Perempuan di Desa Bonto Kenalkan Minyak Kelapa Tanpa Proses Masak

Minyak dari Kelapa (ist)
Minyak dari Kelapa (ist)

Bantaeng.- Kelompok Perempuan di Desa Bonto Jai Kecamatan Bissappu memperkenalkan minyak kelapa murni tanpa proses perebusan (dimasak).

Minyak kelapa tanpa warna (bening) tersebut juga memiliki manfaat ganda sebagai obat berbagai jenis penyakit. Ini memudahkan para ibu rumah tangga memperoleh minyak goreng tanpa harus ke toko.

Nur Ipa, penggagas minyak goreng sederhana yang dapat dibuat sendiri mengatakan hal itu ketika memperkenalkan produknya di Kantor Desa Bonto Jai, Rabu (13/8).

Pengenalan produk tersebut disaksikan Ketua Dharma Wanita Persatuan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM Pemdes) Ny Hj Roslia Bohari, dan pengurus PKK tingkat desa.

Nur Ipa yang juga sekretaris Desa Bonto Jai pada kegiatan yang dilakukan kerjasama Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng mengatakan, cara membuatnya sangat sederhana dan tak perlu repot.

‘’Cukup siapkan kelapa yang sudah diparut sesuai keinginan. Kemudian siapkan sejumlah tempat penampungan yang terbuat dari plastik atau toples tembus pandang agar mudah terlihat,’’ urainya.

Kelapa parut tersebut kemudian ditambah air. Untuk 10 butir kelapa menggunakan 6 liter air kemudian diperas. Setelah itu, endapkan selama 15 – 30 menit agar santan dan air dapat dipisahkan.

Setelah terpisah, keluarkan airnya. Bisa menggunakan alat bantu selang kemudian santan kental yang tertampung didiamkan 8 – 24 jam hingga berbentuk minyak murni.

Di dalam wadah akan terlihat 3 lapis masing-masing lapisan air, minyak dan brondo. Untuk memperoleh minyak murni, lakukan penyaringan berulangkali hingga minyak betul-betul steril dari air

Bila sudah steril, masukkan ke dalam wadah atau kemasan untuk penyimpanan minyak, terang Nur Ipa.

Ketua Dharma Wanita Persatuan BPM Pemdes Ny Hj Roslia Bohari menyambut baik keterampilan di tingkat desa yang dilakukan ibu-ibu Desa Bonto Jai.

Ia berharap, ibu-ibu di desa mengembangkan kreatifitasnya agar tidak terpengaruh oleh perkembangan harga, terutama gejolak harga minyak goreng.

‘’Bila ibu-ibu terampil, tidak perlu terpengaruh dengan kenaikan harga minyak goreng karena kita juga bisa membuat sendiri. Selain lebih aman, juga banyak manfaatnya,’’ terangnya.

Pemda Ikut Mendorong 

 Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bantaeng terus mendorong keterampilan masyarakat, termasuk masyarakat yang berada di desa.

Dorongan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan, atau minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, kata Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPemdes)  H Bohari menanggapi pengembangan keterampilan perempuan desa di Desa Bonto Jai Kecamatan Bissappu, Rabu (13/8).

Menurut mantan Kepala Kesbang Linmas itu, pemanfaatan sumber daya alam disekitar sangat penting. Selain memenuhi kebutuhan, juga dapat menjadi usaha rumah tangga maupun usaha yang berskala besar.

Karena itu, H Bohari yang juga mantan Camat Bissappu berharap, keterampilan di desa tak hanya pembuatan minyak goreng, tetapi juga potensi lain yang dapat digarap.

Ia memberi gambaran potensi rumput laut yang juga dapat dibuat berbagai jenis keterampilan, misalnya dibuat dodol atau jenis usaha lain yang berbahan dasar rumput laut.

Untuk mengembangkan usaha skala rumah tangga tersebut, ibu-ibu atau siapapun di desa yang memiliki keterampilan dapat melaporkan ke Desa atau langsung ke kantor BPM Pemdes.

Ia juga mengatakan, salah satu kekurangan industri skala rumah tangga selama ini adalah kesulitan menjelaskan proses pembuatan dan bahan yang digunakan, padahal pada setiap lomba teknologi tepat guna (TTG), penjelasan tentang produk sangat diperlukan.

Karena itu, ia berjanji bila produk minyak kelapa murni tanpa proses masak ini dapat dijelaskan mulai dari bahan baku hingga proses, pihaknya akan mengikutkan lomba.

Lomba TTG dilakukan setiap tahun dan berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Lomba TTG tahun ini ditetapkan di Provinsi Aceh. Karena itu, bila produk dari Desa Bonto Jai bisa menang pada tingkat provinsi, tentu Bantaeng yang akan mewakili Sulsel ke TTG nasional tersebut, urai H Bohari.

Sebelumnya, Kepala Bidang TTG BPM Pemdes Ahmad Nur mengatakan, TTG tidak berarti dalam bentuk mesin-mesin atau produk yang mahal, tetapi kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam yang berada disekitar kita.

Temuan-temuan di tengah masyarakat tersebut setiap tahun dipamerkan dan bisa dipatenkan. Untuk melakukan pembinaan, ada bidang tersendiri di BPM Pemdes yang bisa melakukan pembinaan.

Ia menilai, produk yang dibuat Perempuan Desa Bonto Jai cukup menarik sebab produknya tidak seperti minyak goreng yang biasa kita lihat berwarna kuning.

Produksi ibu-ibu desa ini justru bening dengan aroma khas tanpa menggunakan bahan kimia. Karena itu, ia berharap minyak kelapa murni ini terus dikembangkan agar dapat menjadi usaha yang menjanjikan, pintanya.(hms)     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *