Prof Andi Agustang: Etnik dan Agama Bukan Pemicu Konflik

Prof Agustang saat memberikan paparannya pada Pertemuan Stakholder/Tokoh Masyarakat se-Sulsel, digagas Media Center Provinsi Sulsel  mengusung tema, Mengurai Potensi Konflik di Sulsel, 7-8 Nopember 2014 di Hotel Grand Asia.
Prof Andi Agustang (tengah) saat memberikan paparannya pada Pertemuan Stakholder/Tokoh Masyarakat se-Sulsel,  pada 7-8 November 2014 di Hotel Grand Asia.

Makassar.- Konflik yang kerap muncul dalam pilkada bukan dipicu oleh sentiment etnik dan agama, tetapi lebih dominan karena kepentingan aktor dan elite politik.  Potensi konflik pada Pilkada serentak sesungguhnya lebih besar dari pada potensi pilkada yang diselenggarakan berserakan waktunya.

Demikian ditegaskan Ketua Prodi S3 Sosiologi Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si pada acara Pertemuan Stakholder/Tokoh Masyarakat se-Sulsel, digagas Media Center Provinsi Sulsel mengusung tema, Mengurai Potensi Konflik di Sulsel, 7-8 Nopember 2014 di Hotel Gren Asia.

“Penyebab konflik dalam pilkada sering didorong anggapan subyektif bahwa ada hak-hak terlanggar, ambisi politik berlebihan atau ada tindakan menghalalkan segala cara memenangkan kompetisi politik,” tandas Guru Besar Sosiologi Antropologi UNM ini.

Penyebab lainnya dalam konflik pilkada adalah, mekanisme penyelesaian prilaku pelanggaran hukum dan etika politik kurang adil . “Selain itu juga masih adanya indikasi eforia demokrasi mengarah pada tuntutan kebebasan serba boleh, sehingga lebih menonjolkan kepentingan kelompok daripada kepentingan umum,” tegas doktor sosiologi PPs Universitas Padjajaran Bandung ini.

Ketua Dewan  Editor Jurnal Sosiologi Dialektika Kontemporer PPs-UNM ini mengungkapkan bahwa potensi konflik menjelang pilkada serentak 2015 di Sulsel, berbasis perebutan satu kursi pada tatanan sosial masyarakat yang kompleks. Akibat dari perebutan itu pasangan calon bupati dapat melakukan apa saja demi meraih kemenangan.

Pada sisi lain, aparat keamanan tidak memiliki kekuatan yang cukup mengantisipasi karena tidak proporsionalnya jumlah aparat keamanana dengan massa yang terlibat konflik. Rasio aparat tidak sebanding dengan ketegangan dan potensi konflik yang ada.

Salah seorang panitia pelaksana, Husain Djunaid, SH, MH menambahkan, nara sumber lainnya selama kegiatan dua hari berasal dari, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasil Limpo, Kapolda Sulselbar serta Pangdam VII Wirabuana, tandas politisi PDIP Sulsel ini.

Sedangkan narasumber dari kalangan cendekiawan yakni, Prof.Dr.Armin Arsyad, MA dari UNHAS; Prof.Dr.Hamdan Djuhannis (UIN Alauddin); Perof.Dr.Darmawan Salman, MS, Dr.Darwis, MA serta Prof.Dr.Djamaluddin Jompa, MS (UNHAS), kata mantan legislator Sulsel Pemilu 2004 ini. (ym/rbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *