun 48 sekolah lainnya justru kelebihan guru sebanyak 68 orang.

Jika kelebihan tersebut didistribusi kesekolah yang kekurangan guru, kekurangannya tersisa 69 orang. Namun, jika termasuk guru kelas non PNS, maka jumlah guru di Bantaeng masih berlebih.

Karena itu, Pemda harus mendistribusi kelebihan guru tersebut agar lebih merata, urai Kasubag Perencanaan Program Dinas Pendidikan Drs. Muhammad Ramli.

‘’Setelah dihitung dengan non PNS, kekurangan guru hanya terdapat pada 8 sekolah yaitu 36  guru. Namun terdapat juga kelebihan guru di  85 sekolah lain yaitu 272 orang yang menyebar di seluruh kecamatan. Dengan demikian, jika kelebihan 272  guru didistribusi kesekolah yang kekurangan guru (di 5 kecamatan), maka Bantaeng secara keseluruhan mengalami surplus guru sebanyak 236 orang,’’ ujarnya.

Daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulsel ini  juga terdapat 28 SD dengan jumlah murid per rombel (rombongan belajar) kurang dari 16 anak.

Sepuluh sekolah terdapat di Tompobulu dan lima di Bissappu. Padahal idealnya,  perrombel minimal terdapat 20 anak dan maksimal 32 anak.  Anehnya, 11 dari 28 sekolah yang kekurangan murid tersebut malah kelebihan guru kelas PNS.

Penumpukan guru di satu tempat seperti ini, membuat beberapa guru kekurangan jam mengajar. Padahal sekolah lain sangat membutuhkan jasa mereka.(hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *