Prof AA Kuliah Umum di UNASMAN Polman

UNM, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si
UNM, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si

Polman (rakyatbersatu.com) –  Guru Besar Sosiologi PPs-UNM, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si, panggilan populernya di kalangan mahasiswa Prof.AA, Senin pagi ini , 14 September 2015 akan memberikan kuliah umum selaku dosen  tamu di jajaran civitas akademika Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) Polman Sulawesi Barat.

        Aktifitas akademik profesor asal Bone Sulsel termasuk cukup padat dan sibuk. Jumat 11 September 2015, membawakan orasi ilmiah pada acara wisuda kampus  Akbid Bina Sehat Bone. Beberapa hari sebelumnnya berada di Kaliantan Utara untuk penelitian dinamika masyarakat di wilayah perbatasan.

          Kuliah umum di kampus ini membawakan pokok pikiran bertema, Menata Era Kompleksitas dalam Bingkai Ilmu Pengetahuan.  Pada kertas karya pikirannya itu dikatakan, era kompleksitas adalah kondisi  dimana tatanan meng-ada sebagai pertemuan antara keteraturan dan kekacauan.  “Setiap komponen atau individu memiliki identitas dan otonomi untuk bereaksi dalam proses interkoneksitasnya satu sama lain,” tegas profesor pertama alumni SMA Negeri Mare Bone ini.

         Inilah era kekacauan. Era dimana perubahan pada tatanan tidak terprediksikan, berjalan dalam prinsip non-linearitas. “Di tengah kompleksitas dan kekacauan itu, tatanan, dapat memelihara eksistensinya bila mampu berswatata sedemikian rupa sehingga dapat beradaptasi kreatif dengan perubahan, mampu bersesuai dengan spirit zaman,” tegas mantan Ketua Prodi S2 IPS PPs-UNM ini.

         Penciri era kompleksitas salah satunya adalah budaya. Budaya sebagai penciri jati diri mahasiswa merosot. Hal tersebut terlihat ketika Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan, kemudian kerukunan antar mahasiswa melemah dan ketidak patuhan sosial semakin menjadi-jadi.  

     Adab kita sudah kategori buruk, ibarat kuda liar lepas kandang, kampus yang tidak terprediksikan dan berjalan dalam prinsip non-linearitas.

Kaitannya dunia pendidikan; pertama, penyebab kompleksitas  itu dapat diketahui dengan mereviu, kondisi pendidikan  cenderung mengarah kepada individualistik, kognitif-intelektualistik dan formalistik, berorientasi kekinian, dan mudah terjebak pada budaya sekuler dan materialistik.

  “Kedua,  pembelajaran saat ini kurang bermakna karena cenderung kognitif  dan hafalan, kering dan tidak menarik, serta mengakumulasi fakta dan gagasan, tidak kontekstual,” tandas doktor sosiologi antropologi PPs-Universitas Padjajaran Bandung ini.

         Terjadi parsialisasi ilmu pengetahuan, mengakibatkan pendidikan kurang bermakna, banyak energi dan waktu terbuang percuma tapi kebermanfaatan dan kebermaknaan ilmu yang diajarkan tidak memberikan dampak  berarti. “Akibatnta, terjadi pemisahan apa yang diajarkan di sekolah dengan realita kehidupan,  sehingga pendidikan tidak memiliki karakter dan terkesan paradox,” ungkapnya.

 Sosok Pencerah

        Rektor Unasman, Dra.Hj.Chuduriah Sahabuddin, M.Si didampingi panitia pelaksana kuliah umum, Ahmad al Yakin, S.Ag, M.Pd menjelaskan  peserta kuliah umum berasal dari mahasiswa baru 2015 mahasiswa lama serta dosen dan pegawai kampus.

       Kuliah umum menjadi hal rutin dilaksanakan terutama menyambut mahasiswa baru serta memberi pencerahan bagi civitas akademika kampus menjalani proses pembelajaran setiap saat.

      “Kehadiran Prof AA di tengah civitas akademika kampus Unasman, menjadi semacam sosok pencerah, karena akan memberi inspirasi baru dan membuka serta  menambah wawasan dan pengetahuan para civitas akademika kampus,” tandasnya. (yaya)   

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *