Polisi Siaga Amankan Demonstrasi Setahun Pemerintahan Jokowi-JK

Ilustrasi. Polisi amankan aksi demontrasi (ist)
Ilustrasi. Polisi amankan aksi demontrasi (ist)

Jakarta (rakyatbersatu.com) – Besok, Selasa (20/10/2015) pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla genap satu tahun. Karena itu sejumlah elemen masyarakat akan melakukan unjuk rasa mengkritisi kebijakan yang dilakukan Jokowi-JK selama setahun ini.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. M Tito Karnavian di Mapolda Metro Jaya, Senin (19/10/2015) mengatakan bahwa informasi yang diterima bahwa ada kelompok masyarakat yang akan mengkritik pemerintah.

“Kita mendengar ada beberapa kelompok yang mengkritik (Jokowi-JK). Saya kira enggak apa-apa sebagai masukan,” ungkap Tito seraya mengharapkan unjukrasa besok berlangsung aman dan tertib.

Demonstrasi ini dimulai pukul 08.00 WIB. Untuk pengamanan aksi, polisi menyiapkan sekitar 900 personel. Aksi ini digelar di Istana, sedang titik kumpulnya di Patung Kuda, kemudian ke DPR/MPR.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi unjukrasa di depan Istana, Senin (19/10) berlangsung ricuh. Demo yang ingin menyuarakan evaluasi satu tahun Joko Widodo-Jusuf Kalla itu malah lebih banyak diwarnai gesekan dan bentrokan antara massa dan aparat keamanan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, saat massa semakin merangsek ke gerbang Istana, kericuhan pun pecah. Aksi saling dorong berbuntut diamankannya salah seorang pendemo.

Masih Tidak Puas.
Sementara itu, hasil survei yang dirilis Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKopi) bertajuk ‘Apa Kata Rakyat Terhadap Satu Tahun Jokowi-JK”, sebagian masyarakat Indonesia menyatakan tidak puas dengan kinerja pemerintah Jokowi-JK. Meski demikian, tingkat kepuasan terhadap Jokowi-JK meningkai dibanding periode survei sebelumnya.

Juru bicara Kedai Kopi, Hendri Satria mengatakn ada 54,7 persen masyarakat tidak puas. Sementara yang puas sebesar 44,3 persen.

Responden tidak puas karena tiga hal utama. Yaitu terkait harga bahan pokok yang tinggi dengan persentase sebesar 35,5 persen, pelemahan nilai tukar rupiah 23,7 persen, serta lambannya pemerintah dalam menangani kabus asap sebesar 11.8 persen. Sisanya, publik merasa tidak puas karena harga BBM yang mahal, susahnya lapangan kerja, kinerja menteri yang tidak bagus, biaya kesehatan yang tidak terjangkau dan lain-lain,” ujar pakar komunikasi politik Universitas Paramadina itu.

Angka kepuasan masyarakat terjadi peningkatan dibanding dengan hasil survei terhadap 450 responden yang dilakukan KedaiKopi pada Mei lalu. Saat itu, 65 persen responden menyatakan tidak puas selama enam bulan pemerintahan Jokowi-JK.

Ada beberapa faktor yang membuat meningkatnya angka kepuasan masyarakat. Yaitu, adanya jaminan dan pelayanan kesehatan gratis sebesar 40,3 persen, pendidikan gratis bagi rakyat miskin 12,5 persen, serta bahan pokok yang terjangkau sebesar 9,7 persen.

Survei terhadap 384 responden di seluruh Indonesia yang dilakukan pada 14-17 September itu memiliki margin error sekitar 5 persen. Survei dilakukan dengan wawancara via telepon melalui metode acak.(bbs/yd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *