Prof Andi Agustang: Sulsel Terancam Lost Generation

Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si
Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si

Makassar.RBC.- Data Kementerian Kesehatan RI, sampai September 2014, Sulawesi Selatan menempati urutan ke-8 secara nasional jumlah pengidap HIV/AIDS. Jumlahnya mencapai 6.048 jiwa, dari jumlah itu terdeteksi HIV, 4.314 orang serta AIDS sejumlah 1.734 orang.

         Realitas sosial demikian yang berlangsung setiap saat, menjadikan Sulawesi Selatan terancam akan mengalami kondisi lost generation (generasi terputus). Demikin ditegaskan salah seorang anggota Tim Expert Biro Bina Napza dan HIV/AIDS Provinsi Sulawesi Selatan, Prof.Dr.Andi Agustang. M.Si, di Makassar, Rabu 21 Januari 2015.

        Dikatakan, sekiranya kondisi demikian betul-betul hadir, sangat mengerikan karena proses re-generasi anak-anak bangsa mengalami pemutusan mata rantai. Angka statistik menunjukkan pengidap virus HIV/AIDS ditengah masyarakat semakin meningkat.

         Malah penderita penyakit yang belum ditemukan vaksinnya ini, angkanya mengikuti fenomena gunung es. Penderita yang tercatat secara resmi jumlahnya relatif kecil  kelihatan di permukan, tetapi dibawah permukaan air itu malah angkanya berlipat ganda.kata  Anggota Mediasi Centre Sulsel Bidang Akademisi,  Prof.Dr.Andi Agustang. M.Si.

         Risiko dari hadirnya generasi terputus itu, membawa dampak pada kelanjutan bangsa dan negara. Generasi muda harapan masa depan bangsa yang mengalami pemutusan pergantian generasi akan menjadikan daya saing sumber daya manusia anak bangsa semakin menurun dan melemah.

        Serangan virus HIV/AIDS semakin mengerikan lagi dengan melihat usia anak bangsa yang digerogoti, mayoritas adalah usia-usia produktif. Usia 20-29 tahun sesuai data pemerintah mencapai 18.352 orang serta pada usia 30-39 tahun angkatanya15.890 orang. Secara nasional angka pengidap HIV berjumlah 150.285 sedang pengidap AIDS sebanyak 55.799 orang, tegas salah seorang aggota dewan pakar pengurus wilayah Sulsel Kerukunan Keluarga Bone (KKB) ini. 

        Virus penyakit ini jika sudah masuk dalam tubuh seseorangg lewat cairan tubuh, darah atau hubungan sex, maka penderita tinggal menghitung hari jalan menuju kematian. Masa inkubasi virus mencapai waktu  7 sampai  10 tahun, sehingga seseorang kelihatan kuat dan sehat, tetapi virus HIV yang menggerogoti kekebalan tubuhnya perlahan tetapi pasti menjadikan pengidap  menuju pada proses kematiannya.

         Kompleksitas masalah ini memerlukan  langkah antisipasi yang cerdas guna mereduksi penyebab determinan, sehingga masalah dapat diminimalkan dan bila mungkin dihilangkan sama sekali. Bentuk pemikiran antisipatif dikembangkan  Pemerintah Provinsi Sulsel dalam meningkatkan kualitas  program yang dilakukan adalah melekatkan konsultan (tim pakar) pada setiap SKPD supaya pergerakan SKPD dalam mengelola tupoksinya dan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat semakin baik, ungkap Ketua Prodi  S3 Sosiologi PPs-UNM ini.  (ym/rbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *