Prof Andi Agustang: Kemiskinan, Narkoba dan HIV/AIDS Sebuah Lingkaran Setan

andi agustang wwwwRealitas sosial hari ini, persoalan kemiskinan, narkoba dan zat adaptif lainnya serta HIV/AIDS seakan telah menjadi sebuah lingkaran setan yang butuh strategi untuk memutuskannya. Faktor kemiskinan seseorang terkadang jadi pendorong  dan pemicu menjadi kurir atau bandar narkoba.

           Demikian dahsyatnya kemiskinan berperan menstimuli seseorang terjun ke dalam dunia prostitusi yang sangat rentan terjangkit HIV/AIDS.

Demikian penegasan Staf Ahli Biro Bina Napsa dan HIV AIDS Kantor Gubernur Sulsel, Prof Andi Agustang, M.Si, pada acara Pemantapan Up Dating Data Napza dan HIV/AIDS Berbasis Gender, Kemiskinan dan Nilai-Nilai Lokal, Sabtu, 29 Maret di Hotel Grand Town Makassar.

         Pada sisi lain akibat penyalahgunaan Napza tentu memerlukan bias besar kemudian berujung pada keluarga yang pada akhirnya akan jatuh miskin. “Kenyataan sama juga terjadi pada epidemik HIV-AIDS, kemiskinan merupkan akibat pembiayaan kesehatan yang mahal,” tandas Doktor sosiologi antropologi PPs-Universitas Padjajaran Bandung ini.

           “Populasi miskin dalam arena pelayanan kesehatan selalu sulit mendapatkan akses sehingga mereka pada umumnya mengalami komplikasi penyakit akibat Napza dan HIV/AIDS,” tegas profesor pertama dari alumni SMAN Mare Bone ini.

         Tergerusnya nilai-nilai lokal sebagai akibat dominasi nilai-nilai global telah mengubah secara drastis gaya hidup masyarakat dewasa ini. Akibatnya, standar nilai baik dan buruk bagi masyarakat bertransformasi menjadi standar perilaku hedonism. “Budaya hedonisme merupakan driving force berkembangnya perilaku beresiko baik resiko napza maupun resiko HIV & AIDS,” ungkap Guru Besar Sosiologi Antropologi Universitas Negeri Makassar ini.

           Prof Agustang mengatakan bahwa untuk mengakhiri kemiskinan di masyarakat dibutuhkan upaya lintas sektor, yakni pelayanan kesehatan harus pro poor, tidak lagi terkesan menganut prinsip liberalisme kesehatan. Menumbuhkan kembali modal sosial masyarakat seperti kerjasama, gotong royong, solidaritas sehingga kontrol sosial memiliki kekuatan dalam menyaring perilaku menyimpang.

          “Menggunakan gate keeper (tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pemuda/perempuan) dalam menyebarluaskan informasi yang benar di dalam masyarakat. Semua kegiatan pencegahan dan penanggulangan Napza dan HIV-AIDS berorientasi pada standar nilai-nilai lokal yang dianut,” sebut Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM ini.   Selain itu, bantuan modal dan keterampilan serta manajemen usaha bagi populasi beresiko yang miskin baik dalam sasaran individu maupun keluarga (penyalahguna napza dan PSK) dalam rangka alih profesi, tambahnya.

        Sekaitan dengan seluruh tahapan pengelolaan data yang dimulai dari pengumpulan, analisis, penyajian, dan pelaporan sedapat mungkin memperhitungkan aspek kemiskinan dan nilai-nilai lokal, ungkap anggota Dewan Pakar Kerukunan Keluarga Bone Provinsi Sulsel.

        Tahapan pengumpulan data, strategi dapat diarahkan pada penyetelan instrumen pengumpulan data yang berisikan pertanyaan-pertanyaan berkaitan kemiskinan dan nilai-nilai lokal sert tahapan analisis data, strategi analisis sebaiknya menggunakan kemiskinan dan nilai-nilai lokal sebagai perspektif analisis, kata Ketua Dewan Editor Jurnal Ilmih Dialektika Kontemporer diterbitkan S3 Sosiologi PPs-UNM ini.  (ym/rbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *